Kesaksian Warga Saat Gempa Mengguncang NTT: Kalau 20 Detik, Pasti Satu Flores Rata - Kompas
MANGGARAI, KOMPAS.com - Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), masih menyisakan cerita bagi warga yang mengalaminya secara langsung.
Cypri (47), warga Kelurahan Carep, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, masih mengingat kuatnya guncangan yang terjadi menjelang pukul 04.00 WIT.
Baca juga: Terdampak Gempa, Desa di Manggarai Timur NTT Ini Belum Dapat Bantuan dari Pemerintah
Menurut Cypri, guncangan gempa berlangsung sekitar 8 hingga 10 detik.
Namun, durasi tersebut sudah warga panik dan berusaha menyelamatkan diri dari rumah, serta mengakibatkan kerusakan parah.
Tiga Hari Pascagempa, Warga Reo Masih Trauma dan Bertahan di Tenda Seadanya
"Kurang lebih 8, 9, atau 10 detik. Kalau sampai 20 detik pasti Satu Flores ini rata. Saking kencangnya, karena kuatnya guncangan yang terjadi pada saat itu," ujar Cypri saat ditemui di tenda pengungsian di dekat rumahnya, Rabu (19/8/2026).
Baca juga: 5 Malam Usai Gempa, Warga Manggarai Masih Tidur di Tenda Swadaya
Keluar Rumah Sambil Menangis
Cypri mengatakan, dirinya baru bangun sekitar pukul 03.30. Saat itu, dia hendak kembali tidur karena kondisi udara di Ruteng cukup dingin.
Namun, sekitar 15 menit sebelum pukul 04.00, gempa mulai mengguncang wilayah tersebut.
"Saat gempa pertama itu kami masih dalam rumah, setelah gempa pertama, datang gempa selanjutnya selesai baru kami bisa keluar sambil menangis karena situasi kaget juga bagi kami," kata Cypri.
Baca juga: 2 Kantor Kemenhaj di NTT Terdampak Gempa, Keselamatan Petugas dan Jemaah Jadi Prioritas
Dia mengatakan, dia dan warga lain langsung berusaha keluar rumah untuk menghindari material bangunan yang berjatuhan.
Cypri mengaku tidak sempat memikirkan hal lain saat gempa terjadi. Keluarganya maupun para tetangga hanya berusaha menyelamatkan diri dan keluarga.
"Iya, kami tidak pernah berpikir soal yang lain, yang penting kami harus bisa keluar dari rumah pada saat itu dalam posisi kondisi baru bangun tidur," kata dia.
Masih jelas di ingatan Cypri bagaimana Situasi tersebut membuat warga kebingungan mencari jalan keluar.
"Bukan cuma saya saja, tapi semua dari tetangga-tetangga menangis semua, bingung mau ke mana, mau lewat pintu depan atau pintu belakang," jelas Cypri.
Baca juga: TNI AD Kerahkan 2.253 Personel Bantu Penanganan Gempa NTT
Dia dan keluarga akhirnya keluar rumah tanpa arah sambil menangis dan menggendong anak. Begitu pula dengan warga lain yang tinggal di lingkungannya.
"Jadi memang sampai saat ini juga kami merasa trauma begitu, trauma oleh karena situasi dan bayangan-bayangan teriak pada saat itu masih teringat sampai sekarang," kata Cypri.
Berlari Menghindari Batu Bata yang Berjatuhan
Pengalaman serupa diceritakan Ambrosius Lay (48), warga Kampung Watu Alo, Kelurahan Tadong, Kecamatan Langke Rembong.
Ambrosius bercerita bahwa dirinya sedang tidur ketika gempa terjadi sekitar pukul 04.00 WIT. Awalnya, dia mengira guncangan tersebut merupakan gempa biasa.
"Pas awal-pertamanya gempa itu kira-kira kita kan gempa biasa. Pas kedua ketiga sudah mulai sudah goncang itu," kata Ambrosius saat ditemui di Posko Bersama Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Manggarai, Rabu (19/8/2026).
Baca juga: Mendagri 5 Hari Berada di NTT, Pastikan Negara Hadir untuk Korban Gempa
Namun, guncangan berikutnya membuat situasi berubah. Menurut Ambrosius, bata-bata dari bagian atas rumah mulai berjatuhan.
"Habis goncang Pak, yang ketiga sudah itu mulai dah jatuh semua bata bata dari atas," ujar dia.
Ambrosius bersama keluarganya kemudian berusaha keluar melalui pintu dapur. Mereka memilih jalur tersebut karena bagian depan rumah lebih berisiko tertimpa bangunan.
Baca juga: Cerita Mahasiswa NTT di Jakarta, Cemas Tunggu Kabar Keluarga Pasca-gempa
"Roboh kita selamatkan diri lewat pintu dapur. Mungkin kalau kita ikut pintu depan Pak, habis," kata Ambrosius.
Pilihan yang tepat itu membuat keluarga Ambrosius berhasil menyelamatkan diri. Tidak ada anggota keluarganya yang mengalami luka parah.
"Enggak ada yang luka-luka parah. Kecuali mamanya kena sedikit Pak tadi. puji Tuhan masih sehat-sehat, masih bisa keluar," ujar dia.
Lima Malam Masih Bertahan di Tenda
Lima hari setelah gempa, pengalaman tersebut masih membuat warga takut kembali ke rumah. Padahal tak seluruh rumah warga benar-benar hancur, masih ada di antaranya yang rusak ringan di beberapa bagian.
Cypri dan warga lain lingkungannya masih bertahan di tenda yang dibuat secara swadaya. Berbekal terpal dan bambu seladanya, mereka membuat tempat tinggal sementara yang dirasa lebih aman daripada di dalam rumah.
"Ini sudah malam yang kelima ya," kata Cypri.
Baca juga: Gempa M 7,7 Flores, Mentan Amran Janji Perbaiki Sawah dan Ganti Alsintan Petani
Langkah serupa juga dilakukan Ambrosius. Hingga kini, keluarganya masih tinggal di tenda yang di bangun di seberang reruntuhan rumahnya.
"Masih takut kami tinggal dalam rumah. Saya masih di basecamp. Kami buat sendiri di depan," ujar Ambrosius.
Menurut Ambrosius, tenda pengungsian terpusat sebetulnya tersedia di wilayah pusat kota. Namun, dia dan keluarganya masih merasa takut berada di sekitar bangunan setelah melihat kerusakan akibat gempa.
"Ada, cuma di sana juga kan masih ada gedung-gedung walaupun di tanah lapangnya. masih trauma pak liat gedung tinggi," kata Ambrosius.
Baca juga: Kemenkes Kirim Tim Dokter Spesialis Ortopedi untuk Tangani Korban Gempa NTT
Bagi Cypri dan Ambrosius, rasa syukur tetap menjadi hal utama setelah melewati kejadian tersebut.
Mareka bersyukur karena keluarga, dan warga di sekitarnya masih dapat menyelamatkan diri.
Baca juga: Kronologi Ledakan Dapur SPPG Mojokerto yang Lukai 5 Orang, Berawal dari Suara Desisan Tabung Gas
"Yang kami syukuri sekarang ini kan tidak apa namanya tidak sampai menimbulkan korban jiwa, itu saja. Semangat kami tetap semangat," ujar Cypri.
Namun, dia tak memungkiri bahwa kesedihan yang dirasakannya melihat rumah hasil kerja keras selama bertahun-tahun, hancur seketika akibat gempa.
"Sudah dibangun sejak lama, dibangun oleh keringat darah, apa, kerja keras begitu hilang seketika oleh karena datangnya gempa hanya berapa detik itu," pungkas Cypri.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT