Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BMKG Featured Kemarau Lintas Peristiwa Spesial

    BMKG Ungkap Kapan Musim Kemarau Berakhir, Bisa Berlangsung Hingga Oktober - Serambinews

    10 min read


    META AI A-A+ KEMARAU - Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau 2026 dengan kondisi yang cenderung lebih kering. Foto ilustrasi dibuat menggunakan Meta AI. 
    Ringkasan Berita:
    • Sebanyak 535 ZOM atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan kondisi diperkuat El Nino sangat kuat dan IOD positif.
    • Puncak kemarau paling banyak terjadi pada Agustus 2026, sedangkan musim kemarau diprediksi dapat berlangsung hingga September-Oktober 2026.
    • BMKG meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kekeringan, karhutla, ketersediaan air, serta dampaknya terhadap pangan dan sektor lainnya.

    SERAMBINEWS.COM - Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau 2026 dengan kondisi yang cenderung lebih kering

    BMKG mencatat 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026.

    Kondisi kering diperkuat oleh El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat dan IOD yang berada dalam fase positif.

    Puncak musim kemarau paling banyak diprediksi terjadi pada Agustus 2026, sementara sebagian wilayah lainnya mengalami puncak kemarau pada Juli dan September.

    BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Curah hujan selama musim kemarau juga diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dibandingkan kondisi normal.

    Baca juga: Wow! Anak Singapura Akan Dapat Bantuan Hampir Rp 1 Miliar dari Negara hingga Usia 17 Tahun

    Musim kemarau 2026 diperkirakan dapat berlangsung hingga September-Oktober 2026.

    BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kekeringan, penurunan kualitas udara, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

    Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam fase positif.

    BMKG menjelaskan, El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat, disertai IOD positif, menunjukkan berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

    Kondisi tersebut turut memperkuat kecenderungan atmosfer yang lebih kering di sebagian besar wilayah.

    Baca juga: Gawat! Malaysia dan Brunei Bawa Kasus Kabut Asap di Kalimantan ke ASEAN

    Sejalan dengan kondisi tersebut, pada Dasarian III Agustus 2026, sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0-50 milimeter per dasarian.

    Sementara itu, sekitar 13,38 persen wilayah lainnya diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50-150 milimeter per dasarian.

    "Berkurangnya curah hujan tersebut berimplikasi pada sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Indonesia," tulis BMKG dalam keterangannya.

    Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan serta Kalimantan. Sebagian asap bahkan terbawa pola angin hingga meluas ke wilayah sekitarnya.

    Lantas, kapan musim kemarau 2026 diperkirakan berakhir?

    Kapan Musim Kemarau 2026 Berakhir?

    Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan, pihaknya telah melakukan pemutakhiran informasi prediksi musim kemarau 2026.

    Ia menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli, Agustus, dan September 2026.

    Sebanyak 83 ZOM atau 12,26 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli.

    Sementara itu, 369 ZOM yang mencakup 48,84 persen luas daratan diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus.

    Adapun pada September, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di 169 ZOM atau mencakup 25,41 persen luas daratan Indonesia.

    "Pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara bagian Selatan, dan sebagian besar Pulau Papua," kata Budi kepada Kompas.com, Jumat (21/8/2026).

    Sementara itu, pada September 2026, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di wilayah berikut:

    Kepulauan Bangka Belitung
    Sebagian besar Sumatera Selatan
    Lampung
    Sebagian kecil Jawa
    Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
    Kalimantan bagian selatan
    Sebagian besar Sulawesi
    Sebagian besar Maluku Utara
    Sebagian Maluku
    Papua Pegunungan bagian tengah.

    Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang

    Budi mengatakan, dibandingkan kondisi normal, durasi musim kemarau 2026 diprediksi lebih panjang di 437 ZOM yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia.

    Sementara itu, musim kemarau diprediksi memiliki durasi yang sama dengan kondisi normal di 70 ZOM atau 8,32 persen luas daratan.

    Adapun 79 ZOM atau 9,23 persen luas daratan diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih pendek dari normal.

    Wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari normal meliputi Sumatera bagian utara dan selatan, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Pulau Papua.

    "Pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 juga menunjukkan bahwa awal musim kemarau di Indonesia umumnya terjadi lebih awal dibandingkan kondisi normal," kata Budi.

    Curah hujan selama periode musim kemarau 2026 juga diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dibandingkan kondisi normal.

    Dengan kondisi tersebut, puncak musim kemarau diprediksi paling banyak terjadi pada Agustus 2026, sedangkan durasinya cenderung lebih panjang dari normal.

    Selain itu, BMKG juga memperkirakan musim kemarau 2026 dapat berlangsung hingga September-Oktober 2026.

    Imbauan BMKG Menghadapi Kemarau

    Menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih panjang dan lebih kering dari normal, BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan di berbagai sektor.

    Di sektor pangan, masyarakat disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih tanaman yang lebih tahan kekeringan.

    Sementara itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan air, menjaga kapasitas bendungan untuk kebutuhan PLTA, serta memperbaiki jaringan distribusi air.

    Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap penurunan kualitas udara, kekeringan, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Di sektor perikanan dan produksi garam, kondisi kemarau dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan dan produksi garam.

    BMKG meminta informasi prediksi musim kemarau ini dijadikan peringatan dini (early warning) dan dasar untuk melakukan aksi dini (early action).

    Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG. (*)

    Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/08/24/180000865/kapan-musim-kemarau-2026-berakhir-ini-kata-bmkg

    Komentar
    Additional JS