Pemilik Kolam Tuntut Ganti Rugi, Banyak Ikan Mati Usai Air Diambil Heli Padamkan Karhutla - Kompas
BANJAR, KOMPAS.com – Seorang warga bernama Ahmad Jailani meminta pertanggungjawaban Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setelah air kolam pemancingan miliknya di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, diambil helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pengambilan air itu membuat volume kolam milik Jailani menyusut drastis hingga berdampak pada ikan yang sedang dibudidayakan.
Jailani mengatakan, sekitar dua ton ikan berbagai jenis berada di dalam kolam pemancingan yang dikelolanya.
"Kolam saya ini khusus untuk kolam pemancingan, dan isi kolam ini sebanyak dua ton ikan dengan berbagai jenis," kata Jailani dilansir dari Kompas.com, Jumat (28/8/2026).
Momen Warga Palembang Shalat Meminta Hujan di Tengah Meluasnya Karhutla
"Karena adanya helikopter tadi ikan menjadi stres dan banyak yang mati," tambahnya.
Baca juga: Mortir Peninggalan PD 2 Ditemukan di Hutan Biak Papua Saat Karhutla
Helikopter Beberapa Kali Ambil Air
Helikopter water bombing mengambil air dari kolam milik Jailani pada Kamis (27/8/2026) ketika operasi pemadaman karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalsel.
Jailani mengaku sudah berusaha mencegah pengambilan air dengan memberikan kode kepada pilot ketika helikopter melintas di atas kolam.
Namun, upaya itu tidak dihiraukan sehingga helikopter tetap mengambil air dari kolam pemancingan miliknya.
"Sudah kita kasih kode agar jangan mengambil air di kolam ini. Namun, mereka tetap mengambilnya," jelasnya.
Pengambilan air juga tidak hanya dilakukan sekali. Helikopter water bombing beberapa kali datang hingga persediaan air di kolam pemancingan berkurang secara drastis.
Baca juga: Karhutla di Siak Riau Meluas hingga Kawasan Konservasi Taman Nasional Zamrud
Kolam Dikelola Sejak 2010
Jailani mengandalkan usaha pemancingan yang dikelolanya sejak 2010 untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarganya.
Selama musim kemarau, ia bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan agar ketersediaan air di kolam tetap terjaga.
Jailani mengisi kolam menggunakan mobil pikap yang dilengkapi tandon air. Setiap kali mengangkut air, ia mengeluarkan biaya hingga Rp 600.000.
"Selama kemarau ini kami berusaha mempertahankan debit air dengan mengisi menggunakan mobil pikap dengan disertai tandon air. Sekali angkut itu saya mengeluarkan biaya sebesar Rp 600.000," beber Jailani.
Kondisi kolam setelah air diambil membuat Jailani merasa dirugikan dan keberatan.
Respons Pernyataan Mensesneg, Polri Siap Seret Korporasi yang Terlibat Karhutla