Seluruh Sistem Penyediaan Air Minum NTT Rusak, Pemerintah Mobilisasi Tangkis - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Seluruh sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) rusak.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, akibatnya, seluruh warga terdampak bencana mengeluhkan kekurangan air bersih.
"Sementara waktu kita pakai tangki-tangki air, kita masukin ke hidran-hidran utama untuk nyuplai. Nanti kemudian kita mikirin bagaimana sanitasi bisa terlayani," kata Dody di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/08/2026).
Baca juga: Rogoh Kocek Pribadi Rp 5 Miliar, Ara Bangun Rumah Korban Gempa NTT
Sementara untuk sanitasi, Kementerian PU tengah mendorong pengadaan toilet mobile untuk warga terdampak.
Warga NTT Masih Syok Usai Gempa Magnitudo 7,7, BNPB: Teringat Tsunami 1992
"Sementara ini saya lihat belum ada mobil toilet segala macam, tapi ini kita lagi push toilet mobil segala macam segera meluncur," ujarnya.
Tanggap Darurat Butuh Rp 100 Miliar
Kebutuhan anggaran untuk tanggap darurat bencana gempa bumi yang melanda NTT mencapai angka Rp 109,78 miliar.
Baca juga: Penanganan Pascagempa NTT, Mendagri Pastikan Fokus Pulihkan Layanan Dasar dan Percepat Pendataan
Usulan total anggaran untuk infrastruktur terdampak dan penanganan darurat bencana NTT mencapai Rp 906,46 miliar.
Angka tersebut terdiri dari usulan anggaran tanggap darurat Rp 109,78 miliar dan usulan anggaran rehabilitasi-rekonstruksi sebesar Rp 796,68 miliar.
Dody mengatakan, anggaran tanggap darurat dan rehabilitasi-rekonstruksi pasca gempa NTT akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian PU tahun 2026.
"Kalau tanggap darurat tuh anggarannya sebetulnya itu ada di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tapi kan BNPB juga lagi kesulitan jadi sementara waktu karena kan mesti kerja cepat, sementara waktu saya ambil dari uang saya sendiri (APBN Kementerian PU)," kata Dody.
Baca juga: Tanggap Darurat Gempa NTT Butuh Anggaran Rp 100 Miliar
Dody mengatakan, anggaran untuk penanganan darurat tersebut akan direalokasi dari sejumlah proyek di lingkungan Kementerian PU.
"Semua, semua dari proyek-proyek yang terkait. Bina Marga, Cipta Karya, semua-semua dari proyek strategis semua," kata Dody.
Namun, berbeda dengan paparan, Dody mengatakan bahwa Kementerian PU juga menyiapkan sekitar Rp 610 miliar untuk kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur di NTT.
Baca juga: Mendagri Siapkan Rencana Prioritas Penanganan Korban Gempa di NTT
"Kita anggarkan Rp 610-an miliar untuk rehab-rekon. Tapi nanti ya," ucapnya.
Kerusakan Infrastruktur Masih Bertambah
Ungkap Dody, gempa hingga saat ini masih terjadi di sejumlah wilayah NTT. Hal tersebut mengakibatkan jumlah infrastruktur yang rusak masih belum bisa dipastikan jumlahnya.
Ia menyebut, terdapat satu jembatan di Manggarai Timur yang roboh setelah gempa terbaru. Tim Kementerian PU disebut sedang menuju lokasi untuk mengecek kondisi jembatan tersebut.
Kementerian PU juga memprioritaskan penanganan jalan dan jembatan nasional, salah satunya Jembatan Wae Pesi. Jembatan tersebut masih dapat dilalui secara terbatas, tetapi sejumlah bagian strukturnya mengalami kerusakan.
Baca juga: AHY Instruksikan Dody Bebaskan Daerah Terisolir akibat Gempa NTT
Kementerian PU berencana memasang jembatan Bailey untuk menjaga akses tetap terbuka. Setelah jembatan Bailey terpasang, jembatan eksisting akan diperbaiki.
Dody mengatakan, Jembatan Wae Pesi menjadi prioritas karena akses tersebut terhubung dengan Pelabuhan Reo yang memiliki depo Pertamina.
"Kalau ini sampai kemudian aksesnya buntu repot. BBM nanti yang tersalur ke Ruteng, yang tersalur ke Ende pasti akan terhenti semua," kata Dody.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Instruksi Prabowo: Gerak Cepat Tangani Gempa NTT, Pastikan Warga Dapat Bantuan