Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita BRIN Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Teruji, Prototipe Rumah BRIN Tetap Berdiri Kokoh usai Gempa M 7,7 NTT - Kompas

    6 min read

     

    KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mendorong penggunaan teknologi rumah modular tahan gempa untuk bisa diaplikasikan secara luas di Indonesia.

    Dorongan perluasan pembangunan rumah modular tahan gempa ini semakin menguat usai bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum lama.

    Dikutip dari keterangan resmi BRIN, lembaga riset negara ini mengklaim rumah modular buatannya sudah teruji tahan gempa.

    Secara bencana gempa melanda, BRIN memang sudah membangun tiga prototipe rumah tahan gempa di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

    Instruksi Prabowo: Gerak Cepat Tangani Gempa NTT, Pastikan Warga Dapat Bantuan

    Ketiga rumah tahan gempa BRIN yang masih berstatus prototipe itu terbukti masih tetap berdiri setelah diguncang gempa bermagnitudo 7,7 dan rentetan gempa susulan.

    Ketiga rumah cepat bangun tersebut dibangun pada 2021–2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang sebelumnya dirintis BPPT dan kemudian dilanjutkan BRIN setelah integrasi lembaga seluruh lembaga riset.

    Hasil pemantauan pascagempa menunjukkan tidak ditemukan retak struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi bangunan rumah tahan gempa BRIN.

    Baca juga: Mengenal Genteng Komposit Buatan BRIN Seharga Rp 26.000

    Kerusakan yang tercatat bersifat kosmetik berupa sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel Sandwich EPS dan pecah akibat guncangan.

    Teknologi Rumah Tahan Gempa BRIN

    Perekayasa Ahli Muda BRIN Vian Marantha Haryanto menjelaskan, rumah tersebut sejak awal dirancang menggunakan teknologi konstruksi tahan gempa yang ditujukan untuk wilayah dengan tingkat kerawanan gempa tinggi, termasuk NTT.

    "Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT," ujar Vian.

    "Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," kata dia lagi.

    Meski hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan struktur bangunan masih dalam kondisi baik, BRIN belum berhenti pada evaluasi visual.

    Lembaga tersebut akan melakukan pengujian lanjutan di laboratorium untuk mendapatkan validasi teknis terhadap kinerja konstruksi rumah tahan gempa tersebut.

    Pengujian akan dilakukan menggunakan metode uji siklik yang mengacu pada SNI 3966:2012 di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur.

    Baca juga: Kenapa BRIN Bikin Penelitian Genteng?

    Metode pengujian berskala laboratorium itu telah dipersiapkan dan ditargetkan berlangsung pada 2026.

    "Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," terang Vian.

    Tiga prototipe rumah tahan gempa BRIN di Labuan Bajo diketahui tetap berdiri setelah gempa mengguncang wilayah NTT. Laporan kondisi bangunan per 16 Agustus 2026 juga mendokumentasikan kondisi ketiga prototipe tersebut pasca gempa NTT.

    Di sekitar lokasi yang sama, terdapat bangunan SD Rangko yang mengalami kerusakan struktur akibat gempa. Kondisi tersebut menjadi pembanding dalam melihat kinerja prototipe rumah tahan gempa yang dikembangkan BRIN.

    Ketahanan tiga prototipe rumah di Labuan Bajo menjadi bagian dari evaluasi pengembangan teknologi rumah modular tahan gempa yang telah dilakukan BRIN sejak beberapa tahun terakhir.

    Pengembangan teknologi tersebut dimulai pada 2019, antara lain melalui pembangunan dua unit rumah di Kabupaten Tangerang.

    Selanjutnya, BRIN mengembangkan prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, sebelum membangun tiga unit rumah di NTT pada akhir tahun yang sama.

    Penambahan Karet

    Seiring pengembangan, BRIN terus menyempurnakan teknologi konstruksi yang digunakan. Salah satunya diterapkan pada rumah modular tahan gempa generasi kedua dengan menambahkan rubber bearing seismic yang berfungsi membantu meredam getaran akibat gempa.

    Baca juga: Dibanding-Diinjak Prabowo Tak Pecah, Segini Harga Genteng Buatan BRIN

    Teknologi tersebut dikembangkan melalui penelitian Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai material utama.

    "Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi," jelasnya.

    Hasil evaluasi terhadap tiga prototipe rumah di Labuan Bajo selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

    Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN juga mendorong pemerintah pusat dan daerah mempercepat pemulihan rumah masyarakat yang terdampak gempa dengan menerapkan standar konstruksi tahan gempa.

    Selain jadi solusi mengurangi dampak kerusakan gempa NTT, BRIN berharap teknologi rumah tahan gempa yang telah dikembangkan dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai wilayah Indonesia yang memiliki risiko kegempaan tinggi.

    Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan keselamatan penghuni sekaligus menekan potensi kerusakan bangunan apabila gempa kembali terjadi di kemudian hari.

    Baca juga: Bikin Atap Rumah Tipe 36 dengan Genteng BRIN, Biayanya Rp 11 Juta

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS