Sosial Media
Opsi Update
powered by Surfing Waves
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik - KONTAN

    12 min read

     

    Minggu, 30 Agustus 2026 |  18:33 WIB

    Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik

    Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto

    KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketersediaan sapi siap potong di kandang penggemukan (feedlot) semakin terbatas.

    Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga daging sapi tetap tinggi hingga beberapa bulan ke depan, terutama di tengah produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

    Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi mengatakan, stok sapi di feedlot saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar hingga sekitar November 2026.

    Baca Juga: Permenaker Alih Daya Terbit, SP JICT Dorong Pelindo Evaluasi Tenaga Kerja

    Menurut dia, terbatasnya pasokan sapi siap potong menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga daging sapi di tingkat konsumen.

    " Saat ini sudah banyak importir sapi yang angkat bendera putih," kata Asnawi kepada Kontan.co.id, Minggu (30/8/2026).

    PENTING DICERMATI

    Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite, Orang Kaya Tak Bisa Beli BBM Subsidi


    Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini


    Borong Saham Ini, Prajogo Pangestu Raih Keuntungan Rp 517 Juta Sehari

    Tekanan pasokan tersebut tercermin dari harga daging sapi yang telah berada di atas harga acuan pemerintah.

    Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 23 Agustus 2026, rata-rata harga daging sapi di tingkat konsumen mencapai Rp 144.682 per kilogram (kg), lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 140.000 per kg.

    Asnawi menjelaskan, keterbatasan pasokan sapi juga berkaitan dengan rendahnya konversi bobot ternak menjadi daging. Dari bobot hidup sapi, persentase karkas setelah penyembelihan hanya sekitar 48,2%.

    Artinya, tidak seluruh bobot hidup sapi dapat menjadi daging yang siap dikonsumsi. Kondisi ini membuat kebutuhan sapi hidup menjadi jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional.

    Baca Juga: Selamat Sempurna (SMSM) Optimistis Kinerja Semester II-2026 Tetap Positif

    Ketergantungan Impor Masih Tinggi

    Asnawi memperkirakan kebutuhan daging sapi nasional mencapai sekitar 756.000 ton per tahun.

    Perhitungan tersebut mengacu pada jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dengan konsumsi daging sekitar 2,7 kg per kapita per tahun.

    Dengan asumsi rata-rata bobot sapi siap potong sekitar 175 kg per ekor, kebutuhan sapi siap potong mencapai sekitar 4,3 juta ekor per tahun.

    Menurut Asnawi, kapasitas produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

    Bahkan, dia menilai porsi produksi domestik yang mampu memenuhi kebutuhan nasional perlu dikaji kembali.

    Baca Juga: Triputra Agro Persada Perkuat Antisipasi Karhutla di Tengah Ancaman El Nino 2026

    "Pemerintah menyampaikan produksi dalam negeri mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan, tetapi menurut kondisi objektif di lapangan, angkanya perlu dikaji ulang. Kemampuan pasokan dalam negeri diperkirakan hanya sekitar 40%, sedangkan 60% sisanya harus dipenuhi melalui impor," lanjut Asnawi.

    Ketergantungan terhadap impor membuat harga daging sapi domestik sensitif terhadap perubahan kondisi pasar global.

    Persaingan mendapatkan sapi dari negara pemasok seperti Australia juga semakin ketat karena negara lain kini menghadapi persoalan pasokan serupa.

    "Saat ini kompetitor dari berbagai negara juga membutuhkan pasokan sapi dari Australia," imbuhnya.

    Terbaru

    • Presiden Prabowo Hadiri Penutupan Muktamar NU di Jombang

    • Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran

    • Pemerintah Siapkan BLU Energi, APBI Minta Kejelasan Skema dan Sosialisasi

    • Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2%, Brent Kembali ke Atas US$ 90 Per Barel

    • Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak

    • Tiga Maskapai BUMN China Catat Rugi 7 Tahun Beruntun, Harga Avtur Jadi Beban

    • Dipicu Pidato Hawkish Kevin Warsh, Yield Obligasi AS Tenor 10 Tahun Menanjak ke 4,7%

    • Simak Rekomendasi Saham Pilihan Bagi Emiten yang Sedang Gelar Private Placement

    • AUD Dekati Level Tertinggi, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga Bulan Depan

    • Trump Sebut Minyak Venezuela Akan Isi Kembali Cadangan Strategis AS

    insight kontan

    • Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak

    • Risiko Politik Tetap Membayangi IHSG, Tercermin dari Valuasi hingga Cost of Capital

    Komentar
    Additional JS