Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Ikut Latihan Gabungan dengan China, Netralitas Indonesia Kini Diuji - Kompas

    8 min read

     


    Penulis: Andrew Zi-Qi Fang/DW Indonesia

    JAKARTA, KOMPAS.com - Pada tanggal 12 Agustus, sebuah fregat Indonesia bergabung sejenak dalam latihan angkatan laut bersama Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (People's Liberation Army Navy/PLAN) di perairan lepas pantai timur Taiwan.

    Taipei kemudian meminta Jakarta menjelaskan alasan Indonesia ikut serta dalam latihan tersebut.

    Baca juga: TNI AL Buka Suara Usai Taiwan Kecam Rencana Latihan China-Indonesia

    Fregat TNI Angkatan Laut KRI I Gusti Ngurah Rai bergabung dengan fregat berpeluru kendali milik PLAN, Honghe, dalam kegiatan yang disebut Jakarta sebagai "passing exercise”, atau latihan ketika kapal-kapal angkatan laut saling berpapasan.

    TNI AL dan Kemlu RI Jawab Protes Taiwan soal Latihan Militer RI-China

    Manuver tersebut berlangsung ketika Taiwan tengah menggelar latihan militer tahunan Han Kuang.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sepenuhnya menyadari lokasi latihan tersebut "sangat sensitif”, tetapi ia menegaskan bahwa kehadiran kapal Indonesia "semata-mata merupakan bagian dari rute transitnya untuk kembali ke Indonesia.”

    Baca juga: Taiwan Murka Indonesia dan China Akan Gelar Latihan Militer Gabungan

    Menurut Taipei Times, kapal Indonesia tersebut sedang dalam perjalanan pulang dari Vladivostok, Rusia, setelah sebelumnya mengikuti latihan bersama Angkatan Laut Rusia.

    Dewan Urusan Daratan Taiwan (Mainland Affairs Council) mengecam apa yang disebutnya sebagai "provokasi” Beijing setelah China mengumumkan latihan tersebut pada 11 Agustus.

    Taipei juga meminta "informasi lebih lanjut dari pemerintah Indonesia” melalui Kementerian Luar Negeri Taiwan.

    Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China dan telah berjanji untuk "menyatukan kembali” pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut dengan daratan China, termasuk dengan menggunakan kekuatan jika diperlukan.

    Baca juga: Warga Taiwan Bakal Tentukan Hukuman Cambuk untuk Penjahat Seksual

    Tentara Pembebasan Rakyat China semakin meningkatkan tekanan terhadap Taiwan melalui latihan-latihan militer yang kerap dilakukan di sekitar pulau tersebut, terutama sejak mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taipei pada 2022.

    Di tengah reaksi dari Taipei dan Washington, TNI Angkatan Laut menyatakan bahwa aktivitasnya bersama Angkatan Laut China "bukan merupakan kegiatan perang” dan "tidak dimaksudkan sebagai latihan tempur.”

    Associate professor di Graduate Institute of International Affairs and Strategic Studies, Tamkang University, Taiwan, Ying-Yu Lin, mengatakan kepada DW bahwa latihan China bersama Indonesia tersebut memiliki signifikansi taktis yang kecil.

    "Latihan itu tidak sepraktis latihan maritim bersama, tetapi China ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan di perairan tersebut,” ujarnya.

    Baca juga: Dampak Latihan Angkatan Laut Tiongkok-Indonesia di Perairan Timur Taiwan

    Indonesia terseret ke dalam geopolitik yang sensitif

    Namun,  visiting research fellow di Japan Institute of International Affairs Ratih Kabinawa, yang berfokus pada hubungan Taiwan-Indonesia, mengatakan kepada DW bahwa terlepas dari seberapa penting latihan tersebut secara militer, Indonesia seharusnya sudah memperkirakan bahwa Taiwan akan memberikan reaksi.

    "Suka atau tidak, Indonesia kini terseret ke dalam permainan geopolitik semacam ini,” katanya.

