Kisah Saban Nelayan Ngada Korban Gempa NTT, Kakinya Tertimpa Tembok, Rumah Rusak Parah - Kompas
NGADA, KOMPAS.com – Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur (NTT) pascabencana gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada Sabtu (15/8/2026) dini hari.
Bencana alam tersebut merobohkan pemukiman warga, merenggut puluhan jiwa, serta mengakibatkan ratusan penduduk mengalami luka-luka.
Salah satu penyintas yang mengalami luka berat adalah Saban, seorang nelayan yang bermukim di Desa Sambinasi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT. Saat ini, Saban harus menjalani perawatan medis intensif di Puskesmas Riung akibat patah tulang kaki setelah tertimpa reruntuhan tembok rumahnya sendiri.
Baca juga: Dampak Gempa di Ngada NTT, 2.307 Rumah hingga Puluhan Kantor Pemerintahan Rusak
Terhuyung Bencana Dini Hari
Mengingat kembali detik-detik mencekam saat gempa magnitudo 7,7 terjadi, Saban menceritakan betapa sulitnya ia melangkah keluar untuk menyelamatkan diri. Guncangan kuat membuat struktur bangunan dan lantai rumahnya bergoyang hebat.
China Pantau Gempa NTT: Warganya Terluka, Beijing Siap Kirim Bantuan
"Nah begitu kan begini terus saya mau maju setengah mati mulu setengah mati goyang tu rumah goyang dengan lantai itu lantai rumah," ujar Saban memperagakan tubuhnya yang terhuyung-huyung saat diwawancarai dalam tayangan program Saksi Kata di kanal YouTube Tribun Flores.
Ketika Saban berusaha sekuat tenaga untuk keluar, tubuh bagian atasnya sudah berhasil melewati ambang pintu. Namun, kaki kirinya masih tertinggal di area dalam rumah. Saat itulah struktur tembok bangunan rumahnya roboh mendadak.
"Jadi saya setengah mati ah begitu saya mau keluar kaki ini sudah di luar ini masih dalam jatuh lagi tembok dari jatuh, sehingga dapat situ patah kena ya kaki ini kena tembok patah itu," tuturnya sembari menahan rasa sakit atas cedera yang dialaminya.
Dalam kondisi terluka parah dan kesakitan, Saban akhirnya berhasil dibopong oleh sang istri menuju area jalan raya di luar rumah untuk mengamankan diri dari ancaman bahaya gempa susulan.
Baca juga: Usai Gempa NTT, Air Bersih dan Jalan di Nagekeo Mulai Dipulihkan
Kehilangan Tempat Tinggal dan Menanti Bantuan Pemerintah
Selain menderita luka fisik yang parah, Saban juga harus menerima kenyataan pahit bahwa hunian tempat tinggalnya kini telah rata dengan tanah akibat guncangan dahsyat gempa Flores pada Sabtu pagi tersebut.
"Saya rasa dia (rumahnya) hancur," kata Saban pasrah.
Kini, Saban harus bertahan hidup di lokasi pengungsian bersama para penyintas gempa NTT lainnya. Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan dan pengungsian, ia menyuarakan harapannya kepada pihak pemerintah daerah maupun pusat untuk memberikan bantuan pemulihan tempat tinggal.
Bagi Saban, sarana untuk mencari nafkah sebagai nelayan masih bisa ia usahakan secara mandiri, tetapi membangun kembali hunian yang roboh menjadi hal yang sangat sulit.
"Kalau sampan (untuk melaut) saya bisa upayakan, kalau tempat tinggal ini sulit," ungkap Saban.
Baca juga: Gempa NTT M, Dua Ibu Melahirkan di Puskesmas Watubaing Sikka saat Gempa Susulan, 68 Orang Meninggal
Update Korban Gempa Flores, 68 Orang Meninggal Dunia
Dampak kerusakan dan jatuhnya korban jiwa akibat gempa bumi di Pulau Flores terus bertambah. Berdasarkan data penanganan bencana hingga Senin (17/8/2026) pukul 16.40 WITA, total korban meninggal dunia yang terdata telah mencapai 68 orang.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengonfirmasi rincian persebaran data korban jiwa di beberapa wilayah kabupaten terdampak di Nusa Tenggara Timur.
Media Asing Soroti Indonesia, Rayakan HUT RI di Tengah Duka Gempa NTT