Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Koperasi Desa Merah Putih Spesial

    Bangunan KDMP Dikritik Arsitek: Gudang Sebesar Itu Buat Apa? - Kompas

    5 min read

     


    KOMPAS.com - Program pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDPM) kembali menjadi sorotan. Pemerintah sendiri menargetkan pembangunan 80.000 KDMP di seluruh Indonesia.

    Kali ini, kritik datang dari sudut pandang arsitektur yang menilai desain bangunan KDMP belum sepenuhnya mempertimbangkan keberagaman karakter ekonomi desa di Indonesia.

    Yoval Julianto, arsitek dari Dreamlabs Architects, menyebut sebagian besar luas bangunan justru diperuntukkan bagi ruang gudang, sementara area yang digunakan sebagai gerai dan layanan kesehatan hanya mengambil porsi kecil dari keseluruhan bangunan.

    Baca juga: Apa Itu Wisata Keberagaman Kota Depok? Program yang Kini Dihentikan Sementara

    Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pemanfaatan ruang, terutama bagi desa-desa maupun kelurahan yang tidak memiliki aktivitas pertanian sebagai sektor ekonomi utama.

    Duo PDIP di DPR "Cecar" Kepala Bappenas soal Koperasi Merah Putih, Pertanyakan Untung Untuk Rakyat

    "Ruang gerai Kopdes yang sering kita lihat itu hanya sebagian kecil dari bangunannya. Sisanya adalah gudang yang jauh lebih besar dari gerainya," kata Yoval dikutip pada Minggu (12/7/2026).

    "Tidak ada arahan spesifik fungsi dari gudang tersebut, tapi jika dianalisis dari denah ini, terlihat bahwa perancangnya ingin menggambarkan sebuah 'koperasi ideal' di suatu desa," kata dia lagi.

    Baca juga: Ini Biaya Bangun Gedung KDMP Per Meternya

    Kritik Gudang Bangunan KDMP

    Berdasarkan denah bangunan yang dianalisisnya, luas total bangunan KDPM mencapai sekitar 20 x 30 meter atau sekitar 600 meter persegi.

    Namun, ruang yang difungsikan sebagai gerai koperasi hanya berukuran sekitar 6 x 17,5 meter atau sekitar 105 meter persegi. Sementara itu, ruang praktik dokter memiliki luas sekitar 3,5 x 10 meter atau sekitar 35 meter persegi.

    Dengan komposisi tersebut, sebagian besar area bangunan tersisa merupakan ruang gudang.

    Baca juga: Pembeli Barang Bekas, Mata Rantai Ekonomi yang Jaga Jakarta dari Gunungan Sampah

    Ia tak memungkiri bila desain bangunan KDMP direncanakan untuk penyimpanan pupuk hingga hasil bumi pedesaan untuk dijual kembali.

    "Gudang yang besar kemungkinan disiapkan untuk menyimpan pupuk dan hasil bumi desa tersebut untuk dijual. Barang-barang ini bersifat bulk atau curah, sehingga makan tempat dan perlu ruang yang luas," ungkap Yoval.

    "Sementara luas total bangunan adalah 20 x 30 meter (600 meter persegi). Bangunan Kopdes pada dasarnya adalah gudang dengan tambahan fitur minimarket dan praktek dokter. Gudang sebesar itu untuk menyimpan apa?," tambahnya.

    Menurut Yoval, apabila bangunan digunakan untuk fungsi penyimpanan komoditas pertanian tersebut, ukuran gudang yang besar masih dapat dipahami.

    Baca juga: Punya Luas 600 Meter Persegi, Ini Pembagian Kios Bangunan KDMP

    Persoalannya, menurut Yoval, Indonesia memiliki karakter desa yang sangat beragam.

    Tidak semua desa bergantung pada sektor pertanian. Banyak desa yang justru bertumpu pada sektor jasa, perdagangan, perikanan, pariwisata, industri rumahan, maupun usaha kreatif.

    Perbedaan struktur ekonomi tersebut semestinya berpengaruh terhadap kebutuhan ruang sebuah koperasi.

    Baca juga: Penampakan Gedung Eks Bandara Kemayoran, Terbengkalai Bak Bangunan di Film Horor

    "Pertanyaannya, apakah semua desa adalah desa petani? Bagaimana jika mata pencaharian kebanyakan penduduknya adalah bidang jasa? Tentu program ruang yang dibutuhkan akan berbeda," beber Yoval.

    Pengabaian Keberagaman Ekonomi Desa

    Disampaikannya, penggunaan desain bangunan yang seragam berpotensi mengabaikan keragaman aktivitas ekonomi masyarakat desa.

    Padahal, setiap wilayah memiliki karakter usaha, komoditas unggulan, hingga kebutuhan operasional koperasi yang berbeda-beda.

    Akibatnya, bangunan koperasi dikhawatirkan tidak dimanfaatkan secara optimal karena ruang-ruang yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

    "Kegagalan memahami keberagaman ekonomi desa inilah yang menjadikan Kopdes pada akhirnya hanya menjadi sebuah toko kelontong yang identik, dengan barang harian yang juga identik atau pabrikan, bukan hasil usaha warga," ucap Yoval.

    Baca juga: Planogram dan Kritik Layout Barang KDMP

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS