Kisah Nenek Selamatkan Cucu 4 Tahun saat Rumah Runtuh Diguncang Gempa NTT - Kompas
MANGGARAI TIMUR, KOMPAS.com - Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), menyimpan kisah tersendiri bagi seorang nenek, Katarina Dedona, dan cucunya, berinisial KS (4).
Warga asal Kampung Gongger, Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, itu berjuang melindungi dan menyelematkan cucunya saat gempa meruntuhkan bangunan rumah tempat tinggalnya pada Sabtu (15/8/2026).
Kini, keduanya berada di Posko Pengungsian Barang Kolong, Reo, Kabupaten Manggarai.
Baca juga: Update Gempa M 7,7 Flores: 70 Orang Meninggal, 538 Luka
Nenek peluk cucu saat rumah runtuh
Katarina menceritakan bagaimana dirinya berusaha menyelamatkan Karoline saat gempa NTT mengguncang rumah mereka.
Media Asing Soroti Indonesia, Rayakan HUT RI di Tengah Duka Gempa NTT
Saat gempa terjadi, Katarina bersama keluarganya berusaha keluar dari rumah. Namun, bangunan rumah tiba-tiba runtuh dan menimpa KS.
Katarina kemudian memeluk tubuh cucunya dan menahan sebagian reruntuhan menggunakan lengannya.
“Saat gempa itu, kami langsung lari keluar rumah. Namun dengan sekejap bangunan rumah runtuh dan menimpa korban. Untung saya sambil peluk korban dan menahan sebagian runtuhan dengan lengan tangan saya,” ujarnya, Selasa (18/8/2026), dilansir dari TribunFlores.
Akibat kejadian tersebut, KS mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan di posko pengungsian. Kepalanya masih diperban dan sesekali ia merengek menahan sakit.
Baca juga: Usai Gempa NTT, Warga di Manggarai Timur Harus Jalan 2 Km ke Gunung demi Cari Sinyal
Katarina sendiri mengalami memar pada bagian tangan setelah ikut menahan reruntuhan rumah yang menimpa cucunya.
"Tangan saya juga memar. Kalau tidak, cucu saya ini mungkin parah sekali," imbuhnya.
Tinggal bersama nenek
Katarina mengatakan, KS selama ini tinggal bersamanya. Kedua orangtua KS diketahui sedang bekerja di Bali.
Baca juga: Maaf dan Doa Remaja yang Bunuh Ayah dan Nenek di Lebak Bulus...
“Cucu ini tinggal dengan kami karena orangtuanya saat ini bekerja di Bali,” ungkapnya.
Setelah berada di pengungsian, kondisi KS terus dipantau. Berdasarkan pemeriksaan dokter, kondisi KS disebut tidak mengalami masalah serius.
Meski demikian, KS masih membutuhkan perawatan intensif untuk mendukung proses pemulihannya.
Baca juga: Biarawati Asal NTT Jadi Paskibra di KBRI Vatikan, Doa Mengalir untuk Korban Gempa
Selama berada di posko pengungsian, KS juga mengalami perubahan pola makan.
Katarina mengungkapkan, cucunya belum mau makan nasi dan hanya ingin minum susu.
“Dia tidak mau makan nasi, hanya mau minum susu saja. Memang susu tersedia di posko, tetapi susu SGM. Dia mau minum susu Dancow,” ujarnya.
Baca juga: Menkes Sebut RSUD Ruteng Tetap Lakukan Operasi meski Terdampak Gempa
Kapolri dan Titik jenguk KS di pengungsian
Saat meninjau langsung kondisi para korban di Posko Pengungsian Barang Kolong Reo, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyempatkan diri menjenguk KS.
Keduanya berbincang dengan Katarina untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan KS selama menjalani perawatan di posko pengungsian.
Keluhan mengenai kebutuhan susu KS juga langsung didengarkan Kapolri Listyo Sigit dan Titiek Soeharto saat menjenguk bocah tersebut.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Suasana Pengungsian dan Kesaksian Warga Detik-detik Gempa NTT