Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BRIN Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    3 Contoh Rumah Tahan Gempa di NTT Tetap Kokoh, BRIN Usul Jadi Model untuk Rehab Hunian Warga - Kompas

    5 min read

     



    KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan tiga prototipe rumah tahan gempa hasil inovasi peneliti mereka yang berdiri di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap kokoh setelah diguncang magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 dan berkali-kali gempa susulan.

    Maka dari itu BRIN mendorong teknologi rumah modular tahan gempa menjadi salah satu model untuk rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di wilayah rawan bencana.

    Ketiga rumah itu dibangun pada 2021–2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang sebelumnya dirintis BPPT dan kemudian dilanjutkan BRIN setelah integrasi seluruh lembaga riset.

    Dari hasil pemantauan pascagempa tidak ditemukan struktur yang retak pada dinding, kolom, maupun fondasi bangunan.

    Tiga Hari Pascagempa, Warga Reo Masih Trauma dan Bertahan di Tenda Seadanya

    Baca juga: Tips Dapat Pendanaan Riset dari Dalam dan Luar Negeri ala Peneliti BRIN

    Rumah itu dirancang dengan teknologi konstruksi tahan gempa

    Hanya terdapat kerusakan yang bersifat kosmetik berupa sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel Sandwich EPS dan pecah akibat guncangan.

    Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto berkata rumah itu dirancang dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk diterapkan di kawasan yang memiliki risiko kegempaan tinggi, seperti NTT.

    “Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” ujar Vian, Senin (17/8/ 2026), dilansir situs BRIN.

    Laporan dan dokumentasi kondisi ketiga rumah per 16 Agustus sudah diterima BRIN.

    Lokasi rumah berdekatan dengan bangunan SD Rangko yang terlihat mengalami kerusakan di struktur bangunan akibat gempa bumi.

    Baca juga: Inovasi BRIN Berupa Genteng, Sepatu hingga Keripik Jadi Sorotan Warganet, Ini Penjelasan Peneliti

    Tetap ada uji lanjutan

    Kendati kondisi struktur rumah terbukti tanpa kerusakan fatal BRIN tetap akan melakukan pengujian lebih lanjut guna mendapatkan validasi teknis di laboratorium.

    Rencananya pengujian akan menggunakan uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur pada 2026.

    Metode pengujian untuk skala laboratorium tersebut sudah dipersiapkan.

    “Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut,” imbuh Vian.

    BRIN juga akan mengevaluasi kinerja tiga prototipe tersebut. Hasil evaluasi terhadap tiga rumah ini akan menjadi masukan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

    Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan rumah warga terdampak dengan mengadopsi standar konstruksi tahan gempa.

    Baca juga: LPDP-BRIN Adakan Program Riset Prima, Pendanaan Awal Rp 100 Miliar

    Dimulai sejak 2019

    Pengembangan rumah modular tahap gempa ini dimulai sejak 2019, antara lain melalui pembangunan dua unit di Kabupaten Tangerang, prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, serta tiga unit rumah di NTT pada akhir 2021.

    Seiring perkembangannya BRIN melakukan penyempurnaan terhadap teknologi konstruksi yang dipakai.

    Misalnya pada rumah modular tahan gempa generasi kedua ditambahkan rubber bearing seismic guna membantu meredam getaran dari gempa.

    Teknologi tersebut merupakan hasil penelitian Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai bahan dasarnya.

    “Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi,” urai Vian.

    Baca juga: BRIN dan LPDP Masih Buka Pendaftaran 2 Beasiswa Doktor Tahun 2026, Cek Syaratnya

    Selain di NTT, BRIN juga mendorong agar model rumah tahan gempa ini diterapkan di daerah lain yang rawan gempa secara lebih luas.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Media Asing Soroti Indonesia, Rayakan HUT RI di Tengah Duka Gempa NTT

    Komentar
    Additional JS