Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Demo DPR Featured Lintas Peristiwa Spesial

    Cerita Warga Pejompongan Puluhan Tahun Terdampak Kerusuhan Demo DPR - Beritasatu

    2 min read

     

    Kendaraan dibakar massa seusai menggelar aksi demo di depan gedung DPR/MPR di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

    Jakarta, Beritasatu.com – Warga Pejompongan, Kelurahan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat telah puluhan tahun merasakan dampak kerusuhan dari aksi unjuk rasa di sekitar gedung DPR/MPR, Senayan. Namun, kerusuhan demo pada Kamis (27/8/2026) dinilai yang terparah karena menelan korban warga setempat.

    Setiap demo di depan DPR yang diwarnai kericuhan, massa yang dipukul mundur oleh aparat keamanan selalu bergeser ke Pejompongan. Akibatnya, dampak perang batu hingga gas air mata turut dirasakan warga sekitar yang tidak ikut demo.

    Untung Margono (48), warga asli Pejompongan mengatakan dampak kerusuhan akibat aksi unjuk rasa bukan hal baru bagi warga setempat. Menurutnya, setiap kali aksi di sekitar DPR/MPR berujung ricuh, warga Pejompongan kerap ikut merasakan dampaknya.

    “Pasti kebagian. Kalau demo tuh lari udah pasti ke sini chaos-nya. Udah kebagian gas air mata,” ujar Untung saat ditemui di kediamannya, Sabtu (29/8/2026).

    Untung yang lahir dan menetap di Pejompongan mengaku, kericuhan saat demo 27 Agustus lalu menjadi yang terparah dibandingkan aksi-aksi sebelumnya.

    Kericuhan kali ini bahkan menelan korban dari lingkungan tempat tinggalnya, yakni Bambang Setiawan (60), pedagang cermin yang meninggal akibat dikeroyok massa, serta Fatur, seorang remaja yang sempat hilang dan kemudian ditemukan dalam kondisi babak belur.

    Bambang merupakan warga Pejompongan yang dikenal Untung sebagai sosok baik dan gemar menolong. Sebelum meninggal, Bambang masih sempat ditemui Untung pada Kamis malam sekitar pukul 22.00 WIB setelah pulang dari Rumah Sakit Pelni.

    Bambang kemudian dikabarkan berencana mematikan lampu di toko cermin yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Namun, Bambang tak pernah kembali.

    “Jam 4 subuh itu saya udah dengar kabar dia udah enggak ada, karena hilang gak ada kabar untuk pulang ke rumah, enggak pulang-pulang dia bilang gitu. Jam 4 pagi ya dikabarin katanya udah meninggal,” tuturnya.

    Bambang diduga menjadi korban pengeroyokan sekelompok orang tak dikenal yang mengejar massa pendemo yang bersembunyi di permukiman warga.

    Selain Bambang, Untung menyebut Fatur, remaja yang juga merupakan tetangganya, turut menjadi korban. Fatur sempat hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi babak belur.

    Menurut Untung, Fatur merupakan anak yang pendiam dan tidak banyak bicara. Ia juga memastikan Fatur tidak mengikuti aksi unjuk rasa.

    “Fatur ini pendiam sih orangnya. Enggak banyak bicara. Engggak ikut demo padahal dia. Anaknya baik-baik saja gitu,” lanjutnya.

    Bagi Untung, kejadian yang menimpa Bambang dan Fatur menjadi gambaran besarnya dampak kerusuhan terhadap warga yang tinggal di sekitar lokasi demonstrasi.

    Ia berharap aksi penyampaian pendapat tetap berlangsung secara tertib dan tidak kembali menimbulkan korban, khususnya warga yang tidak terlibat dalam demonstrasi.

    “Ya mudah-mudahan sih jangan ada korban-korban lagi untuk berikutnya. Karena kita kalau demo-demo ini capai kebagian kerusuhannya selalu ke sini mulu,” kata Untung.

    Komentar
    Additional JS