Sipon dan Saluran Tersier Irigasi Mbay NTT Rusak Imbas Gempa, 170 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen - Kompas
KUPANG, KOMPAS.com - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, merusak sejumlah infrastruktur pertanian di Kabupaten Nagekeo.
Salah satunya adalah sipon dan saluran tersier yang berfungsi mengalirkan air menuju lahan persawahan di daerah Irigasi Mbay.
Kerusakan tersebut membuat distribusi air ke sawah terganggu dan berpotensi menyebabkan sekitar 170 hektare lahan pertanian kekurangan air.
Eugenio Pacelly Bado Towary, warga Waekokak sekaligus mantan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang telah purna bakti pada 2025, mengatakan bahwa kerusakan terjadi pada sipon dan saluran tersier akibat gempa.
Ahli ITB Ungkap Gempa NTT Mirip Gempa Dahsyat 1992 Penyebab Tsunami, Apa yang Perlu Diwaspadai?
"Sipon dan saluran tersier rusak akibat gempa bumi tanggal 15 Agustus 2026 lalu," kata Eugenio kepada Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Baca juga: Gempa M 5,9 Guncang Ruteng pada Kamis Pagi, Warga Flores Rasakan Getaran Keras dan Lama
Menurut dia, kondisi tersebut mengancam keberlangsungan pertanian warga karena air tidak lagi dapat mengalir secara normal menuju sawah.
"Ekonomi petani bisa lumpuh total, karena tidak ada air yang mengalir ke sawah," ujarnya.
170 Hektare Sawah Terancam
Eugenio mengatakan, kerusakan jaringan irigasi tersebut berpotensi berdampak terhadap sekitar 170 hektare lahan sawah.
Baca juga: Jembatan Berusia 53 Tahun di Lampung Tengah Putus, Akses Warga hingga Layanan Kesehatan Terganggu
Selain itu, terdapat 12 kelompok tani yang menggantungkan aktivitas pertaniannya pada pasokan air dari jaringan irigasi tersebut.
Oleh karena itu, menurut dia, jika kerusakan tidak segera diperbaiki, para petani dikhawatirkan tidak dapat mengelola sawah secara optimal dan berpotensi mengalami gagal panen.
"Kami berharap Bapak Presiden melalui Menteri PUPR dan Kementerian Pertanian bisa segera membantu perbaikan," katanya.
Baca juga: Gempa Susulan Kembali Terjadi di NTT, Warga Manggarai Timur Berhamburan Keluar Rumah
Menurut Eugenio, salah satu infrastruktur yang membutuhkan penanganan segera adalah Talang Air Sekunder 3 menuju persawahan Mbay Kiri di Kelurahan Mbay Satu yang kondisinya hampir ambruk.
Selain itu, pembangunan kembali saluran tersier di Desa Waekokak juga diperlukan agar distribusi air menuju lahan pertanian dapat kembali normal.
"Supaya distribusi air bisa normal agar petani bisa mengelola sawah. Karena kalau tidak, maka akan lumpuh total ekonomi petani Desa Waekokak dan petani sekitarnya di daerah Mbay," ungkapnya.
Baca juga: Belum Tersentuh Bantuan, Pengungsi Gempa Nagekeo NTT Bertahan Hidup dengan Patungan
Masih Mengungsi
Di tengah kondisi tersebut, Eugenio mengaku bahwa dirinya masih mengungsi bersama warga lainnya di sejumlah tenda darurat setelah gempa mengguncang wilayah Flores.
"Kami mengungsi sekitar 500 meter dari daerah irigasi," katanya.
Dia pun kembali berharap pemerintah segera melakukan perbaikan jaringan irigasi sehingga petani dapat kembali memperoleh pasokan air dan melanjutkan aktivitas pertanian.
Perbaikan infrastruktur irigasi dinilai penting bukan hanya untuk memastikan lahan sawah tetap produktif, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Baca juga: Jembatan Penghubung di Jalur Trans Flores Terancam Putus Akibat Gempa NTT
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Kondisi NTT Setelah Diguncang Gempa M 7,7