Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    MENGHUBUNGKAN TRANSMISI...
    Home Berita El Nino Featured Spesial

    Tak Hanya Harga Minyak, Super El Nino Bisa Jadi Malapetaka Baru - SindoNews

    11 min read

     

    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.

    Minggu, 02 Agustus 2026 - 08:01 WIB

    Sebuah keluarga berjalan melintasi perairan yang mengering di selatan Manila, di mana fenomena cuaca El Nino telah meluluhlantakkan lahan pertanian dan merusak tanaman. FOTO/Reuters

    A A A

    JAKARTA - Konflik geopolitik di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia kini dinilai bukan satu-satunya ancaman bagi ekonomi global. Gangguan jalur energi di Timur Tengah dan potensi Super El Nino berisiko memicu badai ganda yang dapat mengerek harga pangan pokok hingga 18% sampai pertengahan tahun depan.

    "Ketika Anda menumpuk pola cuaca baru yang berpotensi merusak di atas situasi geopolitik yang sudah sangat tegang, hal itu menciptakan lingkungan yang sangat tidak pasti dan mengkhawatirkan," ujar Analis Eurasia Group Nick Kraft dikutip dari Reuters, Minggu (2/8/2026).

    Eurasia Group memperingatkan komoditas pangan utama dunia seperti gandum, jagung, dan beras berisiko mengalami kenaikan harga 10% hingga 18% pada musim panas. Di saat bersamaan, JPMorgan menaksir ada peluang 81% bahwa fenomena El Nino tahun ini berkembang menjadi sangat kuat atau Super El Nino, dengan dampak yang diperkirakan bertahan hingga 2027.

    Sementara, ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas setelah Garda Revolusi Iran menghentikan dua kapal dan memutar balik empat kapal lainnya yang melintas di jalur strategis itu pada Jumat. Selat sempit antara Iran dan Oman tersebut menjadi urat nadi energi dunia karena mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi global, sehingga gangguan di kawasan itu memicu ketidakpastian pasar global.

    Dampaknya terlihat pada harga minyak mentah berjangka Brent yang naik hingga 23% secara bulanan sepanjang Juli 2026. Meski data pelayaran Kpler menunjukkan sejumlah tanker masih dapat melintas, otoritas Iran menyebut transit normal belum memungkinkan karena eskalasi aksi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

    Eskalasi tidak hanya terjadi di laut. Militer Iran juga mengklaim menyerang fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Arab Saudi ke Irak. Di saat yang sama, risiko logistik global kian memburuk setelah pelabuhan Damietta di Mesir diserang pesawat nirawak, yang membuat pasar asuransi maritim London memperluas wilayah risiko tinggi di Laut Merah.

    Baca Juga: Sempat Turun Beruntun, Harga Minyak Dunia Bakal OTW Melonjak 20%?

    Kenaikan harga energi itu berimbas langsung ke sektor pertanian global melalui mahalnya biaya solar untuk alat berat, pupuk berbasis gas alam, hingga bahan kemasan pangan. JPMorgan memperkirakan Super El Nino secara mandiri dapat menyumbang inflasi pangan global 0,7 poin persentase, namun jika digabung dengan lonjakan harga energi akibat perang, dampaknya bisa membengkak menjadi 1,3 hingga 1,5 poin persentase.

    Kondisi pada 2026 juga disebut jauh lebih rapuh dibandingkan saat awal konflik. Pada fase awal penyegelan Selat Hormuz pada Februari, kenaikan harga pangan sempat tertahan karena cadangan hasil panen raya 2025 masih melimpah, tetapi buffer pasokan kini terus menipis dan tak lagi cukup kuat meredam guncangan baru.

    Sinyal kerentanan itu mulai terlihat di pasar komoditas internasional. Kontrak berjangka gandum Eropa di Euronext berfluktuasi tajam setelah sempat melonjak lebih dari 10% sepanjang Juli, sementara Komisi Eropa memangkas proyeksi produksi gandum Uni Eropa sebesar 8% untuk musim 2026/2027 dengan estimasi stok akhir menyusut menjadi 12,9 juta ton.

    Gangguan juga terasa di kawasan Laut Hitam. Di Turki, harga jagung ikut tertekan akibat hambatan distribusi, padahal negara itu mengimpor sekitar 5,3 juta metrik ton jagung Ukraina pada musim 2025/2026. Para pedagang lokal disebut menahan stok sembari menunggu panen domestik.

    Krisis Ganda

    Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah memperingatkan bahwa El Nino kali ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam satu abad terakhir. Bank Dunia bahkan memproyeksikan produksi beras bisa turun 20% hingga 50% di wilayah-wilayah yang terdampak ekstrem.

    Di tengah kondisi itu, risiko krisis ganda membawa dampak berbeda bagi pelaku rantai pasok. Bagi sebagian petani global yang selama beberapa tahun terakhir bergulat dengan harga komoditas rendah, kenaikan harga bisa menjadi angin segar bagi margin pendapatan mereka.

    Baca Juga: Jutaan Warga Berunjuk Rasa di Seluruh Yaman, Dukung Kebijakan Blokade untuk Blokade

    Namun, pengamat ekonomi pertanian dari University of Kentucky, Grant Gardner, menegaskan bahwa situasinya berbalik menjadi kabar buruk bagi konsumen. “Dari sudut pandang konsumen, situasinya sangat berbeda karena masyarakat tentu membutuhkan harga pangan yang tetap stabil dan terjangkau,” ujar Gardner.

    Ancaman krisis ganda antara geopolitik dan cuaca ekstrem itu kini menuntut langkah antisipatif dari pemerintah berbagai negara. Fokus utamanya adalah mengamankan cadangan pangan nasional dan menahan perembesan inflasi impor agar tidak langsung menekan harga di tingkat konsumen.

    (nng)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

    Rekomendasi

    Infografis

    3 Keutamaan Surat Al...

    3 Keutamaan Surat Al Mulk, Bisa Jadi Syafaat Kelak di Hari Kiamat

    Terpopuler

    1

    2

    3

    4

    5

    Berita Terkini

    Pupuk Kaltim Bawa Praktik...

    Simak Prediksi Harga...

    Pertamina Pastikan Mobil...

    Pertamina Patra Niaga...

    Rupiah Melemah 0,32%...

    Kewajiban Kebun Tebu...

    Komentar
    Additional JS