Trump Usul Pungut Biaya 20 Persen untuk Kapal yang Lewat Selat Hormuz, Industri Pelayaran Resah - Editor Indonesia
Trump Hormuz 20 persen
Editor Indonesisa, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan pungutan sebesar 20 persen dari nilai muatan terhadap seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz. Rencana tersebut berpotensi menambah biaya pengiriman minyak dunia hingga puluhan juta dolar untuk setiap pelayaran dan langsung memicu kekhawatiran di kalangan industri pelayaran internasional.
Berdasarkan laporan Bloomberg, Selasa (15/7/2026), usulan tersebut muncul seiring rencana AS kembali memperketat pengawasan terhadap jalur pelayaran strategis di Teluk Persia.
Biaya Kapal di Selat Hormuz Bisa Tembus Rp543 Miliar
Dengan harga minyak dunia sekitar US$80 per barel, pungutan 20 persen diperkirakan mencapai sekitar US$30 juta atau setara Rp543 miliar (kurs Rp18.093 per dolar AS) untuk satu supertanker yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah.
Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan biaya yang selama ini disebut-sebut dipungut Iran secara ad hoc, yakni sekitar US$2 juta untuk setiap pelayaran.
Baca Juga: Iran Pastikan Pelayaran di Selat Hormuz Berangsur Pulih, Sudah Capai 50 Persen
Dalam pernyataannya pada Senin waktu setempat, Trump mengatakan Amerika Serikat akan kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz. Ia juga menyatakan AS akan menjadi “penjaga” jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia tersebut.
Sebagai konsekuensinya, Trump menilai seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz harus membayar kompensasi kepada Amerika Serikat sebesar 20 persen dari nilai muatan.
Namun hingga kini, Gedung Putih belum menjelaskan mekanisme penerapan kebijakan tersebut maupun apakah usulan itu telah dikomunikasikan kepada negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Industri Pelayaran Khawatir
Rencana Trump segera memicu keresahan di industri pelayaran global. Sejumlah pemilik kapal tanker yang baru melintasi Selat Hormuz mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai kebijakan tersebut.
Para pelaku industri menilai masih terlalu dini untuk menghitung dampak terhadap biaya operasional maupun tarif pengiriman karena rincian aturan belum diumumkan secara resmi.
Seorang kapten kapal yang identitasnya dirahasiakan bahkan menyebut rencana pungutan tersebut sebagai “perampokan di jalan raya” karena dinilai akan membebani pelayaran internasional secara signifikan.
Selat Hormuz Jalur Vital Perdagangan Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global melintasi perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Ketegangan terkait penguasaan jalur ini kembali meningkat setelah gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran mulai memudar.
Iran Nilai Tarif 20 Persen Terlalu Besar
Menanggapi usulan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihak yang menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz memang layak memperoleh kompensasi.
Meski demikian, ia menilai tarif sebesar 20 persen terlalu tinggi.
“Siapa pun yang menyediakan pelayaran komersial yang aman melalui Selat Hormuz memang harus diberi kompensasi atas layanan tersebut,” tulis Araghchi melalui media sosial.
Ia menambahkan bahwa besaran pungutan yang diusulkan Trump “jelas terlalu besar” dan menegaskan Iran akan menerapkan pendekatan yang lebih adil. (Har)