Harga Minyak Dunia Anjlok, Pasar Kini Dibayangi Kelebihan Pasokan - Kompas
KOMPAS.com – Harga minyak dunia anjlok setelah kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuka kembali arus pasokan minyak global. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru bahwa pasar justru akan dibanjiri minyak mentah, sehingga menekan harga.
Dilansir dari Bloomberg, Minggu (5/7/2026), perubahan tersebut terjadi sangat cepat. Hanya beberapa bulan lalu, pasar minyak menghadapi ancaman kekurangan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Kini, para analis justru memperingatkan risiko kelebihan pasokan (glut) yang dapat berlanjut hingga tahun depan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Berpotensi Turun ke 60 Dollar AS, Ini Prediksi Citi
Harga minyak mentah Brent kini diperdagangkan di kisaran 70 dollar AS per barrel. Pada saat yang sama, pasar fisik minyak menunjukkan pelemahan terburuk sejak anjloknya permintaan pada masa pandemi Covid-19.
Harga Suku Cadang Melonjak, Ongkos Muat Truk Naik Rata-rata 15 Persen
Bagi perekonomian global, turunnya harga minyak mengurangi kekhawatiran lonjakan inflasi akibat gangguan pasokan energi.
Namun, bagi negara-negara produsen minyak, kondisi ini membuka tantangan baru untuk menjaga harga tetap stabil.
Analis peringatkan risiko kelebihan pasokan minyak
Sejumlah lembaga keuangan besar, mulai dari Morgan Stanley hingga Goldman Sachs, pekan ini memperingatkan bahwa pasar minyak berisiko mengalami kelebihan pasokan memasuki 2027.
"Saat ini sentimen yang mendominasi pasar benar-benar negatif," kata Kepala Divisi Minyak di Energy Aspects, Kitt Haines.
Baca juga: Perkuat Ketahanan Energi, PIEP Kirim Minyak Mentah dari Aljazair ke Indonesia
Bahkan, sebelum AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz pada pertengahan Juni, negara-negara Teluk Persia telah meningkatkan pengiriman minyak mereka.
Sejak jalur pelayaran kembali dibuka, lebih dari 60 juta barrel minyak yang sebelumnya tertahan akibat perang mulai mengalir ke pasar internasional.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) juga telah meningkatkan ekspor, didukung perlindungan militer AS saat melintasi Selat Hormuz serta penggunaan jaringan pipa yang menghindari jalur tersebut.
Sementara itu, minyak Iran yang selama bertahun-tahun dikenai sanksi berat oleh AS kini kembali dapat diperdagangkan setelah Washington memberikan pengecualian terhadap sanksi tersebut.
Baca juga: Harga Minyak Mentah Anjlok Hari Ini, Setelah AS-Iran Sepakat Damai

Lihat Foto
China belum kembali menyerap pasokan minyak
Masuknya pasokan baru terjadi ketika berbagai langkah darurat selama perang masih berlangsung.
China, yang selama konflik membantu menstabilkan pasar dengan memangkas pembelian minyak secara signifikan, hingga kini belum kembali meningkatkan impornya.
Selain itu, jutaan barrel minyak masih terus dilepas setiap pekan dari cadangan strategis bawah tanah di kawasan Pantai Teluk AS. Hal itu sebagai bagian dari pelepasan sekitar 400 juta barrel minyak yang sebelumnya dilakukan untuk mengantisipasi krisis pasokan.
Kepala Riset Komoditas JPMorgan Chase & Co., Natasha Kaneva, mengatakan pasar kini menghadapi risiko kelebihan pasokan sementara. Karena minyak yang sebelumnya tertahan kembali masuk ke sistem yang selama beberapa bulan telah beradaptasi tanpa pasokan tersebut.
"Minyak yang kini keluar dari Selat Hormuz pada akhirnya hampir tidak memiliki tujuan lain selain China. Namun China belum membeli," ujar Kaneva.
Baca juga: Harga Minyak Mentah Turun 3 Persen Usai AS Klaim Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat
Kelebihan pasokan terlihat di pasar fisik
Kondisi kelebihan pasokan mulai terlihat di pasar berjangka maupun pasar fisik.
Dalam beberapa hari terakhir, kontrak berjangka minyak utama di AS, Eropa, dan Asia diperdagangkan dalam struktur contango, yakni kondisi ketika harga kontrak pengiriman di masa depan lebih tinggi dibanding harga saat ini.
