Gagal Masuk SMPN Terdekat, Anak Pekerja Serabutan di Samarinda Malah "Terlempar" 7,8 Kilometer - detik
SAMARINDA, KOMPAS.com – Harapan Nur Ningsih (48) agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan di SMP Negeri yang berada di wilayah tempat tinggal mereka, pupus setelah gagal dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Perempuan yang bekerja serabutan itu mengaku awalnya mendaftarkan anaknya melalui jalur afirmasi. Namun, pengajuan tersebut ditolak karena anaknya masuk kategori desil 5. Kesempatan kedua melalui jalur domisili juga kandas lantaran kuota telah penuh.
"Pertama jalur afirmasi ditolak karena desil 5. Habis itu daftar lagi jalur domisili ditolak juga. Karena kuotanya penuh," kata Nur saat ditemui di Gedung DPRD Samarinda, Rabu (01/07/2026).
Nur mengatakan, SMP Negeri tersebut menjadi pilihan utama karena merupakan satu-satunya SMP negeri di wilayah Palaran yang dekat dengan tempat tinggalnya di Kelurahan Rawa Makmur.
Eks Jenderal Israel Bongkar Hoaks Netanyahu soal Bom Nuklir Iran
Baca juga: Masa Kami Enggak Sekolahkan Anak? Kegelisahan Orangtua Gagal Masuk Sekolah Negeri
Setelah gagal diterima, sistem hanya memberikan notifikasi agar mendaftar ke sekolah lain tanpa solusi lebih lanjut.
"Cuma ada notifikasi suruh pindah sekolah saja," ujarnya.
Ia mengaku sempat mendatangi pihak sekolah untuk meminta bantuan proses pendaftaran. Namun, petugas meminta seluruh proses dilakukan secara daring dari rumah.
Baca juga: "Masa Kami Enggak Sekolahkan Anak?" Kegelisahan Orangtua Gagal Masuk Sekolah Negeri
"Saya datang ke SMP, tapi karena harus online, bilangnya harus dari rumah. Pihak sekolah enggak mengizinkan saya masuk untuk membantu pendaftaran secara online," katanya.
Setelah mencoba mendaftar ke beberapa sekolah lain di wilayah Samarinda Seberang, anaknya akhirnya diterima di SMP Negeri melalui jalur domisili. Namun, sekolah tersebut berjarak sekitar 7,8 kilometer dari rumahnya.
"Jauh. Sekitar 7,8 kilometer," ujar Nur.
Jarak itu menjadi persoalan tersendiri bagi keluarganya yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Baca juga: Sengkarut SPMB 2026 dan Perlunya Jaminan Bangku Sekolah untuk Semua Anak
Ada Calon Siswa Ditolak Sembilan Sekolah
Ketua Tim Respon Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), Rina Zainun, mengatakan pihaknya pada Rabu menyerahkan puluhan laporan masyarakat kepada DPRD Samarinda terkait persoalan SPMB.
"Hari ini kami menyerahkan bukti-bukti beberapa calon siswa yang tidak diterima di sekolah. Ada yang sudah mendaftar sampai sembilan sekolah tetap ditolak," ungkap Rina saat diwawancarai di DPRD Kota Samarinda.
Menurut dia, dari lebih dari 100 laporan yang diterima, baru 32 aduan yang telah dilengkapi dokumen sehingga disampaikan terlebih dahulu kepada DPRD.
"Yang sudah melengkapi ada 32. Hari ini kita fokus SMP dulu. Nanti kalau sudah selesai baru SMA," ujarnya.
Baca juga: Dugaan Manipulasi Data SPMB, Kejati Sumsel Buka Pintu Laporan dan Jamin Lindungi Pelapor
Gelombang Panas "Membunuh" Burung dan Singa Laut di California AS