Air Lelehan Bikin Gletser Antartika Meluncur Lebih Cepat ke Laut - Kompas
KOMPAS.com - Untuk mengamati kondisi yang tidak dapat ditangkap satelit, Profesor Shin Sugiyama dari Hokkaido University dan timnya mengebor lebih dari 550 meter ke dalam Gletser Langhovde menggunakan teknik hot-water jet.
"Menggunakan hot-water jet, kami bisa mengebor ke dalam gletser dengan hati-hati sekaligus cepat, dan mengukur tekanan air tepat di dasarnya," jelas Sugiyama, dikutip SciTechDaily.
Kamera dan sensor tekanan yang diturunkan ke dasar gletser menunjukkan bahwa air dari danau dan kolam di permukaan mengalir melalui retakan hingga mencapai dasar es.
Jalur ini terbentuk lewat proses hydrofracturing, ketika beban air lelehan yang menumpuk mendorong retakan semakin dalam ke tubuh es dan membuka saluran bagi air untuk turun.
Gelombang Panas Tewaskan 5.000 Warga Jerman, Apa Dampak Suhu Ekstrem bagi Indonesia?
Baca juga: Robot Bawah Laut Ungkap 60 Juta Sarang Ikan Raksasa di Antartika
Tekanan Air Angkat dan Percepat Gletser
Begitu mencapai dasar gletser, air tersebut meningkatkan tekanan di bawah es dan sedikit mengangkat gletser dari batuan di bawahnya.
Tekanan air ini mengurangi gesekan antara es dan batuan dasar, sehingga gletser dapat meluncur lebih cepat menuju laut.
"Selama periode pencairan permukaan yang intens, dan sekali lagi setelah hujan langka pada Januari 2022, air lelehan meningkatkan tekanan air di dasar gletser hingga menahan 97 persen berat es di atasnya," kata Sugiyama.
Baca juga: Peneliti Singapura dan Jepang "Sulap" Kecoa Jadi Robot Penyelam
"Gletser terangkat sedikit, dan dengan gesekan yang berkurang, luncurannya di sepanjang dasar gletser bertambah cepat 10 hingga 20 persen."
Perilaku serupa sebelumnya sudah tercatat di gletser-gletser Eropa, Alaska, dan Greenland, namun apakah proses yang sama terjadi di Antartika masih belum dapat dipastikan karena belum pernah diukur langsung di bawah es.
"Ini adalah pengamatan pertama semacam ini di Antartika," ujar Sugiyama.
Baca juga: Robot Bawah Laut Ungkap 60 Juta Sarang Ikan Raksasa di Antartika
Kehidupan Tersembunyi di Bawah Es
Selain data tekanan, kamera di dalam lubang bor juga merekam seekor anemon laut dan beberapa spons bertangkai ramping yang menempel pada sebongkah batu, hidup di lapisan air laut setebal hanya tiga meter yang terkubur di bawah 474 meter es.
Hewan-hewan itu berada beberapa ratus meter melewati titik tempat gletser terpisah dari dasar laut.
"Sangat mengejutkan menemukan makhluk-makhluk berwarna itu menjalani kehidupannya di lingkungan sedingin, sekelam, dan sesempit ini, mengungkap ekosistem tersembunyi di bawah es," kata Sugiyama.
Baca juga: Rahasia Misterius Ikan Es Antartika, Satu-satunya Hewan Berdarah Bening
Dampak yang Lebih Luas
Sugiyama menekankan bahwa temuan ini punya implikasi yang melampaui Gletser Langhovde semata.
"Saat ini, lapisan es Antartika kehilangan massa secara keseluruhan karena jumlah es yang mengalir ke laut melebihi akumulasi salju di daratan. Studi kami menunjukkan bahwa kehilangan es akan meningkat seiring naiknya volume air lelehan di tengah iklim yang memanas, membawa semakin banyak es ke laut. Ini sangat mendesak dan relevan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dataran rendah," pungkasnya.
Sugiyama juga mengingatkan skala ancaman yang dipertaruhkan.
"Lapisan es Antartika menyimpan 90 persen es gletser dunia. Jika benar-benar mencair dan mengalir ke laut, permukaan laut bisa naik sekitar 60 meter."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Studi Ungkap Gelombang Panas Bisa Membuat Tubuh Manusia Menua Lebih Cepat