China Dominasi Jalur Laut, Kuasai Jumlah Pelabuhan Terbesar di Dunia - Info Masa
Info Massa — Kekuatan ekonomi dan logistik China di panggung global kian tak tandingi. Memasuki pertengahan 2026, negara tirai bambu ini resmi mengukuhkan posisinya sebagai raksasa maritim dunia dengan menguasai delapan dari sepuluh pelabuhan terbesar di planet ini berdasarkan jumlah total (throughput) kargo.
Dalam konferensi pers yang digelar Selasa (30/6), Wakil Menteri Transportasi China, Li Xinghu, membeberkan data mencengangkan yang memperlihatkan bagaimana China secara de facto memegang kendali atas urat nadi perdagangan global sepanjang tahun 2025.
Tidak tanggung-tanggung, China menyapu bersih peringkat pertama global untuk tiga indikator utama konektivitas maritim. Menembus angka 18,3 miliar ton, mencapai 354 juta TEU (twenty-foot equivalent unit) dan memiliki total kapasitas 490 juta DWT (deadweight tonnage atau tonase bobot mati).
“Secara rata-rata, pelabuhan-pelabuhan di China menangani lebih dari 50 juta ton kargo dan sekitar 970.000 TEU peti kemas setiap hari. Aktivitas ini melibatkan sekitar 98.200 kedatangan dan keberangkatan kapal harian, termasuk 1.236 di antaranya adalah kapal internasional,” ujar Li Xinghu di hadapan media.
Jalur perairan bukan hanya alat China untuk menguasai dunia, tetapi juga motor utama ekonomi dalam negeri. Sepanjang 2025, volume angkutan barang via air di China mencapai hampir 15 triliun ton-kilometer—menyumbang lebih dari separuh total sistem transportasi komprehensif di negara tersebut.
Dominasi ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari investasi infrastruktur yang masif dan terukur. Lewat penyelesaian Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), China melakukan lompatan besar dalam kapasitas logistiknya. Menambah 469 dermaga baru yang mampu menampung kapal raksasa berbobot 10.000 ton atau lebih. Kini, China memiliki total 3.061 dermaga super berkapasitas besar.
Menambah 2.500 kilometer jalur air kelas tinggi, membuat total panjang jaringan transportasi air modern mereka menyentuh 18.500 kilometer.
Di samping skala kuantitas yang masif, China juga unggul dalam hal efisiensi teknologi. Li menambahkan bahwa hingga akhir 2025, negara tersebut telah mengoperasikan 60 terminal pintar terotomatisasi, di mana 30 di antaranya merupakan terminal peti kemas yang sepenuhnya berjalan dengan sistem robotik dan kecerdasan buatan (AI).
Kecepatan, efisiensi biaya, dan kapasitas raksasa yang dimiliki pelabuhan China ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh dunia, rantai pasok global saat ini masih sangat bergantung pada kesiapan logistik Beijing.
Ketika China memperluas armada dan mempercanggih pelabuhannya, negara-negara barat dan kompetitor regional mau tidak mau harus berkejaran agar tidak semakin tertinggal jauh di belakang. []