Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Tidak Ada Kategori

    Suara Hati Keluarga Dokter Icha soal Dugaan Intimidasi: Mereka Sangat Kejam Membunuh Anak Kami - Tribunnews

    14 min read

     


    01:13 Timnas Inggris Kemalingan Jelang Tampil Piala Dunia di AS, Sepatu Para Pemain Tiba-tiba Hilang
    Ringkasan Berita:
    • Kasus meninggalnya Dokter Icha kembali menyoroti lemahnya perlindungan tenaga kesehatan yang masih rentan mengalami intimidasi meski telah diatur dalam Undang-Undang Kesehatan.
    • Keluarga menduga intimidasi oleh tiga anggota DPRD TTU memicu guncangan psikologis Dokter Icha, sementara ketiganya membantah tuduhan dan mengaku telah meminta maaf.
    • Polisi dari Polres Kupang dan Polres TTU masih menyelidiki kasus ini dengan mengumpulkan bukti, memeriksa saksi, serta mengkaji adanya unsur pidana.

    TRIBUNNEWS.COM - Isu perlindungan terhadap tenaga kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

    Secara hukum, tenaga kesehatan telah mendapat perlindungan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

    Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan.

    Dalam menjalankan tugas memberikan pelayanan kepada masyarakat, tenaga kesehatan masih kerap menjadi sasaran kekerasan, intimidasi, hingga pelampiasan emosi dari pasien maupun keluarga pasien.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum saja belum cukup tanpa diiringi upaya nyata untuk menjamin keamanan dan keselamatan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.

    Kasus terbaru menimpa dr. Elizabeth Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha. Ia diduga mengalami guncangan psikologis setelah mendapat intimidasi saat bertugas, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya.

    Dokter Icha dikabarkan mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat menangani pasien korban gigitan ular di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Leona Kefamenanu pada Sabtu (13/6/2026).

    Saat itu, ia diduga dibentak oleh kerabat pasien yang mengaku sebagai anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

    Usai kejadian tersebut, kondisi Dokter Icha disebut terus memburuk hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia di kamarnya pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.30 WITA.

    Baca juga: Respons PDIP, Golkar, dan PKB atas Kematian Dokter Icha, 3 Anggota DPRD TTU Terancam Sanksi Etik

    lihat fotoKASUS KEMATIAN DOKTER - (Kiri) Foto mendiang dr. Elizabeth Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha dan (Kanan) Keluarga dokter Icha, Fabi Banase saat memberikan keterangan kepada rekan media Sabtu, (27/6/2026) di Kota Kupang.
    KASUS KEMATIAN DOKTER - (Kiri) Foto mendiang dr. Elizabeth Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha dan (Kanan) Keluarga dokter Icha, Fabi Banase saat memberikan keterangan kepada rekan media Sabtu, (27/6/2026) di Kota Kupang.

    Kepergian Dokter Icha menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, termasuk sang paman, Fabi Banase.

    Fabi menganggap keponakannya bukan meninggal karena mengakhiri hidup, melainkan "dibunuh".

    "Tiga anggota DPRD ini mereka sangat kejam membunuh anak kami," tegasnya, dikutip dari Pos-Kupang.com, Selasa (30/6/2026).

    Anggota DPRD TTU yang dimaksud ialah Therensius Lazakar dari Partai Golkar, Norbertus Tubani dari PKB, serta Veronika Lake dari PDIP.

    Fabi juga mengaku mendapat informasi bahwa salah seorang dari mereka diduga telah berulang kali melakukan tindakan yang tidak menyenangkan terhadap tenaga kesehatan.

    "Kasus Dokter Icha ini semacam akumulasi. Sudah ada tujuh kejadian, dilakukan oleh salah satu oknum (DPRD TTU)."

    "Bukan kejadian pertama kali. Banyak nakes yang takut karena diduga khawatir dimutasi, diancam, dan lain sebagainya," ungkapnya.

    Fabi turut mengungkap kondisi terakhir Dokter Icha sebelum ditemukan meninggal dunia di kamarnya.

    Ia menyebut kondisi psikologis keponakannya terguncang hebat setelah diduga mengalami intimidasi.

    "Depresi berat tanpa gejala. Pasien mengalami guncangan hebat hingga melakukan percobaan bunuh diri," kata Fabi.

    Karena itu, pihak keluarga meminta kepolisian maupun Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara turut mengusut kematian Dokter Icha.

    Kompak Membantah

    Ketiga anggota DPRD TTU telah memberikan klarifikasi atas tudingan tersebut.

    Mereka sama-sama membantah telah melakukan intimidasi terhadap Dokter Icha.

    Therensius Lazakar membantah narasi yang beredar bahwa dirinya memaki-maki serta memaksa Dokter Icha memberikan suntikan antibisa kepada keponakannya yang dipatuk ular hijau.

    Korban saat itu dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Leona Kefamenanu pada Sabtu (13/6/2026).

    "Tidak ada sedikit pun niat untuk mengintimidasi tenaga medis," katanya, dikutip dari Pos-Kupang.com.

    Meski demikian, Therensius mengaku sempat panik karena tidak kunjung mendapat penjelasan dari Dokter Icha yang saat itu bertugas sebagai dokter jaga di IGD.

    Ia mengatakan kepanikan muncul karena pasien akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit lain.

    "Ini yang buat kami tambah panik lagi. Karena kalau dirujuk berarti pasien butuh penanganan serius," tandasnya.

    Sementara itu, Norbertus Tubani mengakui dirinya berada di rumah sakit bersama Therensius Lazakar untuk memastikan korban gigitan ular mendapat penanganan medis.

    Dalam keterangannya, Norbertus juga membantah melakukan intimidasi.

    "Tidak pernah mengintimidasi dokter," tegasnya, dikutip dari Pos-Kupang.com.

    Norbertus mengatakan dirinya hanya meminta penjelasan mengenai langkah penanganan dan hasil pemeriksaan pasien.

    Baca juga: Dugaan Intimidasi Dokter Icha, PDIP Ancam Pecat Anggota DPRD TTU

    lihat fotoDOKTER ICHA - Foto tiga anggota DPRD TTU yang diduga melakukan intimidasi kepada Dokter Icha.
    DOKTER ICHA - Foto tiga anggota DPRD TTU yang diduga melakukan intimidasi kepada Dokter Icha.

    Ia mengaku Dokter Icha tidak menjelaskan kondisi pasien secara rinci sehingga situasi menjadi semakin panik.

    Sebelum meninggalkan rumah sakit, Norbertus mengaku sempat meminta maaf kepada Direktur RSU Leona, Dokter Icha, dan seluruh tenaga medis yang berada di IGD.

    "Permohonan maaf kepada Direktur RSU Leona, Dokter dan Dokter Icha, semua tenaga medis yang berada di IGD RSU Leona," tandasnya.

    Sementara itu, Veronika Lake menjelaskan bahwa dirinya berada di Rumah Sakit Umum Leona karena diajak Therensius Lazakar.

    Sebelumnya, sejumlah anggota DPRD menghadiri acara arisan istri anggota dewan di Kecamatan Insana.

    Saat menuju rumah sakit, Veronika berada dalam satu mobil bersama Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani.

    "Saya ikut membesuk karena kebetulan pulang bersama rombongan tersebut. Kehadiran saya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan sebelumnya," jelasnya, dikutip dari YouTube Kompas TV.

    Veronika mengatakan awalnya ia hanya berada di depan ruang perawatan bersama istri anggota dewan lainnya.

    Tak lama kemudian, ia mendengar perdebatan antara dua anggota DPRD dan dr. Icha.

    Setelah itu, ia mengaku ikut menanyakan standar pelayanan rumah sakit terhadap pasien.

    "Saya kemudian ikut menanyakan bagaimana tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan," ujarnya.

    Menurut Veronika, setelah perdebatan terjadi, pihak RS Leona bersama dokter lain datang memberikan penjelasan mengenai prosedur penanganan pasien.

    Ia mengklaim persoalan tersebut telah diselesaikan melalui diskusi saat itu juga.

    Selain itu, Veronika menyebut dua anggota DPRD yang terlibat perdebatan dengan dr. Icha juga telah meminta maaf.

    "Kedua rekan saya sudah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak manajemen dan almarhumah Dokter Icha saat itu juga," katanya.

    Lebih lanjut, Veronika mengaku siap memberikan keterangan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh penyidik kepolisian.

    "Saya menghormati seluruh proses yang sedang berjalan dan siap bekerja sama memberikan keterangan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pihak yang berwenang," kata Veronika.

    Polisi Turun Tangan

    lihat fotoRUMAH DUKA - Suasana duka menyelimuti kediaman almarhumah dokter Icha di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026) malam.
    RUMAH DUKA - Suasana duka menyelimuti kediaman almarhumah dokter Icha di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026) malam.

    Kasus kematian Dokter Icha sudah ditangani oleh jajaran Polres Kupang.

    Petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di kamar yang menjadi lokasi Dokter Icha akhiri hidup.

    Tutut diamankan tali nilon, ponsel hingga dokumen pribadi milik Dokter Icha.

    Polisi turut meminta keterangan sejumlah saksi.

    Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo memastikan mengusut kasus ini secara profesional.

    Baca juga: Terseret Kasus Dokter Icha, Anggota DPRD Veronika Lake Klarifikasi, Klaim Tak Ikut Intimidasi

    "Semua langkah dilakukan secara profesional untuk memastikan setiap fakta di lapangan dapat terdokumentasi dengan baik," katanya, dikutip dari Pos-Kupang.com.

    Pendalaman juga dilakukan oleh  jajaran Polres Timor Tengah Utara (TTU).

    Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote mengaku telah mempelajari kasus untuk mencari unsur pidananya.

    "Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak ahli pidana dan ahli psikologi apakah kejadian ini ada tindak pidananya," katanya.

    AKBP Eliana berjanji akan segera memaparkan setelah pemeriksaan selesai.

    "Penyidik terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta untuk membuat terang peristiwa ini," tandasnya.

    (Tribunnews.com/Endra/Yohanes Liestyo Poerwoto)(Pos Kupang/Irfan Hoi)

    Komentar
    Additional JS