Unik Gunung Fuji Alami Pembengkakan hingga 2 Cm Setiap Kali Turun Hujan Lebat - Media Indonesia
Unik Gunung Fuji Alami Pembengkakan hingga 2 Cm Setiap Kali Turun Hujan Lebat
KETIKA permukaan tanah di sekitar gunung berapi mulai naik atau membengkak, hal itu biasanya langsung memicu kekhawatiran. Deformasi tanah seperti ini merupakan salah satu tanda peringatan utama magma sedang bergerak di bawah permukaan dan berpotensi memicu erupsi. Namun, sebuah penelitian terbaru di Gunung Fuji, Jepang, menunjukkan bahwa interpretasi tersebut tidak selalu berlaku.
Para peneliti menemukan permukaan tanah di sekitar gunung paling terkenal di Jepang tersebut mengalami kenaikan hingga dua sentimeter selama peristiwa hujan lebat. Menariknya, fenomena ini terjadi bukan karena aktivitas magmatik, melainkan akibat struktur geologi yang tidak biasa di bawah gunung tersebut.
Penelitian ini dipimpin Shuo Zheng, seorang ahli geodesi hidrologi dari Hong Kong Polytechnic University. Timnya menganalisis data GPS harian dari tahun 2017 hingga 2023 yang dikumpulkan oleh jaringan stasiun pemantau di sekitar Gunung Fuji.
Hasilnya menunjukkan pola kenaikan tanah antara satu hingga dua sentimeter pada dua stasiun GPS yang terletak dalam radius 10 kilometer dari puncak. Ketika tim membandingkan waktu kenaikan tanah tersebut dengan catatan curah hujan, sebuah pola yang jelas terungkap. Tanah naik hampir seketika saat terjadi hujan lebat, dan menyusut kembali dalam waktu satu atau dua hari setelah hujan berhenti.
Penjelasan ilmiah di balik fenomena ini terletak pada struktur internal Gunung Fuji yang unik. Setiap lapisan lava gunung berapi ini dilapisi oleh apa yang disebut ahli geologi sebagai clinker, lapisan batuan kecil yang terfragmentasi akibat permukaan aliran lava mendingin dengan cepat sementara bagian dalamnya masih bergerak. Lapisan ini berfungsi sebagai akuifer alami yang menyimpan air tanah.
Ketika hujan lebat meresap ke dekat puncak, air memenuhi ruang pori di dalam lapisan clinker tersebut. Karena air bersifat tidak dapat dikompresi dan tidak memiliki ruang untuk mengalir ke samping, tanah di atasnya akhirnya terdorong ke atas. Sebaliknya, pola ini berbalik pada jarak 25 hingga 40 kilometer dari puncak, di mana permukaan tanah justru tercatat sedikit menyusut saat hujan lebat.
Bagi pemantauan gunung berapi, variabel waktu deformasi menjadi faktor pembeda yang sangat kritis. Magma yang bergerak di bawah tanah tidak akan berhenti ketika hujan reda, melainkan terus menekan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan seiring akumulasinya.
"Kenaikan akibat hujan dengan mudah berakhir ketika hujan berhenti," kata Kosuke Heki, seorang peneliti yang terlibat dalam studi tersebut. "Tetapi magma memiliki skala waktu yang jauh lebih lama. Itu terus berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan."
Perbedaan durasi ini memberikan alat praktis bagi para pengamat gunung api. Kenaikan tanah yang berumur pendek selama badai dan menghilang setelah cuaca cerah hampir dipastikan merupakan peristiwa hidrologi biasa, bukan ancaman bencana. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Geology ini membuktikan bahwa tanah di sekitar gunung berapi aktif dapat bergeser karena alasan yang sama sekali tidak berkaitan dengan aktivitas magma di bawahnya. (Earth/Z-2)