Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Kisah Pengungsi Gempa Nagekeo: Krisis Air Bersih, MCK, hingga Perahu Nelayan Hancur - Kompas

    4 min read

     

    NAGEKEO, KOMPAS.com – Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggalkan duka mendalam serta kerusakan parah bagi warga pesisir dan permukiman setempat.

    Selain menghancurkan rumah-rumah warga, bencana alam ini merusak mata pencarian nelayan dan memaksa masyarakat bertahan hidup di lokasi pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas.

    Rumah Roboh dan Perahu Nelayan Rusak

    Dampak parah gempa Nagekeo dirasakan langsung oleh Sudarling, seorang nelayan asal Desa Nangadhero. Ia menjadi saksi mata bagaimana gelombang air laut naik dan menghantam kawasan permukiman pesisir hingga menggenangi rumah-rumah warga.

    “Keadaan di bawah juga rumah hancur, perahu-perahu juga pada hilang semua. Air naik sampai rumah-rumah tergenang, rumah hancur, perahu kita di bawah pada hancur semua. Alhamdulillah keluarga aman, baik-baik semua,” ujar Sudarling, dikutip dari Kompas TV.

    Gempa NTT Hancurkan Masjid dan Gereja, Tangis Warga Pecah di Manggarai Timur

    Baca juga: Gempa Susulan Guncang Nagekeo NTT, Peserta Upacara HUT RI di Ende Lari Berhamburan

    Kondisi serupa dialami warga di wilayah permukiman lain. Pulus Bhara, warga Kolikapa, menuturkan bahwa bangunan berstruktur tembok atau rumah batu di kawasannya mengalami kerusakan berat hingga roboh.

    “Kalau di Kolikapa rumah batu sudah hancur, itu memang kami lihat sendiri, kami mengalami sendiri. Ada rumah tetangga yang roboh. Kita mau bagaimana, namanya alam yang begini, kita pasrah saja,” ungkap Pulus.

    Keterbatasan Tenda dan Fasilitas Pengungsian

    Di lokasi pengungsian, para korban gempa Nagekeo NTT kini harus bertahan di tengah keterbatasan. Sebagian besar warga membangun tenda darurat secara swadaya.

    Saat ini, hanya ada satu tenda resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang didirikan di Dadiwuwu, Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Tenda tersebut digunakan bersama oleh warga dari Mbai 1 dan Nangadhero.

    Karena kapasitas yang terbatas, penggunaan tenda BNPB harus diprioritaskan untuk kelompok rentan.

    Baca juga: Keluhan Pengungsi di Nagekeo: Mau Mengadu ke Siapa, Air Minum Saja Tak Ada

    “Tenda hanya satu, prioritas ibu-ibu yang sakit dan anak-anak. Yang lain tidur di luar tenda dengan kondisi seadanya,” kata Sudarling menambahkan.

    Untuk memenuhi kebutuhan makan harian, warga bergotong royong mendirikan dapur dan tungku darurat di area pengungsian.

    Warga Krisis Air Bersih, MCK, dan Sembako

    Meskipun bantuan awal berupa bahan pokok (sembako) dari pihak pemerintah maupun perorangan sudah mulai berdatangan, warga pengungsi korban gempa Nagekeo masih menghadapi ancaman krisis pangan dan sanitasi.

    Banyak toko dan kios sembako di sekitar lokasi bencana yang tutup, sehingga warga kesulitan membeli bahan makanan tambahan.

    Baca juga: Gempa M 5,8 Kembali Guncang Nagekeo di Tengah Rangkaian Gempa Flores

    Selain kebutuhan pangan, para pengungsi sangat membutuhkan pasokan air bersih serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) atau toilet portable. Ketiadaan fasilitas sanitasi membuat sebagian pengungsi terpaksa buang hajat ke semak-semak atau area hutan sekitar.

    Warga berharap pemerintah daerah dan lembaga terkait dapat segera menyalurkan bantuan tambahan berupa tenda pengungsian yang memadai, pasokan air bersih, serta toilet portable untuk menjaga kesehatan para pengungsi di Nagekeo.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Media Asing Soroti Indonesia, Rayakan HUT RI di Tengah Duka Gempa NTT

    Komentar
    Additional JS