Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AMPB Berita Botok Demo Featured RUU Perampasan Aset Spesial

    Demo RUU Perampasan Aset Sempat Ricuh, Botok AMPB: Ada Sutradara yang Ingin Pati Jadi Kambing Hitam - Tribunnews

    8 min read

     

    Ringkasan Berita:
    • Koordinator AMPB Botok alias Supriyono bilang, pihak yangmemprovokasi massa aksi demonstrasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI pada Kamis (27/8/2026) lalu adalah penyusup.
    • Kata dia, ada pihak yang berlaku seperti 'sutradara' yang berupaya untuk membuat aksi rusuh agar masyarakat Pati dicap sebagai perusuh.
    • Botok juga mengaku sempat diamankan dalam mobil komando karena banyak provokator yang mendesak massa untuk melakukan penyerangan ke DPR RI.

    TRIBUNNEWS.COM - Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok mengungkap, pihak yang memprovokasi massa aksi demonstrasi desakan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta pada Kamis (27/8/2026) lalu adalah penyusup.

    Botok juga menyebut, ada sutradara yang menginginkan situasi tidak kondusif.

    "Saya pastikan itu penyusup, banyak sekali apa penyusup ya pada saat itu," kata Botok, dikutip dari tayangan yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Sabtu (29/8/2026).

    Botok menilai, massa yang digerakkan oleh AMPB pada aksi demo sudah menyusun rencana-rencana berlapis untuk menjaga situasi.

    Akan tetapi, menurut dia, ada pihak yang berlaku seperti 'sutradara' yang berupaya untuk membuat aksi rusuh agar masyarakat Pati dicap sebagai perusuh.

    Namun, Botok bersyukur upaya dari sutradara itu menuding massa aksi dari Pati rusuh tidak terlaksana.

    "Sebelum aksi tanggal 27 Agustus, kita sudah punya plan A, plan B, plan C ya. Jadi, kita sudah membaca situasi dan langkah-langkah apa yang nanti kita ambil, termasuk kemarin karena situasi tidak kondusif, karena ada sutradara supaya Pati ini dicap sebagai perusuh dan alhamdulillah misi mereka gagal ya," jelasnya.

    Botok lantas menceritakan momen ketika dirinya membacakan hasil kesepakatan dan audiensi dengan pimpinan DPR RI terkait deadline pengesahan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026 di hadapan massa aksi, sebelum membubarkan diri pada Kamis siang, sekitar pukul 13.00 WIB.

    Saat itu, ia sempat diamankan dalam mobil komando karena banyak provokator yang mendesak massa untuk melakukan penyerangan ke DPR RI.

    Kemudian, dirinya juga dievakuasi ke tempat yang jaraknya 1,5 jam perjalanan dari Gedung DPR/MPR RI.

    "Setelah saya naik mobil komando, di depan saya, di kiri-kanan itu banyak sekali provokator yang berteriak-teriak, intinya tidak percaya dengan kami atau mengajak teman-teman untuk melakukan penyerangan terhadap tim DPR," tutur Botok.

    Baca juga: Skenario Politik jika 15 Desember 2026 RUU Perampasan Aset Tak Disahkan: Krisis Kepercayaan pada DPR

    "Karena situasi tidak kondusif, terus saya lihat di depan agak jauh di sebelah kanan, sudah ada lempar-lemparan antar massa."

    "Terus, setelah membaca hasil audiensi, saya diteriakin sama abang-abang ojol ya disuruh turun dan itu ada saya lihat juga ada orang yang membawa senjata tajam."

    "Saya turun, saya dikawal ojol masuk ke bus, terus suruh jalan. Saya dievakuasi di suatu tempat, sekitar 1,5 jam dari DPR RI."

    Botok yakin, adanya provokasi tersebut menunjukkan ada sutradara tertentu yang ingin membenturkan massa dengan AMPB, supaya masyarakat Pati jadi kambing hitam penyebab demo rusuh.

    "Ya, pada intinya kita sudah tahu ya, ada sutradara yang ingin membenturkan massa bayaran dengan AMPB, supaya apa? Supaya Pati nanti kena kambing hitam," ucap Botok.

    "Ada sutradara supaya nama AMPB menjadi rusak, dianggap kelompok perusuh, dan polisi bisa melakukan penangkapan. Tetapi, alhamdulillah [upaya tersebut] gagal."

