TB Hasanuddin: Negara Hemat Rp 1 Triliun Jika Tidak Ada Latsarmil Koperasi Desa Merah Putih - Kompas TV
Kompas.tv - 1 Juli 2026, 13:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tubagus Hasanuddin menyebut negara akan hemat lebih dari Rp1 triliun jika tidak menerapkan latihan dasar militer atau Latsarmil kepada peserta calon manajer Koperasi Desa Merah Putih.
Pria yang akrab disapa TB Hasanuddin itu mengaku telah menghitung anggaran yang bisa dihemat jika pelatihan untuk calon manajer Kopdes Merah Putih hanya menyasar substansinya saja, yakni mengenai koperasi.
“Saya hitung ya dari anggaran sekitar Rp45 juta per orang, kalau hanya melaksanakan substansi pelatihan koperasi saja, itu hanya Rp15 juta,” kata TB Hasanuddin dilaporkan Jurnalis Kompas TV Esra Ambarita, Senin (29/6/2026).
“Artinya kita bisa mengirit Rp30 juta per orang kali 35 ribu personal. Itu Rp1 koma sekian triliun sudah kita bisa mengirit.”
Sementara untuk pelatihan militer, kata politikus PDIP itu, tidak dibutuhkan dan belum waktunya mereka dilatih demikian.
“Kita dalam keadaan damai kok. Kecuali pelatihan-pelatihan militer yang ringan-ringan saja baris ber baris, oke lah ya,” ucapnya.
Baca Juga: Soal Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun, Jaksa Tegaskan Hukum yang Adil Tidak Pandang Bulu
Ia pun mendesak agar pelatihan dasar militer bagi peserta calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dihentikan. Menurutnya, pelatihan dasar militer tersebut lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.
“Stop saja itu pelatihan militernya karena kurang manfaatnya, mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya kan,” ucap dia.
Selain itu, Tubagus Hasanuddin menambahkan, pelatihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih tidak sesuai dengan tujuan program yang berfokus pada pengelolaan koperasi.
Terlebih, dari empat 45 hari pelatihan, 30 hari didominasi materi militer. Sementara sisanya atau hanya 15 hari yang digunakan untuk pelatihan materi perkoperasian.
“Ini kan pelatihan untuk entrepreneur koperasi desa, artinya melatih seseorang mampu me-manage koperasi desa dengan baik, supaya berkembang, ada profitnya, kemudian ada nilai-nilai untuk kepentingan anggota koperasi, bukan disiapkan untuk persiapan perang, pelatihan untuk perang dan sebagainya,” ujar Tubagus.
Baca Juga: Kabar Baik dari Pertamina, Hari Ini Harga BBM nonsubsidi Turun!
“Saya menilai terlepas dari ada korban yang meninggal selama latihan atau tidak, sesungguhnya ini tidak perlu.”
Sumber : Kompas TV