Stok Beras RI Diklaim Tertinggi Sepanjang Sejarah, Bapanas: Saatnya Jadi Lumbung Dunia - Kompas
KOMPAS.com - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia tengah menuju posisi sebagai lumbung beras dunia.
Menurut Amran, hal itu ditopang oleh capaian swasembada pangan berkelanjutan, peningkatan produksi beras, serta penguatan cadangan beras nasional.
"Di akhir 2025 Indonesia mencapai swasembada beras dan pangan sempurna, yaitu tidak ada impor dan stok tertinggi selama Republik ini berdiri," kata Amran dikutip dari Antara, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Beras Terbaik di Dunia Versi TasteAtlas, Thailand Kalahkan Jepang
Amran mengatakan, swasembada beras tanpa impor tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung beras dunia.
Profil Hakim Andi Saputra, Satu-satunya Hakim yang Minta Nadiem Makarim Dibebaskan
Ia mengeklaim, kondisi stok beras nasional saat ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah Indonesia.
"Ini tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri. Jadi sejak kami lahir sampai tahun 2025, ini tertinggi," ujar Amran.
Baca juga: Prabowo Minta Jalan Daerah Diperlebar Jadi Sekitar 8 Meter
Adapun stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini tercatat lebih dari 5,17 juta ton. Stok tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
"Itu capaian pangan kita, insya Allah ini berkelanjutan. Jadi inilah saatnya nanti Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, khususnya beras," ucap Amran.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas, total produksi beras pada periode Januari-Juni 2026 diproyeksikan mencapai 19,2 juta ton.
Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi beras nasional pada periode yang sama, yakni sekitar 15,48 juta ton.
Baca juga: Apakah Mencuci Beras Berkali-kali Bikin Nasi Kurang Pulen?
Di sisi lain, pemerintah masih melanjutkan program penyaluran beras kepada masyarakat. Program bantuan pangan periode Februari-Maret yang diperpanjang hingga Juni telah terealisasi 97,97 persen.
Program tersebut menyasar 32,57 juta keluarga penerima manfaat. Secara total, beras yang sudah disalurkan mencapai 651.400 ton.
Pemerintah juga memutuskan untuk kembali menjalankan program bantuan pangan beras mulai Juli 2026 untuk tiga bulan alokasi.
Baca juga: Evaluasi MBG, Luhut Sebut Tidak Harus Semuanya Sekaligus
Total beras yang akan disalurkan dalam program tersebut mencapai 997.300 ton. Dengan demikian, hingga akhir 2026 pemerintah diperkirakan menyalurkan CBP kepada masyarakat sebanyak 1,6 juta ton.
Selain bantuan pangan, pemerintah juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Realisasi penjualan beras SPHP pada 2026, yang dimulai sejak Maret hingga 29 Juni, telah mencapai 393.400 ton.
Program SPHP menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengintervensi harga beras di pasar. Melalui program ini, pemerintah menyediakan beras kualitas medium dengan harga lebih rendah dibandingkan harga eceran tertinggi (HET).
Baca juga: Unik! Jepang Punya Lomba Balap Kursi Kantor, Hadiahnya dari Beras hingga Tuna
Amran pun mengajak berbagai pihak untuk memperkuat kolaborasi agar Indonesia dapat menjadi negara kuat di sektor pangan.
"Kita ini banyak kekurangan, tapi kita kolaborasi. Kita kerja sama, karena negara lain tidak ingin Republik Indonesia menjadi super power. Jadi kita kolaborasi, insya Allah Indonesia bisa menjadi super power," tutur Amran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Kapolri Perintahkan Anggotanya Tindak Tegas Perusuh Demo