    RUU PERAMPASAN ASET - Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok saat berorasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026). Botok menyebut DPR RI berkomitmen akan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat pada 15 Desember 2026. Jika tidak, pimpinan DPR bakal mundur.
    RUU PERAMPASAN ASET - Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok saat berorasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026). Botok menyebut DPR RI berkomitmen akan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat pada 15 Desember 2026. Jika tidak, pimpinan DPR bakal mundur. (Tribunnews.com)

    Bantah Isu Terima Amplop Uang Tutup Mulut

    Diketahui, setelah Botok membacakan hasil audiensi dengan pimpinan DPR RI pada Kamis (27/8/2026) lalu, massa aksi demonstrasi langsung meninggalkan kawasan Gedung DPR/MPR RI.

    Terkait hal tersebut, muncul isu bahwa massa AMPB langsung pulang karena menerima uang tutup mulut atau kesepakatan tertentu dengan pimpinan DPR RI.

    Botok pun membantah keras isu tersebut.

    Menurut dia, keputusan massa langsung membubarkan diri tersebut diambil karena situasi di luar gedung DPR RI mulai tidak kondusif.

    Botok menilai, kericuhan dipicu oleh banyaknya orang yang diduga sebagai penyusup.

    Mereka disebut mulai memprovokasi massa ketika dirinya bersama sejumlah perwakilan AMPB berada di dalam gedung DPR RI untuk menyampaikan aspirasi. 

    “Narasi amplop itu hoaks,” tegas Botok saat ditemui awak media setibanya di kediamannya di Dukuh Kaliampo, Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jumat (28/8/2026), dilansir Kompas

    Botok menjelaskan, awalnya aksi AMPB berlangsung damai.

    Massa kemudian mendapat kesempatan untuk beraudiensi langsung dengan pimpinan DPR RI guna menyampaikan tuntutan.

    Dalam pertemuan tersebut, salah satu tuntutan AMPB terkait pengesahan RUU Perampasan Aset mendapat komitmen dari pimpinan DPR RI.

    Namun, ketika proses audiensi berlangsung, kondisi massa di luar gedung mulai berubah.

    Botok mengaku mendapat informasi bahwa situasi semakin gaduh.

    Bahkan, ia menduga ada pihak tertentu yang sengaja menggerakkan massa untuk memprovokasi dan membuat aksi masyarakat Pati tersebut berujung chaos. 

    “Kami sudah berpamitan, mungkin situasi tidak kondusif. Karena saya ditarik-tarik biar segera keluar lokasi massa,” ujar Botok.

    Botok menduga kericuhan tersebut bukan berasal dari massa AMPB yang sejak awal datang untuk menyampaikan aspirasi.

    Ia menyebut keberadaan orang-orang yang tidak dikenal membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

    Botok menambahkan, para penyusup tersebut diduga memprovokasi massa agar terjadi kericuhan, termasuk dengan mengganggu anggota AMPB yang sedang berada di lokasi.

    “Target mereka (provokator) demo orang Pati ricuh (chaos), teman-teman ditangkap polisi, termasuk saya. Mereka menggerakkan massa memprovokasi mengganggu kita untuk menyampaikan aspirasi,” ungkapnya.

    Karena situasi semakin tidak terkendali, Botok memilih segera meninggalkan lokasi bersama massa AMPB.

    Ia bahkan menduga ada rencana agar anggota AMPB ditangkap dalam kericuhan tersebut. Jika hal itu terjadi, Botok mengaku khawatir keselamatan dirinya turut terancam.

    “Kalau telat sedikit Pati hancur,” katanya.

    Botok juga membantah tudingan bahwa dirinya dan massa AMPB sengaja meninggalkan lokasi setelah mendapatkan uang dari pimpinan DPR RI.

    Tudingan tersebut muncul setelah sejumlah orang di lokasi mempertanyakan keputusan massa AMPB yang memilih pulang usai bertemu pimpinan DPR RI.

    Botok menegaskan, keputusan meninggalkan lokasi merupakan langkah untuk menghindari situasi yang semakin kacau.

    “Narasi amplop itu hoaks,” kembali ditegaskannya.

    Ia juga menilai pernyataan seorang ibu-ibu pengemudi ojek online (ojol) yang memaki massa AMPB tidak bisa dianggap mewakili seluruh komunitas ojol.

    Sebab, menurut Botok, perempuan tersebut diduga merupakan orang yang tidak dikenal dan ikut memprovokasi massa dalam situasi yang sudah tidak kondusif.

    “Apa yang disampaikan ibu-ibu ojol tidak mewakili semua elemen karena waktu itu situasi tidak kondusif. Yang menyelamatkan saya di situasi tersebut ojol,” ujarnya.

    (Tribunnews.com/Rizki A.) (Kompas.com)

    Komentar
    Additional JS