Gempa NTT Bikin Kiriman Uang Terhenti, Mahasiswa di Jogja Terpaksa "Ngebon" di Warmindo - Kompas
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) turut berdampak pada kehidupan mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Putusnya komunikasi dengan keluarga dan terhentinya kiriman uang saku membuat sebagian mahasiswa harus bertahan dengan berbagai cara, termasuk mengandalkan nasi darurat hingga berutang di Warung Makan Indomie (Warmindo).
Salah satunya dialami Vansianus Masir atau Ancik, mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD Yogyakarta asal Manggarai Timur, NTT.
Ancik mengaku tidak tega meminta kiriman uang kepada ibunya yang kini berada seorang diri di daerah terdampak bencana.
Gempa Bermagnitudo 7,7 Guncang NTT, 53 Orang Tewas dan 135 Luka-luka
Baca juga: Mentan Amran Salurkan 300 Ton Beras untuk Korban Gempa NTT
Kiriman Uang Terhenti, Terpaksa Ngebon di Warmindo
Dalam kondisi tanpa uang saku, Ancik berusaha mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di perantauan sembari menunggu kabar keluarganya.
Ia bahkan sempat memesan nasi darurat dan berutang makanan di sejumlah Warmindo.
"Untuk kebutuhan, saya kemarin pesan nasi darurat itu. Mama belum aktif, kemungkinan sendirian di rumah, adik-adik di Surabaya, Bapak sudah tidak ada. Kemungkinan dua: belum beli paketan atau belum nyala listriknya. Ada beberapa cara lah untuk bisa bertahan hidup di sini, ngebon Warmindo-warmindo begitu," terang Ancik, dikutip dari Tribun Jogja, Rabu (19/8/2026).
Kondisi tersebut terjadi karena Ancik tidak lagi dapat mengandalkan kiriman uang dari keluarga di kampung halaman.
Di sisi lain, ia juga tidak tega meminta bantuan kepada ibunya yang sedang menghadapi situasi sulit akibat gempa dan longsor.
Sempat Putus Komunikasi dengan Ibu
Kesulitan Ancik tidak hanya berkaitan dengan kondisi keuangan.
Setelah gempa terjadi, komunikasi dengan keluarganya di Manggarai Timur juga sempat terputus akibat gangguan listrik dan jaringan komunikasi.
Ancik mengetahui kabar gempa dari unggahan kerabatnya di media sosial. Ia kemudian berusaha menghubungi ibunya.
Baca juga: Warga Manggarai Korban Gempa NTT Kekurangan Tenda, Matras dan Selimut
"Buka WA banyak teman yang update status kan sekitar jam 6 kurang, langsung saya telepon Mama. Listrik baru menyala tanggal 17, dua hari setelah gempa. Kampung saya kan di atas bukit, nah di bagian baratnya ada lereng. Akibat gempa kemarin tanahnya itu luruh sehingga rumah-rumah di bagian barat itu rusak," beber Ancik.
Dalam kondisi tersebut, Ancik juga tidak mengetahui secara pasti kondisi keluarganya karena komunikasi belum sepenuhnya pulih.
Ia akhirnya mendapat kabar bahwa ibunya selamat melalui seorang teman yang masih dapat mengakses Facebook.
Baca juga: Korban Gempa Flores Boleh Ambil Kebutuhan di Toko atau Kios, Pemprov NTT Bayar Kemudian
Rumah Warga Rusak, Akses ke Desa Terputus
Kampung halaman Ancik di Desa Wangkarweli, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, juga terdampak gempa.
Ia menerima informasi sedikitnya lima rumah mengalami kerusakan parah. Salah satu rumah bahkan dilaporkan hancur dan penghuninya terisolasi.
Selain itu, terdapat rumah yang mengalami keretakan akibat pergerakan tanah. Sejumlah warga terpaksa mengungsi karena kondisi tersebut.
Akses menuju desa juga terputus akibat material longsor. Kondisi ini membuat bantuan pemerintah belum masuk ke wilayah tersebut saat Ancik menyampaikan keterangannya.
"Sampai sekarang belum ada bantuan sama sekali dari pemerintah sehingga kami yang diaspora sekarang lagi galang donasi untuk membantu keluarga yang terdampak di sana. Kami baru berusaha menggalang donasi," sambungnya.
Baca juga: Bukit Uje Ubi di Palue Longsor Saat Gempa Susulan, Warga Berhamburan
Mahasiswa NTT di Jogja Hadapi Krisis Berlapis
Kondisi yang dialami Ancik juga menggambarkan persoalan yang dihadapi mahasiswa NTT di Yogyakarta setelah gempa.
Selain kehilangan akses komunikasi dengan keluarga, mereka juga menghadapi terhentinya kiriman uang saku dari kampung halaman.
Bagi mahasiswa tingkat akhir seperti Ancik, kondisi tersebut menambah beban karena ia tengah menyelesaikan skripsi.
Baca juga: Dampak Gempa NTT: Longsor Tutup Irigasi Wae Laku, Petani Manggarai Timur Terancam Gagal Panen
Di STPMD APMD Yogyakarta, sedikitnya terdapat 20 mahasiswa asal Manggarai yang tergabung dalam satu kelompok komunikasi.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian mengambil langkah untuk membantu mahasiswa asal NTT yang terdampak.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta perguruan tinggi di DIY mendata mahasiswa asal NTT yang keluarganya terdampak gempa dan memberikan keringanan hingga pembebasan biaya pendidikan.
Baca juga: Kondisi Terkini Pengungsi Gempa Flores, Tidur di Tenda Darurat, Jaringan dan Listrik Padam
"Pemberian bantuan ini sudah jadi tradisi setiap ada gempa di manapun di wilayah Indonesia, kita bantu. Kita akan bicara mengenai biaya dan mendapatkan kemudahan akses agar tetap bisa melakukan pendidikan. Sehingga mahasiswa yang di sini tetap bisa belajar di kampus," ungkap Sultan.
Selain bantuan pendidikan, Pemda DIY juga menyiapkan bantuan pangan bagi mahasiswa NTT yang tinggal di fasilitas asrama di Yogyakarta.
Sebanyak 405 kilogram beras per bulan, ditambah telur dan bahan pokok pendamping, dialokasikan selama empat bulan ke depan.
Baca juga: Jeritan Penyintas Bencana Padang Saat HUT Ke-81 RI: Biaya Listrik Huntara Mahal
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa NTT memenuhi kebutuhan sehari-hari selama keluarga mereka di kampung halaman masih menghadapi dampak gempa.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Kisah Mahasiswa NTT di Jogja: Putus Kontak usai Gempa M 7,7, Terpaksa Bertahan Hidup dengan 'Ngebon' dan Nestapa Mahasiswa NTT Terdampak Gempa, Berjuang Lanjutkan Kuliah di DIY Tanpa Kiriman Uang.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT