Warga Manggarai Korban Gempa NTT Kekurangan Tenda, Matras dan Selimut - Kompas
MANGGARAI, KOMPAS.com - Warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih membutuhkan tenda yang layak, matras, dan selimut untuk tempat tinggal sementara.
Kebutuhan tersebut dirasakan warga yang masih bertahan di tenda swadaya karena rumah hancur ataupun rusak sebagian karena gempa.
"Ini sudah malam yang kelima ya. Ini kebetulan kemarin makanya kami agak buat sedikit lebih kuat tadi karena kemarin hanya ditopang oleh beberapa tiang," kata salah satu warga, Cypri (47 tahun), saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Carep, Kecamatan Langke Rembong, Rabu (19/6/2026).
Baca juga: Gempa Tak Bisa Dicegah, Seberapa Siap Indonesia Menghadapinya?
Berdasarkan pantauan Kompas.com di wilayah Kampung Carep dan Kampung Watu Alo, warga menggunakan tenda berbahan terpal dan bambu sebagai tempat tinggal sementara.
Gempa NTT Hancurkan Masjid dan Gereja, Tangis Warga Pecah di Manggarai Timur
Tenda tersebut sangatsederhana dan belum dilengkapi perlengkapan yang memadai untuk melindungi warga dari cuaca.
Tidak terlihat tenda berwarna oranye dengan lambang dan tulisan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di lokasi-lokasi tersebut.
Tenda warga juga tidak memiliki pintu yang dapat dibuka dan ditutup.
Akibatnya, bagian depan tenda terbuka lebar sehingga angin dan udara dingin langsung masuk ke dalam.
Baca juga: 5 Malam Usai Gempa, Warga Manggarai Masih Tidur di Tenda Swadaya
Untuk alas, warga mengandalkan terpal yang dibentangkan di atas tanah.
Warga kemudian duduk dan tidur di atas tumpukan pakaian atau kasur yang masih dapat digunakan.
Sementara itu, aktivitas memasak dan mencuci dilakukan di area luar tenda.
Menurut Cypri, kondisi tenda tersebut belum cukup melindungi warga dari cuaca.
"Harapannya memang perbaikan rumah. Tapi yang pertama sekali ini kondisi kami di tenda ini mungkin bisa selimut, kemudian tenda yang lebih layaklah buat kami bisa berteduh di bawah," kata dia.
Baca juga: Mendagri Tito Tinjau Lokasi Terdampak Gempa di Pelabuhan Laurentius Say Maumere
Ambrosius Lay (48), warga Kampung Watu Alo, Kelurahan Tadong, Kecamatan Langke Rembong, mengatakan bahwa warga membuat tempat tinggal sementara menggunakan bahan yang tersedia di sekitar rumah.
Ia menyebutkan, warga menggunakan bambu untuk membuat sekat tenda.
Namun, warga masih kekurangan terpal untuk menutup tempat tinggal sementara tersebut.
"Yang kurang terpal, itu memang terpal ya. Tenda mungkin bikin sekat sendiri Pak, banyak bambu di sini, mereka bikin sendiri tapi kurangnya itu terpal," ujar Ambrosius.
Selain terpal, Ambrosius mengatakan bahwa warga juga membutuhkan matras dan selimut untuk melindungi diri dari embun serta udara dingin pada malam hari.
Baca juga: Gempa NTT: Bantuan Logistik Terus Datang, namun Pembagian Terhambat
"Terus alasnya matras-matras ya, selimut ya. Yang mungkin itu yang pertama itu mungkin terpal itu. Terpal dulu," kata Ambrosius.
"Karena embun itu kalau malam. Kalau malam dingin kan, berembun, bisa flu," sambung dia.
Bantuan makanan sudah masuk
Sementara itu, Cypri menyampaikan bahwa bantuan makanan sudah diterima warga selama berada di tempat pengungsian.
Baca juga: Galian Pipa PDAM di Depok Memakan Korban, Ibu Terperosok ke Lubang Sedalam 2 Meter
"Sudah tiga kali, tiga kali masuk bantuan dari pemerintah, dari gereja juga. Kami bersyukur, itu sangat bersyukur," ujar Cypri.
Cypri mengatakan, warga juga mendapatkan bantuan serupa dari keluarga, dan memanfaatkan persediaan makanan yang masih dapat diselamatkan dari rumah masing-masing.
"Makanan, minuman, kebetulan masih tersisa beras yang masih bisa diangkat pada saat itu kami kumpulkan di sini," ujar dia.
Baca juga: Dapur Darurat Minim, Pengungsi Gempa NTT Memasak Sendiri di Tenda Masing-masing
Oleh karena itu, warga mengharapkan adanya bantuan tempat tinggal sementara yang lebih layak, selama rumah tinggal mereka belum diperbaiki atau dibangun ulang.
Senada, Ambrosius mengatakan bahwa bantuan makanan dan layanan kesehatan sudah diterima warga.
"Ada. Biasanya beras, telur, Minyak goreng, sama minyak goreng. Sama kesehatan ya pemeriksaan gratis," kata dia.
Baca juga: 5 Malam Usai Gempa, Warga Manggarai Masih Tidur di Tenda Swadaya
Akan tetapi, ia menekankan bahwa sampai saat ini banyak warga masih takut tinggal di dalam rumah karena kerusakan akibat gempa.
Dia bahkan mengaku memilih bertahan di basecamp depan rumahnya, meski terdapat lokasi pengungsian terpusat yang disediakan.
"Ada, cuma di sana juga kan masih ada gedung-gedung walaupun di tanah lapangnya. masih trauma pak lihat gedung tinggi," kata Ambrosius.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT