Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Lansia dan Disabilitas Korban Gempa NTT Butuh Pemeriksaan Kesehatan - Kompas

    3 min read

     


    MANGGARAI, KOMPAS.com - Sejumlah lansia di posko mandiri di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), membutuhkan penanganan medis karena kondisi kesehatan yang kurang baik.

    Pantauan Kompas.com pada Kamis pagi (20/8/2026) di Posko Mandiri Raca, lima orang lansia menempati tenda darurat yang dibangun di halaman rumah salah seorang warga.

    Hadijah (67) mengatakan, kondisi kesehatannya tidak baik karena sedang menderita beberapa penyakit. Ia menderita TBC, tekanan darah tinggi dan diabetes.

    "Sejak gempa ikut mengungsi, sempat lari ke gunung 3 hari, lalu kembali ke sini," kata Hadijah kepada Kompas.com.

    Dokter Bertaruh Nyawa Selamatkan Pasien Operasi Saat Gempa NTT: Tuhan Tolong Saya

    Baca juga: Gempa Susulan Flores Capai 3.618 Kali, BMKG: Diperkirakan Berlangsung 3-4 Minggu

    Upaya menyelamatkan diri bersama keluarga membuat kondisi fisiknya semakin lemah. Ia lebih banyak duduk di dalam tenda darurat dengan kaki terentang sambil mengamati situasi sekitar.

    Saat gempa dengan kekuatan magnitudo 5,7 pada Kamis pagi, Hadijah mengaku ketakutan dan nyaris pasrah. Kakinya lemah tak bisa bergerak banyak untuk menyelamatkan diri.

    "Bisa jalan, tapi tidak bisa terlalu bergerak. Lemas," akunya.

    Baca juga: Sejumlah Masjid dan Gereja Roboh Akibat Gempa NTT, Menag Sebut Kesulitan Akses Jalan

    Sejak gempa M 7,7 Sabtu lalu dan gempa susulan yang terjadi setiap hari, Hadijah belum pernah memeriksa kesehatannya.

    Ia tidak mampu berpindah ke posko utama Barangkolong karena fasilitas posko utama juga belum memadai untuk kebutuhan lansia dengan kondisi seperti dirinya.

    "Kalau di sini toilet dekat," imbuh dia.

    Putrinya, Elfira (38), mengatakan kondisi ibunya semakin buruk selama berada di pengungsian. Mereka berharap tim medis bisa datang ke posko untuk memeriksa kondisinya.

    "Mama ada minum obat program TBC. Sisa 7 hari. Saat ini stoknya hanya itu," kata dia.

    Elfira menuturkan, posko mandiri yang mereka tempati saat ini memperoleh bahan makanan dari Posko Induk setiap hari. Hanya saja, sampai saat ini belum ada bantuan obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan.

    Disabilitas juga butuh perhatian

    Salah satu pengungsi di Posko Mandiri Raca adalah seorang disabilitas bernama Dafa Nugraha (20). Ia mengalami lumpuh kaki sejak lahir dan harus menggunakan kursi roda dan dibantu untuk berpindah tempat.

    Saat ditemui Kompas.com pada Kamis pagi, Dafa dengan kursi rodanya duduk di depan tenda darurat. Ia ditemani kakaknya Zahratun Isnaini (21).

    "Dari tadi malam gempa. Jadi dia duduk di sini terus," kata Zahratun.

    Dafa tidak bisa dipindah ke posko utama karena kondisinya yang penuh keterbatasan. Zahratun mengatakan, mereka hanya bisa mengungsi di posko dekat rumah mereka yang berlokasi di Kampung Raca Timur supaya dekat dengan rumah dan banyak kerabat yang membantu.

    "Kita terpaksa di posko mandiri karna dekat rumah. Adik bisa mudah buang air dan kalau gempa, ada beberapa orang yang bisa angkat untuk evakuasi," ujar Zahratun.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Warga NTT Masih Syok Usai Gempa Magnitudo 7,7, BNPB: Teringat Tsunami 1992

    Komentar
    Additional JS