Terpental 2 Kali dan Tertimbun Puing Saat Gempa, Mahathir Bangkit Demi Selamatkan Anak Istri - Kompas
MANGGARAI, KOMPAS.com – Guncangan hebat gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan kisah mencekam bagi para korban selamat. Salah satunya dirasakan oleh Mahathir, warga Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT.
Mahathir bersama anak dan istrinya sempat tertimbun puing-puing bangunan rumah yang roboh akibat gempa kuat tersebut sebelum akhirnya berhasil diselamatkan warga.
Ia menceritakan, peristiwa naas itu terjadi saat keluarganya masih tertidur lelap pada pagi hari, sekitar pukul 05.00 WITA. Guncangan mendadak yang sangat dahsyat membuat mereka panik dan berusaha menyelamatkan diri.
"Saat kejadian sekitar jam 5 lewat, kita tertidur, saya, istri, dan anak. Pas guncangan terjadi, saya bangun gendong si kecil dan minta istri merangkul saya," ujar Mahathir dikutip dari siaran Kompas TV.
Dokter Bertaruh Nyawa Selamatkan Pasien Operasi Saat Gempa NTT: Tuhan Tolong Saya
Baca juga: Gempa M 5,8 Guncang Manggarai Kamis Pagi, Warga Reok Panik Keluar Rumah
Terpental Dua Kali dan Tertimbun Puing
Namun, upaya untuk melarikan diri ke luar rumah tidak berjalan mudah. Kuatnya guncangan membuat Mahathir dan keluarganya terpental berulang kali di dalam kamar.
"Saat itu kita terpental di dalam kamar. Waktu itu pada saat mau keluar pintu, dua kali kita terpental. Setelah itu, hanya selang beberapa detik, rumah langsung rubuh. Kita tidak bisa keluar dari rumah," ungkapnya.
Seketika, seluruh area rumah mereka tertutup reruntuhan material bangunan. Beruntung, saat guncangan terjadi, posisi terpental mereka berada di dekat pintu kamar sehingga menyisakan celah keselamatan.
"Syukurnya saat gempa terpental di pintu kamar. Si kecil tidak terlalu parah (tertahan) karena tertahan reruntuhan tembok yang jatuh. Saya dan istri berada di bagian bawah reruntuhan," jelas Mahathir.
Ia menambahkan, mereka sempat bertahan di bawah puing-puing rumah selama kurang lebih tiga menit dalam kondisi panik dan terluka.
Baca juga: Bantuan untuk Korban Gempa NTT Seberat 300 Kg Diberangkatkan dari Bandara Juanda
Dikejar Isu Tsunami, Bangkit dari Reruntuhan
Kepanikan kian membuncah ketika beredar isu potensi tsunami di kawasan tersebut. Rasa panik dan dorongan untuk menyelamatkan keluarga membuat Mahathir memaksa tubuhnya yang terluka untuk bangkit dan mengangkat sang istri.
"Bertahan di puing-puing rumah sekitar 3 menitan. Terpaksa mau berdiri karena ada isu tsunami. Dengan ini harus kuat bangun lagi, angkat istri," tutur Mahathir.
Melihat kejadian tersebut, warga setempat yang berada di depan rumah langsung memberikan pertolongan. Evakuasi berlangsung dramatis karena guncangan susulan masih terasa, sementara warga hanya menggunakan alat seadanya untuk memindahkan batu bata dan material bangunan.
"Masih ada guncangan saat evakuasi dengan alat seadanya, angkat batanya. Kebetulan warga setempat di depan rumah segera langsung mengevakuasi," kata dia.
Sementara itu, anak balitanya berhasil dikeluarkan terlebih dahulu melalui celah bagian atas reruntuhan oleh sang tante dan langsung dibawa lari ke tempat aman.
Baca juga: 545 Mahasiswa Asal NTT Terdampak Gempa, Pemda DIY Siapkan Bantuan hingga Desember
Berlari 3 Kilometer dan Menahan Luka hingga Sore
Setelah berhasil dievakuasi dari bawah puing, Mahathir beserta istri dan anaknya segera mengungsi ke dataran yang lebih tinggi untuk menghindari potensi gelombang tsunami. Mereka berjalan dan dievakuasi hingga sejauh 3 kilometer dari lokasi kejadian.
Karena situasi krisis dan kepanikan massal, Mahathir dan istrinya harus menahan sakit akibat luka-luka yang diderita sejak pagi hingga sore hari sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.
"Kita panik-paniknya dibawa lari ke dataran tinggi sekitar 3 kilo dari lokasi. Baru sore mendapatkan pengobatan, dari pagi sampai sore menahan luka," kenangnya.
Saat ini, Mahathir bersyukur kondisi kesehatannya dan keluarga mulai membaik, serta bantuan medis dan logistik sudah mereka terima.
"Untuk kondisi istri, kakinya belum begitu pulih, belum bisa digerakkan atau berjalan. Saya sendiri alhamdulillah kering lukanya, dijahit di telinga dan kepala. Istri sudah mendapatkan perawatan medis dan obat-obatan aman sejauh ini," pungkas Mahathir.
Baca juga: Gempa M 5,6 Guncang Manggarai NTT, Dirasakan hingga Manggarai Barat dan Nagekeo
Peristiwa ini menjadi salah satu dari banyak kisah penyintas di tengah perjuangan tim SAR gabungan dan warga dalam memulihkan serta mengevakuasi korban terdampak gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT