SPBU Shell Diambil Alih SEFAS, Apakah Super dan V-Power Bakal Tersedia Lagi di Indonesia? - OtoDream
Otodream - Bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum, atau SPBU Shell di Indonesia memasuki babak baru. SEFAS Group resmi mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi 100 persen bisnis SPBU Shell di Indonesia, sebuah langkah yang menandai berakhirnya pengelolaan langsung bisnis ritel bahan bakar Shell oleh principal globalnya di Tanah Air.
Kesepakatan tersebut masih tunduk pada persetujuan regulator serta sejumlah persyaratan umum lainnya. Penyelesaian transaksi ditargetkan berlangsung pada tahun ini.

Langkah ini menjadi sorotan karena terjadi ketika jaringan SPBU Shell justru tengah menghadapi persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Hingga Rabu 19 Agustus 2026, sejumlah SPBU masih mengalami kekosongan produk bensin, sementara kompetitor seperti BP-AKR dan Vivo sudah kembali menawarkan BBM bensin dengan Research Octane Number (RON) 92 dan RON 95.
Mengacu pada informasi di situs resmi Shell Indonesia, produk BBM yang terlihat tersedia saat ini antara lain V-Power Diesel yang dipasarkan di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Namun, ketersediaannya juga tidak merata di seluruh jaringan SPBU Shell.
Bahkan, terdapat sejumlah lokasi yang tidak lagi menawarkan layanan pengisian BBM dan hanya menjalankan aktivitas lain, seperti layanan servis sepeda motor maupun penggantian pelumas.
Kondisi tersebut menjadi kontras dengan situasi beberapa waktu sebelumnya ketika pasokan BBM Shell, khususnya Shell Super dengan RON 92, sempat kembali normal setelah terjadi polemik mengenai pasokan minyak mentah.
Shell sebelumnya sempat bersitegang dengan pemerintah terkait kebijakan pemenuhan kebutuhan BBM melalui pasokan domestik. Pemerintah mendorong badan usaha swasta penjual BBM untuk memanfaatkan minyak mentah yang tersedia melalui Pertamina.
Dalam perkembangannya, Shell dan pemerintah mencapai kesepakatan terkait pasokan tersebut sehingga ketersediaan BBM Shell sempat berangsur normal. Namun, kondisi pasokan kemudian kembali menjadi persoalan hingga akhirnya bisnis SPBU Shell memasuki fase transisi kepemilikan.

Chief Executive Officer SEFAS Group Ricky Roesli mengatakan, perusahaan bangga dapat mengambil langkah bisnis berikutnya setelah selama ini menjadi distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia.
“Sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia, SEFAS bangga dapat mengambil langkah bisnis berikutnya, dan mendukung pertumbuhan masa depan sektor ritel energi Indonesia,” ujar Ricky, dikutip Antaranews.
Menurutnya, SEFAS akan melanjutkan proses akuisisi hingga seluruh persyaratan transaksi terpenuhi. Perusahaan juga memastikan proses peralihan kepemilikan akan dilakukan dengan tetap menjaga keamanan dan keandalan operasional.
Meski kepemilikan bisnis SPBU berpindah tangan, konsumen masih akan menemukan merek Shell di Indonesia. Pasalnya, Shell akan tetap hadir melalui skema lisensi merek.
Dengan demikian, secara operasional jaringan SPBU tersebut nantinya berada di bawah kepemilikan lokal, sementara identitas Shell tetap digunakan berdasarkan perjanjian lisensi. Skema ini sekaligus memastikan kesinambungan layanan bagi pelanggan, karyawan, dan mitra bisnis.
“Kepemilikan lokal memberikan landasan yang kuat bagi fase pengembangan bisnis selanjutnya. Ambisi kami adalah membangun salah satu bisnis ritel energi yang paling terpercaya dan berkelanjutan di Indonesia, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi negara serta kebutuhan energi yang terus berkembang,” kata Ricky.
Sementara menurur Presiden Direktur Shell Indonesia Andri Pratiwa, SEFAS bukanlah pemain baru bagi Shell. Kedua perusahaan telah memiliki hubungan kerja sama yang cukup panjang, khususnya karena SEFAS merupakan distributor pelumas Shell di Indonesia.
“SEFAS merupakan mitra yang telah lama bekerja sama dengan Shell di Indonesia dan memiliki pemahaman mendalam mengenai pasar lokal, selain kebutuhan pelanggan, serta jaringan yang telah terbangun kuat untuk mendukung fase pertumbuhan bisnis berikutnya,” ujar Andri.
Bagi Shell, keputusan tersebut dapat dibaca sebagai perubahan strategi dalam menjalankan bisnis ritel energi di Indonesia. Sebelumnya, bisnis bahan bakar Shell dikelola melalui PT Shell Indonesia yang merupakan bagian dari perusahaan energi global Shell plc.
Dengan akuisisi 100 persen bisnis SPBU oleh SEFAS, pengelolaan jaringan ritel BBM tersebut tidak lagi berada secara langsung di bawah principal Shell. Shell tetap mempertahankan kehadirannya melalui lisensi merek, tetapi kepemilikan bisnis beralih kepada perusahaan lokal.
Di sisi lain, tantangan terbesar bagi SEFAS setelah transaksi selesai bukan hanya mempertahankan merek Shell, tetapi juga mengembalikan kepercayaan konsumen terhadap ketersediaan BBM. Pasalnya, kelangkaan produk bensin dalam beberapa waktu terakhir berpotensi memengaruhi konsumen yang selama ini mengandalkan Shell Super maupun produk bensin beroktan lebih tinggi.
Transisi kepemilikan ini akhirnya menjadi momentum penting bagi jaringan SPBU Shell untuk menentukan arah bisnis berikutnya di Indonesia. Apalagi, persaingan pasar BBM ritel semakin ketat dengan kehadiran Pertamina, BP-AKR, Vivo, dan sejumlah pemain lainnya.
Jika proses akuisisi berjalan sesuai rencana, tahun 2026 menjadi titik perubahan besar bagi bisnis Shell di Indonesia: dari pengelolaan langsung oleh principal global menjadi bisnis ritel energi dengan kepemilikan lokal, sementara merek Shell tetap dipertahankan melalui skema lisensi.