Pola tersebut biasanya menunjukkan pasokan lebih besar daripada permintaan sehingga mendorong pelaku pasar menyimpan minyak terlebih dahulu.
Minyak asal UEA kini dikirim hingga ke Amerika Serikat, bahkan ditawarkan kepada pembeli di Hawaii.
Sementara itu, sebuah kapal yang membawa minyak mentah Venezuela telah menempuh perjalanan lebih dari 16.000 kilometer menuju pesisir India. Tetapi masih menganggur selama lebih dari dua pekan karena belum mendapatkan pembeli.
Salah satu penyebabnya adalah China masih memangkas impor sekitar 5 juta barrel per hari dibandingkan sebelum perang dan belum menunjukkan peningkatan pembelian yang berarti.
Lemahnya permintaan China juga tercermin dari anjloknya harga minyak Oman, yang menjadi salah satu acuan minyak Timur Tengah. Harga fisiknya kini diperdagangkan dengan diskon 4 dollar AS terhadap acuan Dubai, terbesar sejak 2020.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai Negosiasi AS-Iran di Qatar
Minyak Djeno dari Republik Kongo juga belum berhasil terjual meski ditawarkan dengan diskon hingga 14 dollar AS di bawah harga Brent, yang merupakan potongan harga terbesar sepanjang sejarah.
Meski terdapat indikasi kilang-kilang di China mulai membeli minyak Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir, para analis menilai volumenya masih terlalu kecil untuk mengubah sentimen pasar.
"Pembeli dari China masih sangat minim. Tanpa kembalinya permintaan China secara signifikan, tambahan pasokan yang masuk ke pasar hanya akan memperbesar surplus yang mulai terbentuk," tulis analis Citigroup yang dipimpin Francesco Martoccia.
Masih ada peluang harga minyak kembali menguat
Meski demikian, sejumlah analis menilai pelemahan pasar minyak mentah belum tentu berlangsung lama.
Gelombang pasokan minyak yang baru keluar dari Selat Hormuz dinilai hanya bersifat sementara karena merupakan minyak yang sebelumnya tertahan selama konflik.
Survei Bloomberg juga menunjukkan produksi OPEC pada Juni masih sekitar 28 persen di bawah tingkat Februari, sehingga produksi belum sepenuhnya pulih ke level sebelum perang.
Di sisi lain, pasar produk olahan minyak menunjukkan kondisi yang lebih kuat.
Kontrak berjangka solar (diesel) di Eropa diperdagangkan hampir 50 dollar AS per barel lebih tinggi dibanding harga minyak mentah, dipicu penurunan tajam pengiriman dari Rusia dan kekhawatiran potensi larangan ekspor.
Baca juga: Pasar Minyak Dunia Bakal Masuk Zona Merah Mulai Juli, Krisis Energi Mengintai
Persediaan bensin di AS juga masih berada di bawah rata-rata musiman karena banyak kilang dalam beberapa bulan terakhir memprioritaskan produksi bahan bakar pesawat.
Badan Energi Internasional (IEA) juga memperkirakan pelepasan minyak dari cadangan strategis akan melambat hampir sepenuhnya dalam satu bulan ke depan.
Beberapa analis memperkirakan pemerintah di berbagai negara akan mulai mengisi kembali cadangan minyak mereka sehingga dapat membantu menyerap kelebihan pasokan.
Menurut Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, tantangan terbesar bagi OPEC+ baru akan muncul ketika arus pasokan melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal.
"Tantangan sesungguhnya muncul ketika arus pasokan sudah normal, persediaan kembali terisi, dan kelompok produsen harus beralih dari menambah produksi menjadi mempertahankan pasar. Saat itulah pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak OPEC+ bisa memproduksi minyak, melainkan siapa yang bersedia memangkas produksinya," ujar Leon.
Sementara itu, analis senior Kpler, Homayoun Falakshahi, menilai penurunan harga minyak Timur Tengah dalam siklus penjualan bulanan berikutnya berpotensi menarik pembeli dari China kembali ke pasar.
"Minyak Iran masih sulit terjual meski sudah mendapat pengecualian sanksi. Bahkan di China, minyak dari Uni Emirat Arab dan Irak kini lebih murah daripada minyak Iran. Agar pasar pulih, China harus kembali membeli. Namun saya rasa pasar sudah mendekati titik terendahnya," kata Falakshahi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang