Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bisnis Featured Koperasi Desa Merah Putih Spesial

    Modal Rp 2 Juta, Begini Cara Kopdes Merah Putih Pasuruan Raup Omzet Rp 260 Juta per Bulan - Kompas

    8 min read

     

    PASURUAN, KOMPAS.com - Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mencatat omzet rata-rata Rp 260 juta per bulan setelah memulai usaha dengan modal sekitar Rp 2 juta.

    Kopdes yang berdiri pada 21 April 2025 di depan Kantor Desa Wonokerto ini mulanya menjalankan usaha sembako melalui kerja sama dengan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN).

    Kini, KDMP Wonokerto telah berkembang menjadi gerai ritel seperti minimarket dengan harga terjangkau. 

    Selain menjual kebutuhan masyarakat, koperasi juga menjadi pemasok bagi sejumlah toko kelontong di sekitar desa.

    Koperasi Merah Putih di Solo Raup Omzet Rp 300 Juta dalam 6 Bulan, Buka 2 Jam Sehari

    Baca juga: Koperasi Merah Putih di Solo Raup Omzet Rp 300 Juta dalam 6 Bulan, Buka 2 Jam Sehari

    Awal Mula Pembentukan Kopdes Merah Putih

    Ketua Kopdes Merah Putih Desa Wonokerto, Muhammad Yusril Suhendra, mengatakan bahwa koperasi dibentuk melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus).

    Saat pemilihan pengurus, tidak ada warga yang bersedia mencalonkan diri sebagai ketua. Posisi itu akhirnya ditentukan melalui voting, kemudian ketua terpilih menunjuk pengurus lainnya.

    "Akhirnya dilakukan mekanisme voting, dan ditunjuklah satu orang ketua. Selanjutnya ketua tersebut menunjuk susunan pengurus lainnya. Kebetulan saya yang ditunjuk saat itu," ujar Yusril dilansir dari Kompas.com, Jumat (14/8/2026).

    Kopdes Wonokerto menjadi satu dari delapan proyek percontohan (pilot project) koperasi nasional di Jawa Timur yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

    Setelah kepengurusan terbentuk, pengurus harus segera menjalankan kegiatan usaha meski dana yang tersedia masih terbatas.

    Mereka kemudian menetapkan simpanan pokok Rp 100.000 dan simpanan wajib Rp 10.000 per bulan untuk setiap anggota.

    Dari iuran anggota, terkumpul modal awal sekitar Rp 2 juta. Jumlah itu belum cukup untuk membangun dan mengisi gerai sembako secara mandiri.

    Baca juga: Raup Omzet Rp 300 Juta, Koperasi Merah Putih di Solo Ini Punya Aplikasi Digital Sendiri

    Manfaatkan Sistem Konsinyasi

    Pengurus Wonokerto mencari jalan keluar dengan bernegosiasi bersama Perum Bulog dan pemasok untuk menggunakan sistem konsinyasi atau titip jual.

    Lewat pola ini, pemasok mengirim barang terlebih dahulu ke koperasi. Produk seperti beras, minyak goreng, dan gula kemudian dijual kepada konsumen, sedangkan pembayaran kepada pemasok dilakukan setelah barang laku dengan jangka waktu hingga satu bulan.

    "Dengan uang modal Rp 2 juta, tentu tidak mungkin cukup untuk membuat gerai sembako," jelas Yusril.

    "Namun, karena status kami sebagai pilot project, para pemangku kepentingan seperti Pertamina, Bulog, hingga ID Food datang berkunjung dan bersedia bermitra," tambahnya.

    Status sebagai proyek percontohan membuat koperasi mendapat kesempatan membangun kemitraan dengan sejumlah pihak, termasuk Pertamina, Bulog, dan ID Food.

    Strategi usaha kemudian diperluas dengan melihat kondisi lingkungan sekitar. 

    Lokasi koperasi yang dekat dengan SD, TK, dan MTs dimanfaatkan untuk menjual es krim.

    Kopdes Merah Putih Wonokerto menggandeng pemasok Walls dan Aice. Dari kerja sama itu, koperasi memperoleh fasilitas freezer sehingga bisnis es krim dapat dimulai dengan modal kurang dari Rp 2 juta.

    Baca juga: Koperasi Merah Putih Banjarsari Solo Raup Omzet Rp 300 Juta, Ini Strategi yang Diterapkan

    Tambah Modal untuk Bangun Minimarket

    Langkah berikutnya dilakukan ketika Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) menawarkan pembiayaan kepada koperasi.

    Pengurus mengajukan proposal bisnis senilai Rp 1,3 miliar. Dari pengajuan itu, LPDB menyetujui pembiayaan Rp 864,3 juta dengan bunga 3 persen per tahun.

