Update Gempa NTT: 28 Orang Meninggal di Manggarai, 25 Puskesmas Rusak - Kompas
RUTENG, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, terus melakukan penanganan dan pemulihan pascagempa bumi yang berdampak pada sejumlah wilayah di daerah tersebut.
Berdasarkan pembaruan data hingga Kamis (20/8/2026) pagi, sebanyak 28 orang meninggal dunia akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai.
Dari jumlah tersebut, 24 orang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara korban lainnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama beberapa hari.
Baca juga: Pemprov Jabar Kirim 20 Personel BPBD ke NTT, Petakan Kebutuhan Warga Terdampak Gempa
Selain korban meninggal dunia, sebanyak 32 orang mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan. Sementara 104 orang mengalami luka ringan dan telah mendapatkan pelayanan medis.
Update Terbaru Gempa NTT: 53 Orang Meninggal, 135 Warga Luka-luka
Pemerintah Kabupaten Manggarai menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal dunia dan memastikan penanganan terhadap korban luka serta masyarakat terdampak terus dilakukan.
25 puskesmas terdampak
Bupati Manggarai Heribertus Nabit menyampaikan, selain korban jiwa, gempa bumi itu juga berdampak terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebanyak 25 puskesmas terdampak, sehingga pelayanan dan perawatan pasien untuk sementara dilakukan di halaman masing-masing puskesmas demi keselamatan pasien dan tenaga kesehatan.
Baca juga: Hingga Kamis Siang, BMKG Catat 3.618 Kali Gempa Susulan di Flores
Sementara itu, Rumah Sakit Lapangan telah didirikan di Stadion Golodukal berdasarkan keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Menteri Kesehatan.
Rumah Sakit Lapangan tersebut mulai beroperasi pada Rabu (19/8/2026) sore dan telah melaksanakan satu tindakan operasi yang berjalan lancar.
Pemerintah menargetkan pemindahan peralatan dan pasien dari RSUD Ruteng menuju Rumah Sakit Lapangan dapat diselesaikan pada Jumat (21/8/2026).
Pemerintah Kabupaten Manggarai mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai prediksi gempa susulan yang beredar di media sosial maupun melalui pesan berantai.

Lihat Foto
Berdasarkan informasi BMKG yang diterima pemerintah, setelah gempa berkekuatan M 7,7, diperlukan waktu sekitar tiga hingga empat minggu agar kondisi bumi kembali stabil.
Namun, waktu terjadinya gempa susulan, termasuk kekuatan dan lokasi pastinya, tidak dapat diprediksi secara pasti.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mempercayai informasi yang menyebutkan secara spesifik tanggal, jam, maupun kekuatan gempa yang akan terjadi. Informasi tersebut tidak dapat dijadikan rujukan apabila tidak berasal dari sumber resmi,” kata Heribertus kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Kamis (20/8/2026).
Masyarakat diminta memperoleh informasi kebencanaan melalui sumber resmi, terutama BMKG dan Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Baca juga: Hari Ini, Wapres Gibran ke Sikka, Bakal Tinjau Dampak Gempa NTT
81 ton beras disalurkan
Dari 12 kecamatan di Kabupaten Manggarai, sebanyak 11 kecamatan terdampak gempa dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, pemerintah telah menyalurkan 31 ton beras ke 11 kecamatan terdampak dalam beberapa hari terakhir.
Selain beras, bantuan yang disalurkan berupa mi instan, telur, air mineral, serta susu untuk bayi dan balita.
Pemerintah juga kembali menyalurkan tambahan 50 ton beras pada Kamis dan Jumat (20–21/8/2026). Dengan demikian, total beras yang disalurkan dan akan didistribusikan mencapai 81 ton.
Bupati Manggarai meminta masyarakat bersabar dalam proses distribusi bantuan karena kebutuhan logistik sangat besar.
Selain itu, proses pengadaan, pengangkutan, dan distribusi dari pusat logistik di Ruteng maupun Reo menuju wilayah terdampak membutuhkan waktu.
“Kami mengutamakan wilayah yang kerusakannya paling parah dan masyarakat yang paling membutuhkan. Karena itu, kami meminta dukungan dan kesabaran seluruh masyarakat agar proses distribusi bantuan dapat berjalan lancar,” kata Heribertus.
Pusat distribusi bantuan
Dalam penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Manggarai mengoperasikan dua posko utama, yakni Posko Utama Ruteng dan Posko Reo.
Posko Utama Ruteng menjadi pusat koordinasi penanganan bencana di ibu kota kabupaten. Sementara Posko Reo menjadi pusat penanganan dan distribusi logistik karena wilayah Reo dan sejumlah wilayah di sekitarnya mengalami dampak cukup parah.
Pemerintah menegaskan, logistik yang berada di Posko Reo tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Kecamatan Reo.
Posko tersebut menjadi pusat distribusi bagi enam kecamatan di wilayah utara, yakni Kecamatan Reo, Reo Barat, Cibal, Cibal Barat, Wae Ri'i, dan Rahong Utara.
Karena itu, masyarakat di sepanjang Jalan Nasional Ruteng–Reo diminta tidak menghalangi kendaraan pengangkut bantuan dan logistik yang menuju Posko Reo.
Masyarakat juga diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyebutkan adanya ketimpangan distribusi bantuan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai memastikan penanganan bencana terus dilakukan secara terpadu bersama Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi NTT, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
Prioritas penanganan meliputi penyelamatan dan pelayanan korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan logistik, pendataan dampak dan kerusakan, serta pemulihan fasilitas pelayanan publik yang terdampak.
Pemerintah kembali mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pemerintah Kabupaten Manggarai memastikan penanganan bencana terus dilakukan secara cepat, terukur, transparan, dan berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT