Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita F-15EX Featured Spesial

    AS Siapkan 267 Jet Tempur F-15EX, Mengapa Incar Indonesia hingga Israel Jadi Calon Pembeli? - SindoNews

    8 min read

     

    A A A

    AS masukkan tujuh negara asing, termasuk Indonesia, dalam program jet tempur F-15 Eagle Crest. Foto/MIGFLUG Magazine

    WASHINGTON - Departemen Perang Amerika Serikat (DoW) memberikan Boeing kontrak indefinite-delivery/indefinite-quantity (IDIQ) dengan nilai pagu fantastis sebesar USD131,23 miliar untuk program jet tempur F-15 Eagle Crest.

    Menurut pengumuman DoW, kontrak besar untuk program F-15 Eagle Crest tersebut menciptakan kerangka kerja jangka panjang bagi produksi pesawat, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan kemampuan, retrofit, pemeliharaan, serta perawatan di depot milik pemerintah untuk Pentagon dan para pengguna internasional jet tersebut.

    Baca Juga: Iran Pamer Trofi Perang, dari Jet Tempur F-15E AS hingga Drone Hermes Israel

    Pengerjaan kontrak besar ini diperkirakan selesai pada Agustus 2037 dan akan dilakukan di St Louis, Missouri.

    “Periode pemesanan diperkirakan berakhir pada 24 Agustus 2031, dengan opsi untuk memperpanjang periode pemesanan hingga 24 Agustus 2036,” bunyi pernyataan DoW.

    Keseluruhan kontrak senilai USD131,23 miliar tersebut diberikan secara sole-source kepada Boeing, produsen jet tempur F-15.

    Angka USD131,23 miliar yang mencolok itu merupakan batas maksimum nilai kontrak (ceiling), bukan uang yang langsung diberikan kepada Boeing. Saat kontrak diberikan, Departemen Perang hanya mengalokasikan sekitar USD343.740 dari anggaran fiskal 2026 untuk penelitian, pengembangan, pengujian, dan evaluasi—jumlah yang cukup untuk memulai kontrak, bukan untuk membeli sebuah pesawat.

    Program Eagle Crest menggunakan skema kontrak IDIQ. Kontrak IDIQ tidak berarti pemerintah langsung membeli sesuatu dan juga tidak mengikat pemerintah pada jumlah pembelian tertentu. Sebaliknya, IDIQ merupakan mekanisme pengadaan. Sistem ini dapat dianalogikan sebagai kerangka pembelian yang telah dinegosiasikan sebelumnya, yang memungkinkan kontrak-kontrak tetap diterbitkan pada tahap berikutnya oleh AS maupun pelanggan asing yang telah disetujui.

    Keuntungan skema IDIQ adalah ketika pesanan benar-benar dibuat di kemudian hari, proses negosiasi tidak perlu dimulai dari awal. Dengan demikian, seluruh proses dapat dipercepat.

    Namun, setiap pesanan harus mendapatkan persetujuan secara terpisah.

    Angka USD131,23 miliar tersebut merupakan batas maksimum untuk pekerjaan Eagle Crest yang mencakup keluarga F-15 secara luas—mulai dari jet F-15EX baru hingga peningkatan, retrofit, dan pemeliharaan F-15 lama milik AS maupun negara pengguna ekspor—selama sekitar satu dekade.

    Hal lain yang perlu dicatat, tidak semua pesanan di bawah program Eagle Crest akan diterjemahkan menjadi pembelian jet tempur baru. Program ini juga mencakup peningkatan kemampuan, retrofit, integrasi, pemeliharaan, serta kegiatan terkait depot.

    Casey Nicastro, analis senior di Center for Strategic and Budgetary Assessments, mengatakan Eagle Crest termasuk salah satu kontrak terbesar yang dikeluarkan Departemen Perang AS dalam beberapa waktu terakhir. Dia mencatat bahwa kontrak F-16 untuk Lockheed Martin pada 2020 memiliki batas maksimum USD62 miliar, sedangkan kontrak sistem pertahanan Golden Dome senilai USD151 miliar tahun lalu dibagi kepada lebih dari 1.000 vendor.

    “Besarnya kontrak baru ini tampaknya menunjukkan bahwa Angkatan Udara percaya pesawat seperti F-15EX masih akan memainkan peran signifikan dalam pertempuran udara di masa depan, meskipun angkatan tersebut mulai mengadopsi sistem yang lebih baru, seperti CCA (collaborative combat aircraft) dan F-47,” kata Nicastro, seperti dikutip dari EurAsian Times, Jumat (28/8/2026).

    Pernyataan DoW menyebut tujuh negara pengguna internasional, selain AS, yang masuk dalam program F-15EX Crest, yakni Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, Indonesia, dan Polandia. Setiap penjualan kepada negara-negara tersebut hanya dapat dilakukan melalui program Foreign Military Sales (FMS).

    Namun, dari tujuh calon pelanggan internasional tersebut, hanya lima—Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Singapura—yang saat ini mengoperasikan armada jet tempur F-15.

    Dua negara lainnya, Polandia dan Indonesia, belum pernah memesan secara resmi jet tempur berat generasi keempat tersebut.

    Menariknya, Indonesia tampaknya kecil kemungkinan memesan F-15EX, sementara Polandia secara resmi menyatakan belum pernah memesan F-15.

    Pada April tahun ini, dokumen anggaran Angkatan Udara AS untuk tahun fiskal 2027 mengungkapkan rencana untuk menggandakan jumlah armada F-15EX.

    Sebelumnya, Angkatan Udara AS berencana membeli 129 unit jet tempur F-15EX. Namun, dokumen anggaran fiskal 2027 menyebutkan bahwa AS kini berencana membeli 267 jet tempur F-15EX Eagle II dalam beberapa tahun mendatang.

    Anggaran tersebut juga mengalokasikan sekitar USD3 miliar untuk F-15EX, termasuk pemesanan 24 unit pada tahun fiskal ini.

    Angkatan Udara AS saat ini mengoperasikan lebih dari 200 jet tempur F-15, termasuk sekitar 40 unit varian F-15C/D dan lebih dari 100 unit F-15E yang berstatus operasional tempur.

    Seiring mulai menerima F-15EX varian terbaru, Angkatan Udara AS secara bertahap akan memensiunkan F-15C/D dan F-15E yang lebih tua.

    Namun, pagu kontrak USD131,23 miliar tersebut juga mencakup paket peningkatan, pemeliharaan, dan dukungan untuk varian F-15 lama.

    Setelah AS, Arab Saudi merupakan operator F-15 terbesar kedua di dunia. Riyadh mengoperasikan hampir 230 jet tempur F-15, disusul Jepang dengan 199 unit F-15 dalam armada Angkatan Udara-nya.

    Angkatan Udara Israel memiliki lebih dari 75 unit F-15. Israel kerap menggunakan jet tempur berat tersebut dalam operasi di Suriah, Iran, dan Gaza, sering kali terbang dalam formasi dekat dengan jet tempur siluman F-35.

    Pada 2024, Israel memesan 25 unit pesawat F-15IA, varian canggih yang memiliki kemiripan dengan F-15EX Eagle II milik Angkatan Udara AS, dengan opsi untuk membeli tambahan 25 unit di kemudian hari.

    Selain pesawat baru tersebut, Israel juga berupaya meningkatkan armada F-15I yang sudah dimilikinya melalui program “mid-life update modification kit” yang dikenal sebagai F-15I+. Program tersebut akan meningkatkan kemampuan pesawat-pesawat yang sudah ada.

    F-15, termasuk varian F-15A/B/C/D Baz dan F-15I Ra’am, tetap menjadi bagian penting dari strategi operasional Angkatan Udara Israel. Pesawat-pesawat tersebut menjalankan berbagai misi, termasuk serangan jarak jauh, pertahanan udara, serta fungsi komando dan kendali.

    Korea Selatan memiliki 59 unit F-15, sementara Singapura mengoperasikan 40 unit F-15.

    Menariknya, Qatar, yang juga merupakan mitra strategis AS, mengoperasikan 48 unit F-15, tetapi namanya justru tidak tercantum dalam daftar calon pelanggan asing program F-15 Crest.

    Sebaliknya, daftar tersebut mencantumkan dua negara yang belum pernah memesan F-15—Polandia dan Indonesia.

    Peran Polandia dan Indonesia dalam Program Eagle Crest

    Menariknya, Indonesia sebelumnya diperkirakan akan menjadi pelanggan ekspor pertama F-15EX.

    Pada 2023, Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Boeing untuk memperoleh hingga 24 unit F-15EX saat Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke AS.

    “Kami dengan senang hati mengumumkan komitmen kami untuk memperoleh kemampuan tempur F-15EX yang sangat penting bagi Indonesia,” kata Prabowo saat itu. “Jet tempur mutakhir ini akan melindungi dan mengamankan negara kami dengan kemampuan canggihnya.”

    Namun, karena MoU tersebut tidak mengikat secara hukum, Jakarta tidak melanjutkan kontrak pembelian.

    Untuk menarik minat Indonesia, Boeing mengumumkan pada 2025 bahwa jika Jakarta menandatangani kesepakatan, Boeing akan memenuhi komitmen 85 persen kandungan lokal dan offset.

    Namun, Jakarta juga mulai mengeksplorasi kemungkinan membeli jet tempur J-10C China.

    Pada Februari lalu, Boeing mengumumkan bahwa mereka secara resmi menghentikan upaya menjual F-15EX kepada Indonesia.

    “Dalam hal kemitraan kami (F-15) dengan Indonesia, itu tidak lagi menjadi kampanye aktif bagi kami,” kata Bernd Peters, wakil presiden pengembangan bisnis dan strategi di Boeing Defense, kepada wartawan dalam Singapore Airshow pada Februari.

    Namun, masuknya Indonesia dalam daftar calon pelanggan asing program F-15 Crest menunjukkan bahwa AS masih berharap tercapainya kesepakatan F-15 dengan Jakarta.

    Kejutan lainnya dalam daftar tersebut adalah Polandia. Menariknya, Polandia tidak pernah mengumumkan niat untuk membeli F-15.

    Pada 25 Agustus, Kementerian Pertahanan Polandia kembali menyatakan, “Angkatan Bersenjata Polandia tidak berencana memperoleh pesawat F-15EX.”

    Meski ada penolakan tersebut, Boeing dan AS masih menyimpan harapan.

    Para perwira Polandia telah mengunjungi fasilitas Boeing di St Louis. Pada 2025, Inspektur Angkatan Udara Polandia saat itu, Jenderal Ireneusz Nowak, bahkan menerbangkan F-15EX sendiri di fasilitas Boeing.

    Faktanya, F-15EX bisa sangat masuk akal bagi Polandia. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, Polandia dengan cepat memodernisasi angkatan bersenjatanya.

    Di antara 32 negara anggota NATO, setelah tiga negara Baltik—Latvia, Estonia, dan Lithuania—Polandia merupakan negara yang mengalokasikan porsi anggaran terbesar untuk pertahanan.

    Menurut estimasi NATO pada Juli 2026, Polandia akan mengalokasikan 4,8 persen PDB untuk pertahanan pada tahun fiskal berjalan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Warsawa telah memesan 48 unit pesawat tempur ringan FA-50, 180 tank K2, 364 howitzer K9, 250 tank M1A2 SEPv3 Abrams, dan 32 unit F-35A. Angkatan Udara Polandia juga memiliki 48 unit F-16.

    Namun, Polandia belum memiliki jet tempur berat generasi keempat dengan kapasitas muatan senjata dan bahan bakar internal yang besar.

    F-15EX dapat menyerang beberapa target secara bersamaan dan menjalankan berbagai jenis misi dalam satu penerbangan, termasuk superioritas udara, intersepsi, misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat, serta dukungan udara jarak dekat. Kemampuan tersebut didukung kapasitas muatan yang diperluas hingga 23 stasiun persenjataan.

    Dalam berbagai perang di Timur Tengah, AS dan Israel telah menunjukkan efektivitas jet tempur F-15 dengan menerbangkannya dalam formasi dekat bersama jet tempur siluman F-35.

    AS dan Boeing memahami bahwa meskipun Polandia telah memiliki FA-50, F-16, dan F-35, Angkatan Udara Polandia masih membutuhkan jet tempur berat multirole generasi keempat, dan F-15EX dinilai sangat cocok untuk mengisi kebutuhan tersebut.

    (mas)

    Komentar
    Additional JS