Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    MENGHUBUNGKAN TRANSMISI...
    Home Berita Featured Makan Bergizi Gratis Nobel Perdamaian Spesial

    Ramai Soal Makalah MBG Diusulkan jadi Peraih Nobel Perdamaian, Mensesneg Enggan Komentar Panjang -

    4 min read

     Close Ads x

    Kompas.tv - 8 Agustus 2026, 10:47 WIB

    Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Pekerja menyiapkan paket makanan untuk program MBG di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jebres yang telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Solo, Jawa Tengah, Rabu (8/10/2025). (Sumber: ANTARA FOTO/Maulana Surya)

    JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi enggan mengomentari beredarnya makalah tentang program makan bergizi gratis (MBG) diusulkan sebagai peraih Nobel Perdamaian atau Nobel Peace Prize 2026.

    Politikus Gerindra itu hanya memastikan pemerintah akan bekerja keras menyukseskan program prioritas tersebut. 

    "Gimana ya? Yah, kita... kitalah yang tidak ingin mengomentari itu (soal makalah MBG yang diusulkan Nobel)," ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/8/2026). 

    "Kita mau bekerja sebaik-baiknya untuk supaya pelaksanaan MBG itu dapat berjalan sebagaimana yang seharusnya, terutama dalam hal untuk kita ingin mengatasi masalah stunting. Jadi kita enggak mau mengomentari." 

    Baca Juga: BGN Tegaskan SLHS Syarat Mutlak Setiap Dapur MBG, Beri Tenggat Waktu Urus hingga 10 Agustus 2026

    Adapun makalah berjudul "Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia's Economic Growth" ramai jadi sorotan di media sosial karena menuliskan nama Prabowo Subianto sebagai salah satu pencipta.

    Makalah tersebut diunggah di laman SSRN pada 31 Maret 2026 lalu. Sampai saat artikel ini ditulis, makalah tersebut masih dapat diakses di laman tersebut. 

    Tidak hanya Prabowo, ada sejumlah nama pencipta lain dalam makalah tersebut, yakni Prof. Dr. Dian Damayanti dari Universitas Borobudur Jakarta, Ashar Sunarso dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Norhidayah Azman dari Management and Science University, Iwan dari Universitas Negeri Jakarta. 

    Kemudian, Prof. Dr. Ir. Gimbal Doloksaribu dari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Prof. Dr. Cicih Ratnasih dari Universitas Borobudur Jakarta, Mansuri dari Universitas Borobudur Jakarta, Dr. Sugiyanto Saleh dari Universitas Borobudur Jakarta, dan Prof. Dr. Ninuk Lustyantie dari Universitas Negeri Jakarta. 

    Baca Juga: BGN Buka 3 PO Box Sekaligus, Pegawai, Mitra, sampai Masyarakat Bisa Lapor Aduan soal MBG

    Dalam abstrak makalah tersebut, dituliskan bahwa program MBG menunjukkan bagaimana intervensi sosial dapat dirancang tidak hanya untuk mengatasi ketimpangan gizi, tetapi juga untuk memicu peluang ekonomi dengan melibatkan usaha kecil dan menengah (UKM), produsen lokal, dan rantai pasok berbasis teknologi. 

    Temuan studi tersebut juga mengungkapkan bahwa inisiatif program tersebut telah secara signifikan meningkatkan akses terhadap makanan bergizi bagi kelompok rentan, khususnya anak-anak dan rumah tangga berpenghasilan rendah, sembari memperkuat ekosistem pangan lokal. 

    Selain itu, sinergi kebijakan pemerintah dan inovasi swasta disebut menghasilkan dampak positif turunan, termasuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan permintaan produk pertanian, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih sehat. 

    Sumber : Kompas TV

    Komentar
    Additional JS