Begadang Diam-Diam Mengganggu Otak, Jantung, dan Sistem Imun Tubuh - RRi

RRI.CO.ID, Ternate – Kebiasaan tidur hingga larut malam ternyata dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh jika berlangsung terus-menerus. Dilansir dari laman resmi Ayo Sehat Kementerian Kesehatan, kurang tidur dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang.
Kebiasaan begadang juga berisiko memicu obesitas, mengganggu fokus, serta meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung. Dampak kurang tidur turut dirasakan otak, terutama pada korteks prefrontal yang berperan mengatur berbagai fungsi penting. Area tersebut membantu seseorang menjaga fokus, mengendalikan emosi, merencanakan tindakan, menilai risiko, dan menahan impuls.
Ketika waktu tidur dipangkas, aktivitas korteks prefrontal dapat menurun sehingga kemampuan berkonsentrasi ikut terganggu. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mudah terdistraksi, mengambil keputusan terburu-buru, serta menunjukkan respons emosional berlebihan.
Kurang tidur juga membuat amigdala, bagian otak yang berperan sebagai pusat alarm emosi, menjadi lebih reaktif. Ketika kendali korteks prefrontal melemah, seseorang dapat lebih sensitif, mudah tersinggung, dan cepat bereaksi.
Kondisi tersebut bukan semata-mata menunjukkan perubahan karakter seseorang akibat kebiasaan tidur larut malam. Kurang tidur dapat mengganggu jaringan otak yang berperan dalam mengatur serta mengendalikan respons emosional.
Dampak lainnya berkaitan dengan kemampuan otak menyimpan dan mengolah informasi yang diterima sepanjang aktivitas harian. Tidur membantu otak mengonsolidasikan memori melalui proses yang melibatkan tidur gelombang lambat dan fase REM.
Ketika seseorang begadang, proses konsolidasi memori tersebut dapat terganggu sehingga kemampuan menyerap informasi menjadi kurang optimal. Akibatnya, seseorang mungkin belajar atau bekerja lebih lama, tetapi hasilnya belum tentu semakin baik.
Tidur nyenyak juga berperan dalam mengaktifkan sistem glimfatik yang membantu membersihkan limbah metabolik dari otak. Salah satu protein yang sering dikaitkan dengan proses tersebut adalah beta-amiloid, terkait penyakit Alzheimer.
Memang, satu malam begadang tidak secara langsung menyebabkan demensia atau penyakit neurodegeneratif pada seseorang. Namun, pola kurang tidur kronis dapat mengurangi waktu pembersihan otak sehingga beban biologis berpotensi terakumulasi.
Kurang tidur juga tidak hanya memengaruhi otak, tetapi berkaitan dengan perubahan proses biologis pada tingkat sel. Satu malam tanpa tidur dilaporkan dapat mengubah aktivitas ratusan gen yang berkaitan dengan fungsi tubuh.
Gen tersebut berkaitan dengan metabolisme, peradangan, respons sistem imun, serta stres oksidatif yang memengaruhi kondisi tubuh. Karena itu, tidur cukup menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi tubuh dan kesehatan dalam jangka panjang.
Kebiasaan begadang sebaiknya tidak dianggap sekadar persoalan rasa kantuk pada keesokan harinya. Menjaga waktu tidur secara teratur menjadi langkah sederhana untuk membantu mempertahankan kesehatan otak dan tubuh.