Prabowo Singgung Nuklir Iran dalam Pidatonya, Pengamat Timur Tengah Pastikan Iran tak Punya Senjata Pemusnah Massal Tersebut - Afu
Penulis: Agung Riyadi
JAKARTA, AFU.ID - Pengamat masalah geopolitik Timur Tengah Faisal Assegaf mengatakan, Iran dipastikan tak memiliki senjata nuklir. Hal tersebut disampaikan Faisal menanggapi Pidato Presiden Prabowo Subianto di hadapan para anggota Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Jumat (31/7/20206) kemarin.
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai berpotensi memicu proliferasi senjata nuklir. "Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (UEA) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir," ungkap Prabowo.
Pernyataan itu sempat mengundang heboh netizen di media sosial X setelah potongan video siaran langsung (live streaming) pidato Presiden Prabowo di area Istana tiba-tiba terputus. Terkait isu ini, Faisal mengatakan, dalam pidatonya Prabowo, tidak menegaskan bahwa Iran memiliki senjata nuklir. "Bukan Prabowo yang mengatakan itu tapi dia mengutip tudingan atau kekhawatiran dari Amerika Serikat dan Israel," kata Faisal kepada Afu.id, Sabtu (1/8/2026).
Baca Juga
- Soroti Potensi Perang Nuklir di Depan Pengurus Kadin, Pidato Siaran Langsung Presiden Prabowo Mendadak Terpotong dan Timbulkan Kehebohan di Jagat Maya
- Saudi Kena Prank: Harus Normalisasi Hubungan dengan Israel kalau Mau Nuklir
- Saudi Segera Punya Fasilitas Pengayaan Uranium setelah Dapat Restu dari Trump, Saingi Nuklir Iran?
Prabowo, kata Faisal, hanya mengkhawatirkan akan ada negara-negara di Timur Tengah ingin memiliki senjata nuklir, setelah Arab Saudi bersepakat dengan Amerika untuk membangun reaktor nuklir di negara itu. "Saat ini, baru Uni Emirat Arab mempunya reaktor nuklir di antara enam negara Arab Teluk," jelas Faisal.
Sementara, Iran dipastikan tidak memiliki senjata nuklir karena tiga alasan. Pertama, Iran adalah anggota NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir), yang melarang negara anggotanya memiliki senjata nuklir atau menyebarkan teknologi pembuatan senjata nuklir. "Negara anggota hanya boleh memgembangkan program nuklir untuk kepentingan sipil, bukan militer, misalnya untuk kepentingan medis dan penelitian," papar Faisal.
Kedua, sebagai anggota NPT, otomatis Iran harus memberikan akses kepada tim pengawas IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional untuk memeriksa fasilitas-fasilitas nuklir Iran dan itu sudah dilakukan berkali-kali. "Dan kesimpulannya Iran tidak memiliki senjata nuklir. Bahkan di tengah perang Iran melawan agresi Amerika Serikat dan Israel, pada 10 Maret, Direktur IAEA Rafael Grossi menegaskan kembali Iran tidak mempunyai niatan untuk membuat senjata pemusnah massal itu," tegas Faisal.
Alasan ketiga, kata Faisal, adanya fatwa dari pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Khomeini tentang larangan Iran membuat senjata pemusnah massal, seperti bom atom, senjata biologi, dan senjata kimia. Fatwa itu, ujar Faisal, hingga saat ini belum masih berlaku dan belum dicabut.
"Alhasil, tudingan Amerika Serikat dan Israel soal Iran ingin membikin senjata nuklir adalah karangan belaka untuk menjelekkan sekaligus memojokkan Iran agar dianggap sebagai ancaman bagi perdamaian serta keamanan di kawasan Timur Tengah dan global,' terangnya.
Kampanye negatif itu, menurut Faisal, dilancarkan karena Iran setelah kemenangan Revolusi Islam pada 1979, menyatakan secara terbuka anti Zionis, yang berarti Iran memusuhi Israel dan sekutu istimewanya, Amerika Serikat. "Iran bahkan tidak mengakui eksistensi Israel dan ingin menghancurkan Israel," tegas Faisal.
"Iran juga menjadi musih bebuyutan Israel dan Amerika karena mendukung perjuangan bangsa Palestina secara konkret, yakni membantu pendirian, mendanai, melatih dan mempersenjatai kelompok pejuang Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam," pungkasnya.
MAR