Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Anime Berita Dunia Internasional Featured Jepang Spesial

    Anime Jepang Mendunia, tetapi Cool Japan Fund Justru Merugi Rp5,4 Triliun - Tribunnews

    7 min read

     


    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia
    Ringkasan Berita:
    • Meski industri anime Jepang mencatat penjualan global lebih dari 6 triliun yen, Cool Japan Fund justru membukukan kerugian kumulatif sekitar 54 miliar yen hingga tahun fiskal 2025 
    • Sejumlah investasi, termasuk WAKUWAKU JAPAN di Indonesia, dinilai gagal mengikuti perubahan industri
    • Pemerintah Jepang kini mengevaluasi kemungkinan membubarkan atau menggabungkan lembaga tersebut

    Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

    TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Industri anime dan konten hiburan Jepang terus mencetak prestasi di pasar internasional. Nilai penjualan konten Jepang di luar negeri kini telah melampaui 6 triliun yen, dengan anime menjadi penyumbang terbesar.

    Namun di sisi lain, lembaga pemerintah yang dibentuk untuk mempromosikan budaya pop Jepang ke luar negeri, Cool Japan Fund, justru mengalami kerugian besar.

    Menurut artikel analisis yang diterbitkan Wedge pada 7 Juli 2026, Cool Japan Fund (Overseas Demand Development Support Organization) membukukan kerugian kumulatif sekitar 54 miliar yen (sekitar Rp5,4 triliun) hingga tahun fiskal 2025. 

    Pemerintah Jepang kini mempertimbangkan untuk membubarkan lembaga tersebut atau menggabungkannya dengan dana investasi pemerintah lainnya.

    Baca juga: Pejabat Polri Dijadwalkan Ikuti Pendidikan dan Pelatihan Forensik Sidik Jari di Jepang Januari 2027

    Anime terus tumbuh

    Berdasarkan survei Human Media mengenai pasar konten Jepang tahun 2024, total penjualan konten Jepang di luar negeri telah mencapai lebih dari 6 triliun yen.

    Sektor anime mencatat pertumbuhan paling pesat dengan kenaikan 26 persen dibanding tahun sebelumnya, sehingga nilai pasar internasasionalnya mencapai sekitar 2,2 triliun yen. 

    Selain anime, pendapatan juga berasal dari film, acara televisi, manga, gim konsol, serta gim ponsel dan PC.

    Ironisnya, ketika anime semakin populer di seluruh dunia, lembaga yang dibentuk untuk mendukung ekspansi budaya Jepang justru gagal menghasilkan keuntungan.

    Investasi bernilai miliaran yen berakhir gagal

    Sejak didirikan, Cool Japan Fund mengelola investasi senilai sekitar 204 miliar yen bersama sektor swasta.

    Beberapa investasi yang kemudian menjadi sorotan antara lain:

    Spiber, perusahaan rintisan pengembang bahan protein sintetis berbasis benang laba-laba, menerima investasi sekitar 14 miliar yen, tetapi kemudian menjalani restrukturisasi.

    ISETAN The Japan Store di Malaysia memperoleh investasi sekitar 970 juta yen, namun akhirnya ditutup.

    Saluran televisi WAKUWAKU JAPAN di Indonesia menerima investasi sekitar 4,4 miliar yen, tetapi akhirnya menghentikan siaran.

    Menurut penulis artikel,  Yasushi Harada,  proyek-proyek tersebut menunjukkan lemahnya pemilihan investasi serta kurang tepatnya strategi bisnis yang dijalankan

    Kasus WAKUWAKU JAPAN disebut sebagai contoh kegagalan membaca perkembangan industri media.

    Saat layanan streaming mulai menjadi pilihan utama masyarakat dunia, proyek tersebut justru mengandalkan siaran televisi satelit yang membutuhkan investasi infrastruktur sangat besar. 

    Akibatnya, biaya operasional membengkak sementara jumlah penonton tidak berkembang sesuai harapan.

    Biaya operasional juga membengkak

    Selain kerugian investasi, biaya operasional lembaga juga sangat tinggi.

    Hingga Februari 2026, akumulasi biaya administrasi mencapai sekitar 23,8 miliar yen, yang meliputi biaya pegawai: 10,1 miliar yen,  riset dan studi: 2,5 miliar yen dansewa kantor dan fasilitas: 2,3 miliar yen.

    Penulis menilai sebagian besar dana justru habis untuk menjalankan organisasi, bukan untuk benar-benar memperluas pasar konten Jepang di luar negeri.

    Hollywood pun gagal diwujudkan

    Artikel tersebut juga menyoroti kegagalan All Nippon Entertainment Works (ANEW), perusahaan yang didukung dana pemerintah untuk mengadaptasi karya-karya Jepang menjadi film Hollywood.

    Meski memperoleh investasi sekitar 2,21 miliar yen, perusahaan itu tidak berhasil menghasilkan satu pun film sebelum akhirnya dibubarkan. 

    Harada menilai pengelolanya kurang memahami karakter industri perfilman yang berbasis proyek, bukan perusahaan permanen dengan biaya operasional tinggi.

    Penulis usulkan strategi berbeda

    Menurut penulis, pemerintah seharusnya lebih fokus pada langkah-langkah yang benar-benar mendukung penyebaran budaya Jepang, seperti memperluas penerjemahan dan sulih suara anime serta drama ke berbagai bahasa;  memperkuat perlindungan hak cipta di luar negeri;
    membantu promosi konten Jepang kepada pelaku industri internasional; serta
    memberikan penghargaan atau insentif langsung kepada sineas Jepang yang meraih prestasi di festival film dunia.

    Dengan cara tersebut, dana publik dinilai akan lebih efektif dibanding membiayai proyek-proyek investasi berskala besar yang berisiko gagal.

    Pemerintah Jepang kini tengah mengevaluasi masa depan Cool Japan Fund sebagai bagian dari peninjauan terhadap efektivitas berbagai dana investasi yang dikelola bersama sektor swasta.

    Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

    Komentar
    Additional JS