SD Muhammadiyah di Trenggalek Jatim Putuskan Berhenti Ikut MBG, Ini Alasannya - SindoNews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Aktifitas-Dapur-SPPG-Palmerah_20260213_200022.jpg)
Ringkasan Berita:
- SD Muhammadiyah 1 Trenggalek menghentikan keikutsertaan MBG karena evaluasi waktu belajar, pemborosan makanan, dan sasaran manfaat.
- Sekolah kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang lebih fleksibel mengatur menu, kualitas, serta porsi siswa.
- BGN memastikan operasional MBG tetap berjalan dengan pengawasan ketat, menjaga kualitas makanan, serta verifikasi dapur penyelenggara.
TRIBUNNEWS.COM, TRENGGALEK – SD Muhammadiyah 1 Trenggalek Jawa Timur atau SD Inovatif memutuskan kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang telah dijalankan sejak awal berdiri.
SD Inovatif memutuskan tidak lagi mengikuti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun ajaran 2026/2027.
Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi mengatakan keputusan tersebut bukan karena sekolah menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi anak-anak.
"Untuk tahun ajaran baru ini, SD Muhammadiyah resmi memutuskan tidak lagi mengikuti program MBG. Kami mengambil keputusan ini dalam rapat kerja internal hari Selasa kemarin," ulas Ikhsan Nur Wahyudi, Minggu (12/7/2026).
Keputusan itu diambil setelah evaluasi internal terhadap pelaksanaan MBG sejak November 2025.
Menurutnya, hasil evaluasi menjadi bahan pembahasan dalam rapat kerja sekolah sebelum akhirnya diputuskan untuk tidak melanjutkan sebagai penerima manfaat program pada tahun ajaran baru.
Ikhsan mengatakan salah satu pertimbangan terbesar adalah berkurangnya waktu belajar di kelas.
Menurutnya mekanisme pembagian makanan kepada seluruh siswa setiap hari membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Alhasil, mengurangi durasi pembelajaran.
"Alasan penting bagi kami yaitu soal waktu. Distribusi makanan MBG di lingkungan sekolah minimal membutuhkan waktu hingga 30 menit. Bagi kami, durasi itu sangat berharga karena mengurangi jatah efektif anak-anak belajar di dalam kelas," ulasnya.
Ikhsan menambahkan selain itu, sekolah juga menemukan masih banyak makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dinilai tidak sejalan dengan pendidikan karakter yang selama ini dibangun di lingkungan sekolah.
"Sisa makanannya terlalu banyak yang terbuang. Sayang sekali, sangat mubazir. Padahal dalam ajaran Islam, kita tahu bersama bahwa perilaku mubazir itu tidak diperbolehkan dan harus kita hindari," tegas Ikhsan.
Sekolah juga mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi para siswa.
Baca juga: Prabowo Akui MBG Ada Penyusup Mau Maling, tapi Tegaskan Program Tetap Lanjut
Menurut Ikhsan, sebagian besar orang tua murid dinilai mampu memenuhi kebutuhan makan anaknya.
Sehingga manfaat program pemerintah diharapkan bisa lebih difokuskan kepada sekolah yang siswanya membutuhkan.
"Kami merasa anak-anak di tempat lain masih ada yang jauh lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi ini daripada siswa-siswi di SD Muhammadiyah," ujarnya.
Sebagai pengganti MBG, SD Inovatif kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang selama ini telah menjadi bagian dari sistem pembelajaran di sekolah.
Melalui program tersebut, sekolah bekerja sama dengan dapur mitra untuk menyiapkan makanan.
Berbeda dengan MBG, makanan disajikan dalam wadah besar sehingga siswa dapat mengambil nasi sesuai kebutuhan dan menambah porsi bila masih lapar.
Model ini juga memberi keleluasaan bagi sekolah untuk mengevaluasi kualitas makanan serta mengatur variasi menu agar lebih sesuai dengan selera siswa.
"Program makan siang mandiri ini sudah ada sejak pertama kali sekolah ini berdiri. Sayang jika kami hapus begitu saja. Apalagi, mayoritas wali murid juga mendesak agar program internal ini tetap berjalan," kata Ikhsan.
Ia menambahkan, fleksibilitas menjadi keunggulan program internal sekolah karena menu dapat disesuaikan apabila ada masukan dari siswa maupun orang tua.
"Kalau ada menu yang kurang cocok atau kualitasnya menurun, kami bisa langsung menegur pihak dapur."
"Kami juga bisa mengatur sendiri variasi menunya agar anak-anak tidak bosan. Sementara di program MBG, kami tidak punya kuasa menentukan menu karena semua sudah terkunci mengikuti juknis yang ada," tandasnya.
BGN Minta Jaga Kualitas Makanan
Menjelang operasional perdana, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan perhatian khusus terhadap kualitas makanan yang akan diproduksi dan didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Koordinator Wilayah (Korwil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) BGN Kabupaten Trenggalek, Shiella Ammanda, mengimbau seluruh pengelola SPPG menjaga komitmen dalam menjalankan operasional pascalibur sekolah.
Baca juga: Guru Digaji Rp50 Ribu, Koalisi Minta MK Pisahkan Anggaran MBG dari Dana Pendidikan
Menurutnya, kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizinya, tetapi juga proses pengolahan dan distribusinya.
"Kami mengimbau seluruh SPPG memperhatikan higienitas proses memasak, ketepatan waktu distribusi, memastikan kualitas nutrisi makanan yang disajikan kepada penerima manfaat tetap optimal sesuai regulasi yang berlaku," terang Shiella Ammanda, Minggu (12/7/2026).
Shiella mengatakan persiapan operasional MBG telah dilakukan secara intensif. Namun, pihaknya masih melakukan verifikasi akhir terhadap sejumlah dapur yang akan kembali beroperasi.
"Kami sedang melakukan verifikasi akhir untuk memastikan dapur-dapur tersebut siap menyuplai makanan sesuai standar begitu KBM dimulai," jelasnya.
Sebanyak 19 SPPG Sudah Kantongi Sertifikat Higiene
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 19 SPPG di Kabupaten Trenggalek telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai syarat penyelenggaraan layanan makanan bergizi.
Meski demikian, evaluasi terhadap seluruh dapur tetap dilakukan secara berkala guna menjaga kualitas layanan dan keamanan pangan bagi para penerima manfaat.
Shiella mengungkapkan masih ada beberapa dapur yang belum diizinkan beroperasi karena sedang menjalani proses pembenahan.
"Terkait hal tersebut, memang masih ada beberapa dapur yang statusnya di-suspend (ditangguhkan) pascalibur sekolah ini. Hal ini dilakukan untuk keperluan pembenahan dan pemenuhan standar," tambahnya.
Sasaran Program Tetap Sama
Shiella menegaskan sasaran Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Trenggalek tidak mengalami perubahan pada tahun ajaran baru ini.
Program tetap diprioritaskan bagi peserta didik di satuan pendidikan serta kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak bawah lima tahun (balita).
Sementara terkait kemungkinan adanya sekolah atau penerima manfaat yang memilih tidak mengikuti program setelah masa libur sekolah, BGN masih melakukan pendataan di lapangan.
"Mengenai hal tersebut, kami masih melakukan pendataan dan pemetaan di lapangan untuk melihat dinamika terbarunya," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Berhenti Ikut MBG, SD Muhammadiyah di Trenggalek Pilih Kembali Jalankan Program Makan Siang Mandiri
dan
Sekolah Mulai Masuk, Program MBG di Trenggalek Aktif Lagi, BGN Minta SPPG Jaga Kualitas Makanan