Sistem Pendidikan 'Tuli dan Buta', Sosiolog Sebut Aksi Bom Siswa Padang Sebagia Perlawanan Ekstrem - suara

Baca 10 detik
- Seorang siswa meledakkan bom rakitan di MAN 3 Padang akibat akumulasi perundungan yang dialaminya di lingkungan sekolah.
- Sosiolog UGM menilai peristiwa ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam melindungi siswa serta minimnya pendampingan emosional bagi peserta didik.
- Pemerintah perlu segera melakukan reformasi ekosistem pendidikan secara radikal untuk mengatasi akar masalah kekerasan daripada sekadar memberikan sanksi pidana.
Suara.com - Kasus peledakan bom rakitan di MAN 3 Padang yang diduga dilakukan oleh seorang siswa dinilai bukan sekadar persoalan kriminalitas remaja. Apalagi peristiwa itu dipicu oleh akumulasi aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menyebut bahwa fenomena itu menggambarkan manifestasi dari kegagalan akut kontrol sosial di dalam institusi pendidikan Indonesia.
Apalagi peristiwa ini bukan pertama kali dan terus berulang. Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan yang selama ini gagal menyentuh akar masalah.
"Sistem pendidikan kita itu declining sebetulnya, betul-betul terpuruk. Sebagai institusi yang harusnya memberikan sosialisasi, mestinya menjadi sistem yang memperadabkan dari anak yang bertumbuh... tetapi nyatanya tidak," kata Abe sapaan akrabnya kepada Suara.com, Rabu (15/7/2026).
Ia menilai terdapat tiga persoalan besar yang saling berkaitan, yakni paparan teknologi digital, praktik kekerasan seperti bullying di lingkungan sekolah, serta kegagalan struktur sosial melindungi siswa.
Ketiga faktor itu yang kemudian membentuk kondisi remaja rentan melampiaskan kemarahan melalui tindakan ekstrem.
"Aksi nekat siswa tadi menurut saya itu bentuk perlawanan ekstrem ya terhadap sistem yang saya kira dianggapnya tidak mempedulikannya, tuli, tidak punya mata, tidak punya telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya," ujarnya.
Abe mengkritik sistem pendidikan yang dinilai semakin represif. Sekolah, kata dia, lebih sibuk mengejar target administrasi dan kurikulum ketimbang membangun hubungan yang hangat dengan peserta didik.
Akibatnya, ruang dialog dan pendampingan emosional terhadap siswa semakin minim. Hal itu berdampak pada pengawasan terhadap para siswa.
Baca Juga: Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana
Belum lagi soal praktik bullying yang selama ini kerap hanya dianggap sebagai kenakalan biasa. Padahal dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Dalam kondisi tersebut, siswa yang tertekan menjadi semakin rentan mencari jalan keluar melalui tindakan kekerasan.
"Kita terus selalu saja mengobati simtom, kita itu hanya mengobati gejala, bukan akarnya," tegasnya.
![Suasana di MAN 3 Padang usai ledakan bom rakitan. [Suara.com / B.Rahmat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/14/47028-man-3-padang.jpg)
Menurut Abe, kasus di MAN 3 Padang bukan tak mungkin terulang kembali. Sebab penanganan hanya berhenti pada penghukuman pelaku.
Sedangkan tidak ada evaluasi mendasar kepada ekosistem yang membentuk lahirnya kekerasan tersebut.
Oleh karena itu, penyelesaian kasus semacam ini tidak bisa hanya dilakukan dengan memberikan sanksi pidana kepada pelaku atau memperketat pengamanan fisik sekolah.
Namun lebih besar yakni mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi kurikulum dan reformasi ekosistem pendidikan secara radikal agar sekolah kembali menjadi tempat yang memanusiakan manusia.
"Maka, dalam perspektif ini saya kira kita mesti melihat bahwa ini ada kegagalan kontrol sosial di dalam institusi ya. Itu bagaimana sebetulnya jangan toleran terhadap praktik bullying itu. Perhatikan betul laku perilaku siswa keseharian dan betul-betul itu mesti cura personalis," tandasnya.