    Kabinawa menambahkan bahwa passing exercise termasuk salah satu bentuk kegiatan angkatan laut dengan tingkat eskalasi paling rendah yang sejauh ini digunakan China untuk membenarkan tindakan intimidasi terhadap Taiwan.

    "Indonesia juga harus berhati-hati dalam hal ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Jakarta "jangan terlalu naif” dengan menganggap bahwa keikutsertaannya dalam sebuah "latihan rutin” bersama China tidak akan menimbulkan kekhawatiran di Taiwan.

    Baca juga: Skenario Neraka Taiwan, Benarkah Pasukan Drone Bisa Hentikan Invasi China?

    Kebijakan luar negeri nonblok Indonesia menjadi sorotan

    TNI Angkatan Laut (AL) menembakkan rudal C-705 dari KRI Sampari-628 dan mengoperasikan Unmanned Surface Vehicle (USV) atau drone laut untuk menyerang sasaran musuh dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8/2026).

    Lihat Foto

    Indonesia telah mempertahankan kebijakan luar negeri "bebas dan aktif” selama lebih dari setengah abad, sehingga membedakan dirinya dari negara-negara tetangga yang memilih berpihak atau menyelaraskan diri dengan China maupun Amerika Serikat.

    Namun, baik Beijing maupun Washington menginginkan Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, menjadi bagian dari strategi mereka di kawasan Asia-Pasifik.

    Baca juga: Saat Latihan Indonesia-China Picu Kekhawatiran Taiwan, TNI AL Bicara soal Persahabatan

    Presiden Indonesia Prabowo Subianto bertemu dengan  Wakil Menteri Pertahanan AS, Elbridge Colby, di Jakarta pada hari yang sama ketika latihan passing exercise yang kontroversial dengan China tersebut berlangsung.

    Di sisi lain, meskipun Prabowo juga mengunjungi Presiden China Xi Jinping di Beijing, Jakarta telah menunjukkan kesediaannya untuk menerima permintaan AS terkait penerbangan lintas wilayah udara secara menyeluruh, yang memungkinkan pesawat militer AS mengakses wilayah udara Indonesia.

    Associate professor ilmu politik di National University of Singapore, Chong Ja Ian, mengatakan kepada DW bahwa sikap netral Indonesia merupakan hasil dari tekanan yang datang dari negara-negara adidaya.

    Baca juga: Hacker Pakai AI Retas Taiwan, Akankah Jadi Masa Depan Dunia?

    "Prinsip kebijakan luar negeri bebas dan aktif mungkin tidak akan banyak berubah, tetapi kita akan melihat bagaimana Jakarta menerapkannya,” ujarnya.

    Peneliti Kabinawa mengatakan pemerintahan Indonesia saat ini belum memiliki pedoman yang jelas dalam menafsirkan kebijakan luar negerinya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Selat Taiwan.

    Namun, ia menambahkan bahwa kecil kemungkinan Indonesia akan terlibat dalam skenario invasi China ke Taiwan. "Saya selalu mengingatkan semua orang bahwa ada 350.000 warga negara Indonesia di Taiwan yang perlu dilindungi atau mungkin dievakuasi jika skenario hipotetis tersebut benar-benar terjadi,” katanya.

    Baca juga: Bukan Sekadar Gadget, Begini Ekosistem Apple Bantu Trio Pengusaha Lokal Kembangkan Bisnis

    Menurut data resmi Taiwan, warga Indonesia merupakan kelompok penduduk asing terbesar di negara tersebut. "Jadi, saya rasa Indonesia tidak akan terlibat sebagai pihak yang ikut bertempur, melainkan lebih mungkin terlibat dalam upaya mengevakuasi warga negaranya,” kata Kabinawa. "Hal itu justru akan berisiko terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia sendiri.”

    Artikel ini tayang di DW Indonesia dengan judul: "Netralitas Indonesia Diuji oleh Latihan Gabungan dengan China".

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS