Rumah Baru Itu Runtuh akibat Gempa, Aisyah dan Ahmad Kini Berteduh di Bawah Tenda - Kompas
MANGGARAI, KOMPAS.com – Aisyah (64) dan suaminya, Ahmad Dangmolongi (72), memilih berteduh di luar tenda pengungsian di Posko Barangkolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026) siang.
Terik matahari membuat keduanya tak betah berada di dalam tenda.
Pasangan lansia tersebut duduk bersama sejumlah pengungsi lain di sisi teduh belakang tenda polisi yang digunakan untuk koordinasi. Aisyah menggelar tikar di atas tanah, sementara Ahmad duduk di kursi dengan tongkat di sampingnya.
Gempa NTT Hancurkan Masjid dan Gereja, Tangis Warga Pecah di Manggarai Timur
Baca juga: Gempa M 7,7 Guncang Sikka: 4 Tewas, 1.540 Rumah Rusak, 7.104 Mengungsi
"Panas di dalam. Kami tidak tahan," katanya kepada Kompas.com, Selasa.
Bukan hanya panas yang membuat keduanya tak nyaman. Aisyah dan Ahmad kehilangan rumah setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Rumah permanen yang baru mereka tempati selama dua tahun itu rusak akibat guncangan gempa. Kini, keduanya harus bertahan di pengungsian tanpa kepastian kapan dapat kembali memiliki tempat tinggal.
Aisyah mengaku masih mengalami trauma setelah gempa terjadi. Saat itu, ia baru selesai melaksanakan shalat Subuh dan mengaji ketika merasakan rumahnya bergetar.
"Saya habis sembahyang Subuh. Habis itu ngaji. Ada firasat, perasaan tidak enak. Saya lalu keluar, simpan Al Quran. Ada bunyi 'krak, krak!'," katanya sambil memegang dada.
Begitu menyadari gempa terjadi, Aisyah langsung teringat suaminya yang berada di ruangan belakang rumah. Ia bergegas menghampiri Ahmad.
"Saya bilang, 'gempa mungkin!' Saat itu runtuh dinding rumah," ucapnya.
Dalam kepanikan, Aisyah berusaha menyelamatkan dirinya dan Ahmad yang mengalami stroke dan kesulitan bergerak. Namun, reruntuhan dinding bangunan sempat mengenai punggungnya.
Baca juga: Kisah Nenek Selamatkan Cucu 4 Tahun saat Rumah Runtuh Diguncang Gempa NTT
"Bukan luka. Tapi biru-biru lebam," keluhnya sambil menunjuk bagian punggung yang mengalami lebam.
Sementara itu, Ahmad mengaku hanya bisa pasrah ketika gempa mengguncang rumah mereka. Kondisi stroke membuatnya tidak dapat bergerak dengan leluasa.
"Saya tidak bisa bergerak. Ada tetangga datang bantu gendong saya," katanya.
Ia bersyukur sejumlah tetangga segera datang dan membantu mengevakuasinya dari rumah.
Rumah baru dua tahun ditempati
Rumah yang ditempati Aisyah dan Ahmad merupakan rumah permanen yang dibangun oleh anak-anak mereka. Rumah tersebut baru dihuni selama sekitar dua tahun sebelum rusak akibat gempa.
Baca juga: Usai Gempa NTT, Warga di Manggarai Timur Harus Jalan 2 Km ke Gunung demi Cari Sinyal
"Masih baru itu rumah. Tetangga-tetangga di situ juga rumah baru semua," katanya.
Kini, Aisyah mengaku bingung memikirkan tempat tinggal mereka setelah masa tanggap darurat berakhir. Rumah anak-anaknya juga turut terdampak dan mengalami kerusakan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Aisyah berharap gempa segera berakhir sehingga warga dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelum bencana.
Meski masih trauma untuk kembali ke rumah yang telah runtuh, ia juga berharap tidak perlu terlalu lama tinggal di pengungsian.
"Semoga pemerintah bisa segera bangun rumah kami lagi," tutupnya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Tiga Hari Pascagempa, Warga Reo Masih Trauma dan Bertahan di Tenda Seadanya