GERD pada Anak Ternyata Bukan karena Asam Lambung Berlebih, Langsung Lari Setelah Makan Bisa Memicu - Tribunnews
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Banyak yang mengira GERD pada anak terjadi karena produksi asam lambung yang berlebihan.
- Katup di antara kerongkongan dan lambung yang tak menutup sempurna bisa jadi pemicunya.
- Selain itu kebiasaan berlari setelah makan juga jadi salah satu penyebabnya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang tua menganggap gastroesophageal reflux disease (GERD) pada anak terjadi karena produksi asam lambung yang berlebihan.
Akibatnya, pengobatan sering hanya berfokus menurunkan kadar asam lambung.
Baca juga: Batuk Anak Tak Kunjung Sembuh dan Terasa Sakit di Dada? Waspadai GERD dan Gangguan Saluran Cerna
Padahal, menurut Konsultan Gastroenterohepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A(K), akar masalah GERD pada anak justru bukan terletak pada lambung, melainkan pada katup antara kerongkongan dan lambung.
Masalahnya Ada pada Katup Lambung
Eva menjelaskan, di antara kerongkongan dan lambung terdapat katup yang seharusnya selalu menutup setelah makanan masuk.
Pada sebagian anak, katup tersebut tidak menutup sempurna sehingga isi lambung mudah kembali naik ke kerongkongan.
"GERD itu sebenarnya bukan kelainan lambung, asam lambung yang berlebihan. Jadi katup ototnya yang nggak mau nutupkan, terbuka terus,"ungkapnya pada media briefing yang diselenggarakan di Blok M Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026).
Saat isi lambung naik, anak dapat mengalami berbagai keluhan mulai dari muntah, sendawa berlebihan, nyeri dada, hingga sakit perut.
Kebiasaan Sehari-hari Bisa Memicu GERD
Menurut Eva, gaya hidup anak saat ini juga ikut memengaruhi munculnya GERD.
Salah satunya adalah kebiasaan langsung berlari setelah makan karena waktu istirahat di sekolah sangat terbatas.
Idealnya, setelah makan anak duduk terlebih dahulu agar makanan turun dengan baik ke lambung.

Namun, banyak anak baru beberapa menit selesai makan langsung bermain atau berolahraga.
Kebiasaan lain yang juga dapat memicu GERD adalah langsung tidur setelah makan.
Saat lambung masih penuh, posisi berbaring membuat isi lambung lebih mudah menekan katup sehingga terbuka.
Selain itu, pakaian yang terlalu sempit hingga aktivitas dengan posisi kepala di bawah juga dapat meningkatkan tekanan pada lambung.
Tak Harus Minum Obat Bertahun-tahun
Eva mengaku masih menemukan anak yang mengonsumsi obat GERD selama bertahun-tahun tanpa evaluasi.
Padahal, menurutnya pengobatan seharusnya tidak hanya bertujuan menurunkan asam lambung, tetapi juga memantau apakah fungsi katup sudah membaik.
Ia bahkan mengembangkan metode pemeriksaan menggunakan ultrasonografi (USG) untuk membantu melihat kondisi refluks tanpa paparan radiasi.
Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat memantau apakah refluks masih terjadi atau sudah berkurang sehingga lama pengobatan bisa disesuaikan.
Tidak Semua Anak Mengalami Luka di Kerongkongan
Pada sebagian anak, asam lambung yang naik dapat menyebabkan luka di kerongkongan.
Namun, tingkat keparahannya berbeda-beda.
Karena itu, pemeriksaan endoskopi hanya dilakukan bila memang diperlukan.
Selain melihat adanya luka, pemeriksaan tersebut juga dapat membantu mengetahui kemungkinan alergi melalui biopsi jaringan.
Dengan demikian, pemeriksaan lanjutan dilakukan berdasarkan indikasi, bukan sekadar dugaan.
Jangan Menganggap Semua Muntah Itu Biasa
Dr Eva mengingatkan bahwa muntah berulang, sendawa berlebihan, sakit dada, maupun sakit perut yang terus berulang tidak selalu merupakan keluhan ringan.
Karena penyebabnya bisa beragam, orang tua perlu memperhatikan pola keluhan anak dan tidak menyepelekannya.
"Nah, jadi yang dikasih obat sekarang adalah obat untuk menuruni asam lambung. Padahal kan sakitnya klep. Tapi emang alasan mereka, ada alasan juga sih, itu kan yang naik ke atas menyebabkan nyeri itu kan asam lambung. Jadi kita turunin aja asam lambung, tapi klepnya nggak ditutup,"paparnya.
Menurut Eva, memahami penyebab utama GERD akan membantu orang tua mengetahui bahwa pengobatan.
Bukan sekadar menghilangkan gejala, tetapi juga memperbaiki sumber masalah agar keluhan tidak terus berulang.