"Layout" Kopdes Merah Putih Dikritik Warganet Tak Sesuai Planogram, Apa Itu? - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kembali ramai diperbincangkan publik.
Kali ini, sorotan datang bukan dari skema pembiayaan maupun target pembentukan koperasi, melainkan dari tata letak produk di dalam toko yang dinilai warganet tidak mengikuti standar penataan ritel modern.
Perbincangan bermula setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional 1.061 unit Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada 16 Mei 2026.
Foto dan video kondisi toko yang beredar di media sosial kemudian memicu kritik terkait susunan barang di rak penjualan.
Capai Ratusan Triliun, Bongkar Anggaran Kopdes Merah Putih Selama 6 Tahun
Dalam platform Threads dan X, sejumlah pengguna media sosial menilai penataan produk di dalam koperasi terlihat renggang, tidak seragam, dan belum menerapkan prinsip dasar planogram.
Baca juga: Sekolah Rakyat di Ogan Ilir Masuk Tahap Arsitektur dan Penataan Kawasan
“Display toko itu gak asal, ada ilmunya. bukan sekedar warna pink berjejer warna pink, warna kuning berjejer warna kuning belajar dulu planogram baru buka kopdes bro. gimana itu minyak sayur kau taroh dibawah AC? produk yg bagus harus ada di eye level, minuman jangan taruh bawah, space kosongnya banyak juga,” tulis salah satu akun Threads.
Apa Itu Planogram?
Dalam dunia ritel modern, planogram merupakan panduan visual yang digunakan untuk mengatur tata letak produk di rak toko.
Jurnal ilmiah berjudul Embedded Vision Sensor Network for Planogram Maintenance in Retail Environments yang ditulis Mario Martinel, Alessandro Zanella, Andrea Vaquero, dan Carlo Micheloni pada 2015 menjelaskan planogram sebagai peta visual terperinci yang menunjukkan posisi produk di toko ritel.
Baca juga: Mahasiswa Tabrak Lari Polisi di Bandung hingga Tewas, Ada Dua Prajurit TNI di Dalam Mobil
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sensors tersebut menjelaskan planogram digunakan untuk menentukan posisi produk di rak agar penjualan meningkat dan pengalaman belanja konsumen menjadi lebih baik.
Planogram tidak sekadar menyusun barang berdasarkan kategori atau warna. Sistem ini mempertimbangkan beberapa hal:
- Posisi pandangan mata konsumen,
- Perilaku belanja,
- Ukuran produk,
- Kategori barang,
- Pola lalu lintas pengunjung di dalam toko.
Sementara itu, jurnal berjudul A Customer Behavior-Driven Clustering Method in the Planogram Design Domain karya Po-Hao Chen dan tim yang terbit pada 2025, planogram disebut sebagai metode pengaturan tata letak produk untuk meningkatkan efisiensi ruang dan pengalaman pelanggan saat berbelanja.
Baca juga: Pengelolaan Masih Kurang, Prabowo Akui 3.000 Dapur MBG Tutup
Dalam praktik ritel modern, produk dengan margin keuntungan tinggi umumnya ditempatkan di area paling strategis, seperti setinggi mata pelanggan atau di ujung lorong toko karena lebih mudah terlihat.
Produk pelengkap juga biasanya diletakkan berdekatan untuk mendorong pembelian tambahan. Misalnya, kopi ditempatkan dekat biskuit atau saus diletakkan di area pasta.
Mengapa Planogram Penting?
Mengutip jurnal berjudul Food Purchasing Behaviour at Automatic Vending Machines: The Role of Planograms and Shopping Time yang terbit pada tahun 2020 yang ditulis Luca Marinelli, Fabio Fiano, Gian Luca Gregori, dan Lucia Michela Daniel, planogram berperan penting dalam memengaruhi perilaku pembelian konsumen, termasuk dalam mesin penjual otomatis.
Tata letak produk dinilai dapat memengaruhi keputusan pembelian dan waktu konsumen saat memilih produk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Di Tanjakan Minim Lahan Parkir, Kopdes Merah Putih Bukit Gado-gado Diklaim Strategis