Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home BBM Berita E10 Featured Spesial

    Program E10 Dinilai Bisa Kurangi Impor BBM dan Perkuat Ekonomi Rakyat - Viva

    4 min read

     

    Anggota Komisi XII DPR RI, Cek Endra

    Jakarta, VIVA – Anggota Komisi XII DPR RI, Cek Endra, menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah yang menargetkan implementasi bahan bakar campuran bioetanol 10 persen (E10). 

    Baca Juga

    Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat melalui pengembangan industri bioetanol berbasis sumber daya dalam negeri.

    Cek Endra mengatakan, tingginya kebutuhan BBM nasional harus diimbangi dengan peningkatan pemanfaatan energi yang diproduksi di dalam negeri.

    Baca Juga

    Karena itu, pengembangan bioetanol menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi energi yang tidak hanya mengurangi tekanan terhadap impor BBM dan pengeluaran devisa negara, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian dan industri nasional.

    "Kami mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang kemudian diimplementasikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam mempercepat implementasi program E10. Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui pengembangan industri bioetanol nasional," kata Cek Endra dalam keterangannya, Kamis, 23 Juli 2026.

    Baca Juga

    Menurut Cek Endra, pengembangan bioetanol akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional karena melibatkan rantai usaha mulai dari sektor pertanian, industri pengolahan, transportasi, logistik, hingga perdagangan. 

    Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh sektor energi, tetapi juga oleh petani, koperasi, pelaku UMKM, dan masyarakat di daerah-daerah penghasil bahan baku bioetanol.

    Ia menilai daerah-daerah sentra tebu dan penghasil molases seperti Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari pengembangan industri bioetanol nasional. Melalui investasi industri pengolahan di daerah, program E10 diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat perekonomian daerah.

    "Program E10 bukan hanya kebijakan energi, tetapi juga strategi membangun ekonomi rakyat yang berkelanjutan. Ketika bahan baku diproduksi petani, diolah oleh industri nasional, dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, maka manfaat ekonominya akan berputar di dalam negeri dan dinikmati masyarakat," ujarnya.

    Cek Endra menegaskan Komisi XII DPR RI akan terus mengawal implementasi program E10 agar berjalan secara bertahap, didukung kepastian investasi, penguatan industri bioetanol nasional, serta sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, dan petani. 

    "Kami optimistis program E10 akan menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi impor BBM, menghemat devisa negara, memperkuat hilirisasi komoditas pertanian, serta mewujudkan ekonomi nasional yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan," tuturnya.

    Wakil Ketua Komisi IV DPR, Panggah Susanto

    Panggah Ingatkan Aturan Tembakau Berpotensi Dorong Lonjakan Impor

    Panggah menilai tembakau Indonesia yang tumbuh di wilayah tropis secara alamiah memiliki karakteristik kadar nikotin dan TAR lebih tinggi dibandingkan negara lain.

    img_title

    VIVA.co.id

    24 Juli 2026

    Komentar
    Additional JS