Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home BBM Berita Featured Spesial

    Pengamat Sebut BBM Langka di Sumut Bisa Picu Harga Kebutuhan Pokok Naik jika Tak Segera Teratasi - Kompas

    10 min read

     

    MEDAN, KOMPAS.com - Kelangkaan bahan bakar minyak di Sumatera Utara dinilai tidak hanya menyebabkan antrean kendaraan di SPBU, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas masyarakat dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

    Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan BBM menjadi salah satu komponen utama dalam pergerakan orang dan distribusi barang.

    Ketika pengemudi angkutan kesulitan mendapatkan bahan bakar, waktu pengiriman semakin panjang dan biaya operasional meningkat.

    Baca juga: Pengamat: Kelangkaan BBM di Sumut Bisa Meluas jika Cadangan Nasional Menipis

    Kelangkaan BBM jelas sangat merugikan konsumen. Dampaknya bukan hanya membuat masyarakat kelelahan karena harus mengantre selama berjam-jam, tetapi juga mengganggu produktivitas,” kata Fahmy saat diwawancarai KOMPAS.com, Jumat (17/7/2026).

    Antrean Mengular di SPBU: BBM Subsidi Jadi Primadona sampai Ditimbun untuk Dijual Lagi

    “Kelangkaan BBM juga dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di Sumatera Utara karena proses distribusi barang ikut terganggu,” lanjutnya.

    Pengemudi Kehilangan Waktu Produktif

    Seperti diberitakan KOMPAS.com, antrean panjang pembelian Pertalite, Pertamax, dan Biosolar terjadi di sejumlah SPBU di Kota Medan dan wilayah sekitarnya.

    Baca juga: Kelangkaan BBM di Sumatera, Mengapa Bisa Terjadi?

    Warga harus menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk memperoleh bahan bakar. Sebagian pengemudi juga mendatangi beberapa SPBU karena stok di lokasi pertama telah habis.

    Menurut Fahmy, waktu yang digunakan untuk mengantre akan mengurangi jam kerja masyarakat, terutama pekerja yang menggantungkan penghasilan pada kendaraan.

    “Sebagai contoh, pengemudi ojek online yang tidak dapat mengisi BBM selama satu hari berisiko kehilangan penghasilan,” ujarnya.

    Baca juga: Antrean Solar Di Mana-mana, Perusahaan Otobus Menjerit Biaya Operasional dan Waktu Tempuh Bertambah

    Dampak serupa dapat dialami sopir angkutan umum, pengemudi kurir, pedagang keliling, dan pekerja lain yang membutuhkan kendaraan untuk beraktivitas.

    Apabila kondisi berlangsung lama, gangguan pendapatan dapat menekan ekonomi rumah tangga, terutama bagi pekerja dengan penghasilan harian.

    Perjalanan Logistik Membengkak Dua Kali Lipat

    Berdasarkan laporan Kompas.id, dampak kelangkaan Biosolar telah dirasakan pengusaha angkutan logistik selama berbulan-bulan.

    Baca juga: Antrean SPBU di Medan Padat dan Mengular, Pertamina: Penyebabnya Lonjakan Permintaan Periode Libur Sekolah

    Pengemudi truk harus mengantre berjam-jam, bahkan bermalam, untuk memperoleh bahan bakar. Di sejumlah SPBU, pembelian juga dibatasi di bawah kuota maksimal.

    Perjalanan angkutan barang dari Medan menuju Jakarta yang biasanya berlangsung sekitar lima hari dilaporkan dapat bertambah menjadi sepuluh hari.

    Selain menanggung biaya operasional lebih besar, perusahaan juga menghadapi risiko keterlambatan pengiriman dan kerusakan kendaraan.

    Baca juga: Jeritan Operator Bus Lintas Sumatra: Antre Solar hingga Menginap

    Waktu perawatan kendaraan tersita karena truk harus terus berada di perjalanan atau mengantre di SPBU.

    Gangguan serupa terjadi pada angkutan penumpang. Kompas.id melaporkan perjalanan bus Medan-Pekanbaru yang biasanya sekitar 15 jam dapat berlangsung hingga 25 jam.

    Penumpang harus menunggu lebih lama, sedangkan operator menanggung tambahan biaya operasional.

    Baca juga: Antrean Pertalite Mengular hingga Dini Hari di SPBU Deli Serdang, Warga Terpaksa Beli Pertamax

    Antrean Solar Telan Korban Jiwa

    Krisis Biosolar di Sumatera juga menimbulkan persoalan keselamatan.

