Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BNPB Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    BNPB: 995 Gempa Susulan Terjadi di NTT, Hanya 46 Kali Dirasakan Warga - TVRI News

    2 min read

     


    TVRINews, Jakarta 

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menuturkan, jika gempa susulan masih kerap terjadi hingga Minggu, 16 Agustus 2026 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tercatat, ada sebanyak 995 gempa susulan terjadi.

    “Aktivitas gempa susulan masih terjadi hingga Minggu. Berdasarkan data BMKG sampai pukul 15.00 WIB, tercatat sebanyak 995 gempa susulan,”ungkapnya pada laman akun YouTube BNPB Indonesia pada Minggu, 16 Agustus 2026.

    Kendati demikian, ia mengatakan jika dari jumlah tersebut hanya 46 gempa yang dirasakan oleh masyarakat.

    “Gempa susulan merupakan fenomena alam yang terjadi setelah gempa utama dan berkaitan dengan proses penyesuaian struktur patahan untuk kembali menuju kondisi stabil,” terangnya.

    Selain itu, ia menyebut hingga kini korban meninggal dunia mencapai 53 orang. Rinciannya, satu orang di Manggarai Barat, 20 orang di Manggarai Timur, 25 orang di Manggarai, satu orang di Nagekeo, empat orang di Sikka, dan dua orang di Ende.

    Sementara itu, 135 korban luka masih mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Korban luka tercatat berada di Sikka sebanyak 12 orang, Manggarai 37 orang yang terdiri dari 17 luka berat dan 20 luka ringan, Manggarai Timur 80 orang yang terdiri dari 21 luka berat dan 59 luka ringan, serta Manggarai Barat enam orang dengan luka berat.

    Tak hanya itu, BNPB mencatat ada sebanyak 241 rumah mengalami kerusakan, pasca gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 kemarin.

    “Hingga hari kedua, BNPB menerima laporan sementara sebanyak 154 rumah mengalami rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan,” kata Abdul Muhari

    Kendati demikian, ia menegaskan jika data tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi dan validasi di lapangan masih berlangsung. 

    “Pendataan (yang dilakukan petugas di lapangan) diperlukan agar pemerintah dapat mempercepat proses pemulihan serta memastikan warga terdampak yang berhak mendapatkan bantuan perbaikan rumah dapat teridentifikasi secara jelas,” sebutnya 

    Selain itu, ia juga meminta kepada masyarakat yang  mengalami kerusakan pada rumahnya, diminta segera melapor kepada RT, RW, pemerintah desa, maupun BPBD setempat.

    Komentar
    Additional JS