5.923 Titik Api Terdeteksi di 6 Provinsi, Luas Lahan Terbakar 62.786 Hektare, - NU Online
Jakarta, NU Online
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan sedikitnya 5.923 hotspot (titik api) terdeteksi di enam provinsi prioritas, dengan indikasi luas lahan terbakar mencapai sedikitnya 62.786 hektare. Angka tersebut berasal dari penjumlahan data Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memaparkan, Sumatera Selatan mencatat 1.517 hotspot dengan indikasi lahan terbakar lebih dari 1.926 hektare.
“Jarak pandang itu sekitar tujuh kilometer,” ujar Berton dalam konferensi pers pada Selasa (25/8/2026).
Riau mencatat 447 hotspot dengan indikasi lahan terbakar 15.736 hektare lebih. Jarak pandang berada di sekitar 3,5 kilometer. Sementara Jambi memiliki 253 hotspot dengan indikasi lahan terbakar 379 hektare lebih dan jarak pandang hanya satu kilometer.
Di Kalimantan, jumlah hotspot dan luas lahan terbakar lebih besar. Kalimantan Barat mencatat 1.836 hotspot dengan indikasi lahan terbakar seluas 36.310 hektare lebih. Jarak pandang di wilayah tersebut hanya sekitar dua kilometer.
“Kalimantan Tengah sebanyak 1.396 titik hotspot dan terindikasi juga luas lahan yang terbakar sekitar 7.634 hektare, jarak pandang normal lebih dari 10 kilometer,” ucap Berton.
Ia mengatakan pada Kalimantan Selatan mencatat 473 hotspot dengan indikasi lahan terbakar sebesar 801 hektare lebih, dengan jarak pandang normal di atas 10 kilometer.
Berton menyampaikan bahwa BNPB bersama tim gabungan masih melakukan operasi darat. Di Sumatera Selatan, pemadaman dan pendinginan dilakukan di Ogan Ilir, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Palembang, dan sejumlah lokasi lain. Beberapa titik di Ogan Ilir, Lubuklinggau, Prabumulih, dan Ogan Komering Ulu Selatan telah padam dan terkendali.
“Provinsi Riau, operasi darat masih berlangsung di Rokan Hulu, Pekanbaru, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir. Api maupun asap juga masih ditemukan di kawasan gambut Pelalawan, Bengkalis, Kampar, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir,” katanya.
Sementara, di Kalimantan Barat pendinginan dan pengecekan lapangan dilakukan di Landak, Mempawah, Ketapang, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Kubu Raya, Singkawang, dan Pontianak.
Berton mengungkapkan bahwa keterbatasan air dan akses menjadi kendala serius. “Sulit mendapatkan air maupun sulit mendapatkan menuju jalan titik api juga menjadi tantangan yang serius, sedangkan air yang tersedia relatif sudah surut,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa masalah menjadi semakin lebih rumit ketika api berada di lahan gambut. “Ketika gambut terbakar ini kemungkinan hanya di permukaan saja, akan tetap akan merambat di bawahnya,” ujarnya.
Berton menyampaikan bahwa hambatan juga terjadi pada operasi udara karena kabut asap mengurangi jarak pandang pilot. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pelaksanaan water bombing.
“Sehingga penerbangan tidak mudah untuk dilanjutkan dan tentunya ini juga akan mempersulit ketika water bombing akan dilaksanakan,” ujarnya.