    Pembiayaan menggunakan jaminan pribadi berupa tujuh sertifikat tanah milik Kepala Desa Wonokerto beserta istrinya. 

    Jaminan pribadi dipilih karena tanah kas desa tidak dapat dijadikan agunan.

    "Dana pembiayaan yang cair pada September tersebut digunakan untuk membangun dua unit usaha utama, minimarket ritel dan gudang pasokan," tambahnya.

    Karena pengurus belum memiliki pengalaman di bidang ritel, koperasi kemudian merekrut konsultan ritel profesional.

    Pendampingan diberikan secara luring selama 35 hari secara intensif. Materinya mencakup pelatihan kasir, manajemen stok dan input barang, penataan produk di rak, pelayanan pelanggan, serta pendampingan sistem secara daring selama satu tahun.

    "Alhamdulillah unit usaha minimarket dan gudang Koperasi Merah Putih secara resmi melakukan grand opening pada 30 Oktober 2025 lalu," imbuh Yusril.

    Setelah resmi beroperasi, unit ritel mempekerjakan lima pegawai lokal. Gerai buka mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.

    Dari operasional minimarket dan gudang pasokan, koperasi kini mampu mencatat omzet rata-rata sekitar Rp 260 juta setiap bulan. 

    Perkembangan ini membuat usaha yang bermula dari modal Rp 2 juta tumbuh menjadi gerai ritel sekaligus pemasok bagi pedagang sekitar.

    Baca juga: Geliat Koperasi Merah Putih di Balikpapan, Ada yang Raup Omzet Rp500 Juta hingga Sistem PO

    Tak Saingi Warung, Justru Jadi Pemasok

    Pertumbuhan minimarket tidak membuat pengurus mengabaikan keberadaan warung kelontong di sekitar Desa Wonokerto.

    Yusril mengatakan, pihaknya memilih menyediakan harga khusus kulakan atau grosir bagi pemilik toko kelontong agar mereka tetap dapat memperoleh keuntungan.

    Kebijakan itu diterapkan setelah sejumlah pedagang mengeluhkan persaingan dengan koperasi. 

    Salah satu persoalannya adalah harga barang bersubsidi yang dapat dijual koperasi sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan harga lebih rendah.

    LPG 3 kilogram menjadi salah satu contohnya. Sebelumnya, Kopdes Merah Putih menjual LPG 3 kilogram seharga Rp 18.000, sedangkan harga di toko lain berkisar Rp 20.000 hingga Rp 21.000.

    Kini, pemilik toko kelontong dapat membeli LPG 3 kilogram dari koperasi dengan harga kulakan Rp 17.000.

    "Nah, pemilik toko-toko kelontong dapat membeli di koperasi kemudian menjual kembali ke masyarakat seharga Rp 18.000 atau Rp 19.000. Dengan demikian, pedagang kecil tetap mengantongi keuntungan tanpa kehilangan pembeli," ucap Yusril.

    Kopdes Merah Putih juga membatasi pembelian barang bersubsidi, seperti Minyakita dan beras SPHP Bulog bagi konsumen eceran.

    Setiap konsumen maksimal membeli dua liter per orang per hari. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga agar stok barang tidak habis diborong oleh pihak tertentu.

    "Aturan itu agar mencegah monopoli borongan dan memastikan stok terbagi adil di semua warga," ungkapnya.

    Baca juga: Setiap Koperasi Merah Putih Dapat Rp 3 Miliar, Ini Fasilitas yang Disiapkan

    Belanja Dapat Poin dan SHU

    Kopdes Merah Putih Wonokerto juga menyiapkan program poin untuk masyarakat yang berbelanja di koperasi.

    Setiap transaksi menghasilkan poin yang kemudian dikumpulkan dan diberikan kembali kepada warga dalam bentuk manfaat. 

    Program ini sekaligus digunakan pengurus untuk menarik masyarakat menjadi anggota koperasi.

    Anggota juga berhak memperoleh pembagian sisa hasil usaha (SHU) setiap tahun sesuai ketentuan koperasi.

    "Setiap kali berbelanja, poin akan terkumpul dan diakumulasikan menjadi paket bingkisan THR sembako saat hari raya. Sehingga belanja di koperasi memberikan dampak kemanfaatan kembali ke warga," tutur Yusril.

    (Sumber: Kompas.com/Moh. Anas | Editor: Larissa Huda).

    Baca juga: Pemerintah Akan Perluas Fungsi Koperasi Merah Putih, Bisa Salurkan Bansos dan Alsintan

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS