Pascagempa NTT, Warga di Manggarai Kekurangan Makanan, Bertahan dengan Jagung - Kompas
MANGGARAI, KOMPAS.com – Warga yang mengungsi di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi keterbatasan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).
Salah satunya Di Kampung Lando, Desa Lando, Kecamatan Cibal, warga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Mereka masih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman kampung maupun halaman rumah.
Mereka belum berani kembali ke rumah karena sebagian besar bangunan mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat.
Gempa NTT Hancurkan Masjid dan Gereja, Tangis Warga Pecah di Manggarai Timur
Baca juga: Gempa Susulan Flores Capai 3.618 Kali, BMKG: Diperkirakan Berlangsung 3-4 Minggu
Warga Mengolah Jagung
Salah satu warga, Etriana Lembu Nai, mengatakan, warga memenuhi kebutuhan makanan secara swadaya dengan mengandalkan urunan dari sesama warga.
Keterbatasan bahan makanan membuat warga harus mengolah apa yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Pada Kamis (20/8/2026), warga sedang memisahkan bulir-bulir jagung untuk digoreng dan disantap bersama. Jagung tersebut dimasak di atas tungku api sederhana yang dibuat di lokasi pengungsian.
"Stok makanan tidak cukup untuk banyak orang. Mama-mama goreng jagung," ujarnya, Kamis, dilansir dari TribunFlores.
Etriana mengatakan hingga Kamis, warga di wilayah tersebut belum menerima bantuan berupa sembako maupun terpal untuk mendukung kebutuhan pengungsian.
Baca juga: 6 Hari Mengungsi Pascagempa NTT, Warga di Manggarai Belum Dapat Bantuan, Kehabisan Makanan
Warga juga harus menghadapi udara dingin pada malam hingga dini hari. Mereka tidur di tenda seadanya dengan perlengkapan yang terbatas.
Warga berharap bantuan segera datang, terutama berupa bahan makanan, terpal, dan kebutuhan dasar lainnya selama mereka masih bertahan di pengungsian.
Butuh Terpal dan Lampu
Kondisi serupa dialami warga Desa Beamese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.
Bahkan, posko pengungsian di desa tersebut sempat dilanda hujan dengan intensitas ringan pada Kamis (20/8/2026) siang.
Salah seorang warga, Gregorius Aka mengatakan, warga hanya bisa pasrah ketika hujan turun karena sebagian besar masih bertahan di tenda darurat.
Baca juga: Lansia dan Disabilitas Korban Gempa NTT Butuh Pemeriksaan Kesehatan
Sejak pagi, kata dia, kondisi langit yang mendung sudah membuat warga khawatir hujan akan turun.
"Mau bagaimana lagi, hujan turun di tenda darurat. Kami hanya pasrah dengan keadaan," ujarnya, dilansir dari TribunFlores.
Selain hujan, warga juga mengkhawatirkan kondisi penerangan pada malam hari.
Baca juga: Warga Manggarai Korban Gempa NTT Kekurangan Tenda, Matras dan Selimut
Gregorius mengatakan warga membutuhkan lampu yang dapat diisi ulang karena persediaan senter yang dimiliki warga tidak memadai.
"Yang penting jangan mati lampu saat malam hari. Kami punya senter, tetapi tidak memadai. Saat ini kami juga butuh lampu cas dan terpal yang layak," katanya.
Warga berharap bantuan berupa terpal, lampu cas, dan kebutuhan dasar lainnya segera disalurkan ke lokasi pengungsian.
Bagi warga yang masih bertahan di tenda darurat, makanan, perlindungan dari hujan, dan penerangan pada malam hari menjadi kebutuhan mendesak selama masa pengungsian.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Tiga Hari Pascagempa, Warga Reo Masih Trauma dan Bertahan di Tenda Seadanya