Gempa Susulan Berpotensi Picu Longsor, Jalan di NTT Dipantau 24 Jam - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Gempa susulan yang masih terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi memicu longsor dan mengganggu akses jalan serta jembatan.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiagakan tim selama 24 jam untuk memantau kondisi infrastruktur jalan dan jembatan serta melakukan penanganan apabila terjadi gangguan.
Baca juga: Darurat Infrastruktur NTT, 94 Titik Kerusakan dan 75 Longsoran
Pemantauan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, terutama di wilayah yang terdampak gempa.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga konektivitas antar-wilayah dan memastikan akses masyarakat dapat segera dipulihkan apabila terjadi gangguan.
Detik-detik Kamera Wamendikdasmen Bergoyang Saat Laporan dari NTT, Diguncang Gempa Susulan 5,4 M
Sejumlah penanganan infrastruktur juga telah dilakukan pada Sabtu (22/08/2026).
Sejumlah Ruas Jalan Ditangani
Penanganan dilakukan di sejumlah titik, di antaranya retakan jalan ruas Junction-Wolowaru di Kilometer (KM) 51+700 dan ruas Danga-Nila-Marapokot di STA 5+050.
Selain itu, petugas menangani plat deukeur ruas Danga-Nila-Marapokot di STA 7+225 serta debris longsoran ruas Aegela-Batas Kota Ende di STA 4+300.
Kementerian PU juga melakukan penanganan akses menuju Jembatan Wae Dampek di ruas jalan provinsi Reo-Dampek-Pota, Kabupaten Manggarai Timur.
Baca juga: Teknologi di Balik 3 Rumah BRIN yang Tetap Berdiri Usai Gempa di NTT
Penanganan dilakukan di dua titik, yakni jalan menuju jembatan sepanjang 100 meter dan oprit jembatan sepanjang 45 meter.
Untuk jalan menuju jembatan, lapisan aspal yang mengalami kerusakan dibongkar dan dilanjutkan dengan penimbunan menggunakan material urpil untuk membentuk kembali badan jalan.
Sementara pada oprit jembatan, dilakukan penimbunan menggunakan material urpil serta pemasangan cerucuk sebagai perkuatan badan jalan.
Timbunan Jalan Sudah Selesai
Hingga Sabtu (22/08/2026), pekerjaan penimbunan pada kedua titik tersebut telah selesai. Selanjutnya, pada Minggu (23/08/2026), tim melanjutkan pekerjaan dengan pemasangan cerucuk di area oprit jembatan.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, penanganan jalan dan jembatan di wilayah terdampak bencana diperlukan untuk menjaga konektivitas masyarakat.
Baca juga: Jalan Pulau Palue NTT Kembali Tembus, 13 Titik Longsor Disapu Bersih
"Dalam kondisi bencana, yang paling penting adalah memastikan konektivitas masyarakat tetap terjaga. Jalan dan jembatan harus segera ditangani agar masyarakat tidak terisolasi dan mobilitas bantuan serta kebutuhan dasar dapat terus berjalan," kata Dody, dikutip dari keterangan resmi, Senin (24/08/2026).
Pemantauan kondisi jalan dan jembatan di wilayah terdampak gempa NTT terus dilakukan untuk menjaga akses masyarakat, mobilitas warga, serta distribusi kebutuhan dan bantuan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Gempa 7,7 Mbay NTT Picu Kerusakan hingga Maumere dan Labuan Bajo