    Kompas.id memberitakan seorang sopir truk bernama Amri ditemukan meninggal dunia di bangku pengemudi ketika mengantre di SPBU Limau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada 29 Juni 2026.

    Saat itu, antrean kendaraan mengular hingga Jalan Palembang-Pangkalan Balai dan menyebabkan kemacetan panjang.

    Baca juga: Pertalite, Pertamax, dan Solar Langka di Medan, Ini Penjelasan Pertamina

    Sekretaris Jenderal DPP Organisasi Angkutan Darat, Kurnia Lesani Adnan, menyebut peristiwa tersebut menjadi puncak dari krisis Solar bersubsidi yang telah berlangsung berbulan-bulan.

    Menurut Organda, waktu istirahat para pengemudi tersita karena harus mengantre setiap hari. Kondisi itu meningkatkan risiko kelelahan dan tekanan psikologis di perjalanan.

    Risiko Kenaikan Harga Pangan

    Fahmy menjelaskan, keterlambatan distribusi pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang di pasar.

    Baca juga: Antrean BBM Mengular di Sumut, Bobby Nasution dan Pertamina Beda Penjelasan

    Komoditas pangan dari sentra produksi harus diangkut menuju pasar, gudang, dan pusat konsumsi menggunakan kendaraan berbahan bakar Solar maupun bensin.

    Apabila kendaraan kesulitan memperoleh BBM, distribusi dapat tertunda. Pelaku usaha juga dapat membebankan kenaikan biaya operasional pada harga jual barang.

    Komoditas mudah rusak, seperti sayur, buah, ikan, daging, dan bahan pangan segar lainnya, menghadapi risiko lebih tinggi.

    Baca juga: Antrean BBM Tak Kunjung Usai, Kurir di Deli Serdang Rela Antre hingga Dini Hari demi Tetap Bekerja

    Semakin lama barang berada dalam perjalanan, semakin besar kemungkinan kualitasnya menurun atau tidak dapat dijual.

    Karena itu, Fahmy menilai penyelesaian kelangkaan BBM perlu dilakukan secepat mungkin untuk mencegah efek berantai terhadap inflasi daerah.

    Pertamina Tambah Armada dan Pengemudi

    Seperti dikutip dari KOMPAS.com, Pertamina menyatakan stok BBM di Fuel Terminal Medan masih aman.

    Baca juga: Antre Solar hingga 10 Jam, Sopir Truk di Bandar Lampung Kehilangan Sehari Kerja

    Ketahanan Pertalite disebut mencapai 16 hari, sedangkan Biosolar tersedia sekitar tujuh hari dan akan mendapat tambahan pasokan.

    Masalah distribusi disebut terjadi karena jumlah ritase mobil tangki sempat menurun.

    Untuk memulihkan pasokan, Pertamina mendatangkan 41 awak mobil tangki dari luar daerah serta menambah 35 unit armada melalui skema spot charter.

    Baca juga: BBM Sulit di Medan, Bobby Marah dan Ancam Sidak Pertamina

    Personel TNI dari unsur Pembekalan dan Angkutan juga dilibatkan untuk membantu mengemudikan mobil tangki.

    Pertamina mengklaim volume pengiriman ke SPBU telah dinaikkan menjadi sekitar 6.000 kiloliter per hari dari kondisi normal sekitar 5.400 kiloliter.

    Pertamina menargetkan kondisi kembali normal pada Sabtu (18/7/2026).

    Pemerintah Daerah Perlu Pantau Harga

    Fahmy menilai pemerintah daerah perlu mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok apabila gangguan distribusi belum segera pulih.

    Selain memastikan kelancaran pasokan BBM, pengawasan perlu dilakukan terhadap harga dan ketersediaan komoditas strategis di pasar.

    Baca juga: Pengamat: Kelangkaan BBM di Sumut Bisa Meluas jika Cadangan Nasional Menipis

    Pemerintah juga perlu memprioritaskan pasokan bagi kendaraan angkutan umum, logistik pangan, layanan kesehatan, dan sektor produktif lainnya.

    Jika kelangkaan hanya disebabkan gangguan distribusi, Fahmy memperkirakan pemulihan dapat dilakukan dalam dua hingga tiga hari.

    Namun, jika persoalannya berkaitan dengan keterbatasan stok atau perubahan pola konsumsi, penanganan dapat berlangsung lebih lama.

    “Jadi, penyelesaiannya bergantung pada penyebab kelangkaan tersebut,” kata Fahmy.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS