Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Kesehatan Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Tangani Korban Gempa NTT, RS Lapangan Didirikan di Manggarai - Beritasatu

    1 min read

     

    Polri mengerahkan tim kedokteran dan kesehatan (Dokkes) untuk membantu penanganan masyarakat terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 16 Agustus 2026. (Beritasatu.com/Wahroni)

    Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah terus bergerak cepat menangani dampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah sakit lapangan juga telah didirikan di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

    Tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga saat ini juga terus bersiaga menyisir lokasi untuk mendata dan memverifikasi jumlah korban.

    “Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah rumah sakit lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangan resminya, Minggu (16/8/2026).

    Terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, jalur lintas darat Larantuka ke Maumere terpantau sudah terhubung dan dapat dilalui. Namun, tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende ke Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa.

    Gempa bumi di NTT yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026), memaksa lebih dari 5.000 jiwa mengungsi. Bencana ini menimbulkan 47 korban jiwa dan memicu kerusakan bangunan yang sangat masif.

    Berdasarkan pemutakhiran data BNPB per Minggu pukul 00:00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian.

    Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai  total 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar.

    “Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat,” kata Berton.

    Komentar
    Opsi Lain

    Memuat 5 berita pertama...

    Additional JS