Sekjen PBB: Badan Pengungsi untuk Palestina UNRWA Hampir Kolaps - Tribunnews,

Sekjen PBB: Badan Pengungsi untuk Palestina UNRWA Hampir Kolaps
TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan komunitas internasional untuk segera menutup kekurangan pendanaan sebesar US$100 juta atau setara Rp 1,794 Triliun yang dihadapi Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Menurutnya, lembaga tersebut berada di ambang kolaps setelah melakukan penghematan besar-besaran dan pemangkasan layanan.
Baca juga: Mesir Kecam Serangan Israel ke Suriah, Negara-Negara Arab Serukan Aksi Internasional
Dalam pertemuan darurat Majelis Umum PBB mengenai kontribusi sukarela pada Selasa, Guterres mengatakan kondisi UNRWA terus memburuk akibat kombinasi faktor pembatasan operasional di wilayah Palestina yang diduduki dan berkurangnya dukungan finansial dari negara-negara donor.
"Mereka tidak dapat melanjutkan dengan cara ini tanpa dukungan dan bantuan keuangan yang mendesak dari negara-negara anggota," kata Guterres.
Layani Jutaan Pengungsi Palestina
UNRWA merupakan badan PBB yang memberikan layanan pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, perlindungan sosial, dan tempat tinggal bagi sekitar 2,6 juta warga Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah.
Peran badan ini dinilai sangat penting dalam menopang kebutuhan dasar para pengungsi Palestina, terutama di tengah konflik berkepanjangan di kawasan.
Pendanaan Menurun Setelah Tuduhan Israel
Krisis pendanaan UNRWA memburuk setelah Amerika Serikat menghentikan pendanaannya pada Januari 2024.
Langkah tersebut diambil menyusul tuduhan Israel bahwa sekitar 12 pegawai UNRWA terlibat dalam serangan gerakan perlawanan Palestina, Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza.
Selain AS, Swedia juga memangkas pendanaannya untuk tahun 2025.
Sejumlah negara donor lain sempat membekukan kontribusinya sambil menunggu hasil penyelidikan atas tuduhan tersebut, meski sebagian besar kemudian kembali menyalurkan bantuan.
PBB sendiri telah memecat sembilan pegawai yang diduga terkait dengan serangan tersebut dan menyatakan akan menyelidiki seluruh tuduhan yang muncul.
Organisasi itu juga menegaskan tidak memiliki hubungan kelembagaan dengan Hamas.
Reformasi Sudah Dilakukan
Guterres mengatakan UNRWA telah mengambil berbagai langkah reformasi, termasuk memperbarui kebijakan terkait aktivitas eksternal dan politik sebagai respons atas tuduhan yang diarahkan kepada lembaga tersebut.
Ia menilai UNRWA tetap menjadi salah satu faktor penstabil di kawasan yang dilanda konflik.
"UNRWA mewakili kekuatan penstabil di era ketidakstabilan," ujarnya.
Ia juga mengkritik berbagai upaya yang menurutnya bertujuan melemahkan lembaga tersebut melalui kampanye disinformasi, pembatasan operasional, hambatan diplomatik, hingga langkah-langkah legislatif.
Ratusan Staf Tewas dan Layanan Dipangkas
Menurut Guterres, sejak Oktober 2023 sebanyak 390 pegawai UNRWA dilaporkan tewas di Gaza.
Ia juga menyebut sekitar 1.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata yang diumumkan pada Oktober tahun lalu.
Di tengah keterbatasan anggaran, UNRWA telah memangkas jam pelayanan sebesar 20 persen, mengurangi gaji pegawai lokal, dan membiarkan sekitar 15 persen posisi staf internasional tetap kosong.
"Pangkas anggaran lebih lanjut dapat mendorong situasi melewati titik kritis," kata Guterres.
Baru Penuhi 27 Persen Kebutuhan Dana
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyebut UNRWA kini menghadapi krisis eksistensial.
Ia mengatakan hasil pertemuan negara-negara donor mengenai tambahan kontribusi sukarela akan diumumkan pada Rabu.
Berdasarkan data di situs resmi UNRWA, sepanjang 2025 lembaga tersebut telah menerima janji kontribusi sekitar US$887 juta, dengan realisasi dana mencapai US$829 juta. Jumlah itu baru memenuhi sekitar 27 persen dari total kebutuhan pendanaan UNRWA yang mencapai US$3,3 miliar.